wajah web201903

TATA IBADAH ONLINE

06:30 09:00 17:30

  Silahkan tab menuju HKBP Yogyakarta

 

Saturday, February 15, 2020 Sihite AAZ Renungan KhotbahMinggu 26

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu Septuagesima, 16 Februari 2020

Menomor-satukan Perintah Allah atau Adat Istiadat?

(Markus 7:1-8)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Untuk sebagian kalangan orang Batak Kristen tempo dulu, bila dituduh sebagai ‘tidak beradat’ (‘ndang maradat’ atau ‘belum diadati’) dalam kehidupan sosial, maka hal itu serasa akan membuat lebih malu daripada dituduh sebagai ‘tidak Kristen’. Adat dipahami seakan lebih tinggi dari agama (Kristen). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan: adat adalah aturan (kebiasaan) yang lazim dituruti sejak dulu. Adat-istiadat (tradisi) adalah bagian dari kebudayaan. Dan kebudayaanadalah hasil kegiatan dan ciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian,dan adat-istiadat.

Saturday, February 08, 2020 Sihite AAZ Renungan KhotbahMinggu 50

Renungan Minggu Septuagesima, 9 Februari 2020

Anda Mau Bahagia? ‘Takutlah akan TUHAN’!

(Mazmur 112:1-10)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Konteks dan realitas kehidupan dunia kita masa kini acap menggoda supaya kita kuatir, gundah, dan ‘stress’ sehingga ‘lupa bahagia’. Namun, dunia kita masa kini juga banyak menawarkan ‘resep bahagia’ atau ‘kiat berbahagia’ secara tradisi, budaya, sosial, bahkan secara agamawi dalam menjalani kehidupan ini. Menjadi pertanyaan: Apa itu bahagia dan siapa saja yang berbahagia dalam konteks kehidupan kita sekarang di era disrupsi atau era teknologi digital masa kini? Tentu ada macam-macam pikiran dan jawaban terkait bahagia.

Saturday, February 01, 2020 Sihite AAZ Renungan KhotbahMinggu 75

Renungan Minggu IV Epifani, 2 Februari 2020

9 Sabda Bahagia (Hata Hatuaon)

(Matius 5:1-12)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Apakah anda bahagia? Apakah Anda ingin bahagia? ‘Jangan lupa bahagiadan ngopi’, begitu suatu slogan dari sekelompok orang dalam mengimbangi aneka ‘tantangan kehidupan kini’. Yang menjadi pertanyaan: Apa itu bahagia dan siapa saja yang berbahagia dalam konteks kehidupan di era disrupsi atau era teknologi digital masa kini? Tentu ada macam-macam definisi, ukuran, dan batasan. Tergantung. Filsafat klasik orang Batak misalnya, menghubung-hubungkan ke-bahagia-an (hatuaon) dengan filsafat 3-H, yaitu memiliki: Hagabeon (keturunan), Hamoraon (kekayaan), dan Hasangapon (kehormatan). Bagi orang lain, tentu beda lagi.