Aku Berseru, TUHAN Menjawab!

 

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu Invocavit, 1 Maret 2020

Aku Berseru, TUHAN Menjawab!

(Matius 9:27-31)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Realitas kehidupan sosial yang sedang kita hadapi di Indonesia (dan Asia, dll.,) di antaranya adalah mengenai ketidak-adilan, kemiskinan, intoleransi (kekerasan), serangan aneka “virus”, dll. Akibatnya semakin banyak orang yang ‘menderita dan berseru minta tolong’ serta mencari aneka cara supaya memperoleh ‘pemulihan’ atau ‘penyembuhan’. Dalam Minggu Invocavit ini, melalui Firman-Nya yang diacu dari Matius 9:27-31, TUHAN hendak memastikan-ulang supaya kita sungguh percaya  (pisteùete) kepada-Nya yang memiliki kuasa (‘dynamit’) atas segala keadaan - justru di tengah umat yang semakin banyak tergoda untuk tidak lagi percaya kepada TUHAN yang Mahakuasa di era teknologi digital kini.  

Nas acuan renungan ini terkait kuasa Yesus yang menyembuhkan ke-buta-an. Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya di bilangan Galilea, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta tersebut kepada-Nya, dan Yesus berkata: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." Maka meleklah mata mereka (Mat. 9:27-30). Ada kisah yang agak mirip yakni mengenai kuasa Yesus yang menyembuhan Bartimeus, seorang pengemis yang buta, yang berseru: Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku! Anak Daud, kasihanilah aku! (Mrk. 10:47+48). Kemudian Yesus bertanya: “Apa yang kau kehendaki supaya AKU perbuat bagimu’? Orang buta itu  menjawab: Rabuni, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus:: ‘Pergilah, imanmu telah  menyelamatkan engkau!”. Maka melihatlah dia lalu mengikut Yesus (Mrk 10:51-52 dan paralelnya).

Saudara-saudari, salah satu pesan pokok yang hendak ditekankan dalam rangkaian pemberitaan Injil Matius pasal 8 s/d 9 adalah mengenai tindakan dan pelayanan Yesus yang penuh kuasa (Mat 8:1 – 9:38), yaitu: (a) Kuasa atas penyakit kusta (8:1-4); (b) Kuasa atas orang lumpuh (Mat. 8:5-13); (c) Kuasa atas demam dan setan (Mat. 8:14-17); (d) Kuasa atas laut/danau (Mat. 23-27); (e) Kuasa atas roh jahat (Mat. 8:28-34); (f) Kuasa atas dosa (Mat 9:1-8); (g) Kuasa atas kematian (Mat. 9:18-26); (h) Kuasa atas kebutaan (Mat. 9:27-31); dan (i) Kuasa atas kebisuan (Mat. 9:32-34). Nas kita terkhusus mengenai Yesus yang berkuasa atas kebutaan; yang buta jadinya melihat terang.

Nabi Yesaya menggambarkan keselamatan sebagai jenis terang (Yes. 35:5) sehingga ‘kebutaan’ melambangkan suatu kegelapan rohani dan kekerasan hati (Yes. 6:9-10; bnd. Mat. 15:14; 23:16-26; Yoh. 9:41; 12:40; Rm 2:19; dll). Dengan memulihkan mata si buta, Yesus sekaligus  memastikan tanda kedatangan Mesias, Sang Terurapi (Mat. 11:5; Luk. 7:22). Setiap orang yang menangkap dan menanggapi tanda itu, maka akan memahami bahwa Yesus adalah terang dunia (Yoh. 9:5). Melalui perjumpaan dan pengalamannya, rasul Paulus mengungkap bahwa Yesus datang untuk memulihkan kita untuk ‘melihat’ dengan sesungguhnya (Kis. 9:8,17-18; 22:11-13).

Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas renungan ini bagi kita dalam proses gumul dan juang  kita kini? Dengan cara yang sama, Allah kiranya berkenan mengubah setiap keadaan kita dari ‘kebutaan’ dan  ‘kemiskinan rohani’ ke ‘anugerah penglihatan’ supaya kita dapat ‘melihat’ jalan yang harus kita tekuni seturut pesan Firman-Nya. Dan kini Yesus bertanya-ulang kepada kita yang mengahadapi tantangan ‘kebutaan’ atau ‘kegelapan’: ‘Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?’, marilah kita jawab: ‘Ya Tuhan, kami percaya.’  Alkitab  memastikan bahwa percaya atau beriman (pistis; emét) berkait erat dengan kata kerja yang menuntut kesetiaan sampai akhir kepada TUHAN yang mengaruniakan iman melalui pendengaran akan Firman-Nya (Why 2:10c; Rm 10:17). Berserulah karena iman, maka TUHAN akan menjawab. Salam.  *AAZS*

Renungan Minggu Invocavit, 1 Maret 2020

Aku Berseru, TUHAN Menjawab!

(Matius 9:27-31)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Realitas kehidupan sosial yang sedang kita hadapi di Indonesia (dan Asia, dll.,) di antaranya adalah mengenai ketidak-adilan, kemiskinan, intoleransi (kekerasan), serangan aneka “virus”, dll. Akibatnya semakin banyak orang yang ‘menderita dan berseru minta tolong’ serta mencari aneka cara supaya memperoleh ‘pemulihan’ atau ‘penyembuhan’. Dalam Minggu Invocavit ini, melalui Firman-Nya yang diacu dari Matius 9:27-31, TUHAN hendak memastikan-ulang supaya kita sungguh percaya  (pisteùete) kepada-Nya yang memiliki kuasa (‘dynamit’) atas segala keadaan - justru di tengah umat yang semakin banyak tergoda untuk tidak lagi percaya kepada TUHAN yang Mahakuasa di era teknologi digital kini.  

Nas acuan renungan ini terkait kuasa Yesus yang menyembuhkan ke-buta-an. Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya di bilangan Galilea, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta tersebut kepada-Nya, dan Yesus berkata: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." Maka meleklah mata mereka (Mat. 9:27-30). Ada kisah yang agak mirip yakni mengenai kuasa Yesus yang menyembuhan Bartimeus, seorang pengemis yang buta, yang berseru: Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku! Anak Daud, kasihanilah aku! (Mrk. 10:47+48). Kemudian Yesus bertanya: “Apa yang kau kehendaki supaya AKU perbuat bagimu’? Orang buta itu  menjawab: Rabuni, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus:: ‘Pergilah, imanmu telah  menyelamatkan engkau!”. Maka melihatlah dia lalu mengikut Yesus (Mrk 10:51-52 dan paralelnya).

Saudara-saudari, salah satu pesan pokok yang hendak ditekankan dalam rangkaian pemberitaan Injil Matius pasal 8 s/d 9 adalah mengenai tindakan dan pelayanan Yesus yang penuh kuasa (Mat 8:1 – 9:38), yaitu: (a) Kuasa atas penyakit kusta (8:1-4); (b) Kuasa atas orang lumpuh (Mat. 8:5-13); (c) Kuasa atas demam dan setan (Mat. 8:14-17); (d) Kuasa atas laut/danau (Mat. 23-27); (e) Kuasa atas roh jahat (Mat. 8:28-34); (f) Kuasa atas dosa (Mat 9:1-8); (g) Kuasa atas kematian (Mat. 9:18-26); (h) Kuasa atas kebutaan (Mat. 9:27-31); dan (i) Kuasa atas kebisuan (Mat. 9:32-34). Nas kita terkhusus mengenai Yesus yang berkuasa atas kebutaan; yang buta jadinya melihat terang.

Nabi Yesaya menggambarkan keselamatan sebagai jenis terang (Yes. 35:5) sehingga ‘kebutaan’ melambangkan suatu kegelapan rohani dan kekerasan hati (Yes. 6:9-10; bnd. Mat. 15:14; 23:16-26; Yoh. 9:41; 12:40; Rm 2:19; dll). Dengan memulihkan mata si buta, Yesus sekaligus  memastikan tanda kedatangan Mesias, Sang Terurapi (Mat. 11:5; Luk. 7:22). Setiap orang yang menangkap dan menanggapi tanda itu, maka akan memahami bahwa Yesus adalah terang dunia (Yoh. 9:5). Melalui perjumpaan dan pengalamannya, rasul Paulus mengungkap bahwa Yesus datang untuk memulihkan kita untuk ‘melihat’ dengan sesungguhnya (Kis. 9:8,17-18; 22:11-13).

Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas renungan ini bagi kita dalam proses gumul dan juang  kita kini? Dengan cara yang sama, Allah kiranya berkenan mengubah setiap keadaan kita dari ‘kebutaan’ dan  ‘kemiskinan rohani’ ke ‘anugerah penglihatan’ supaya kita dapat ‘melihat’ jalan yang harus kita tekuni seturut pesan Firman-Nya. Dan kini Yesus bertanya-ulang kepada kita yang mengahadapi tantangan ‘kebutaan’ atau ‘kegelapan’: ‘Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?’, marilah kita jawab: ‘Ya Tuhan, kami percaya.’  Alkitab  memastikan bahwa percaya atau beriman (pistis; emét) berkait erat dengan kata kerja yang menuntut kesetiaan sampai akhir kepada TUHAN yang mengaruniakan iman melalui pendengaran akan Firman-Nya (Why 2:10c; Rm 10:17). Berserulah karena iman, maka TUHAN akan menjawab. Salam.  *AAZS*

wajah web201903

Login Form