‘Masa dan Meriba’

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu Reminiscere, 8 Maret 2020

‘Masa dan Meriba’

(Keluaran/2 Musa 17:1-7)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. ‘Minggu Reminiscere’ hendak mengajak kita supaya ‘melawan lupa’, tetapi ‘mengingat’! Mengingat apa? Mengingat rahmat dan kasih-setia TUHAN yang sudah ada sejak purbakala (Mazmur 25:6); dan itulah ‘reminiscere’ yang artinya: ‘mengingat’, yakni mengingat kebaikan dan pemeliharaan TUHAN. Kalaupun ada istilah ‘lupa’, biarlah TUHAN me-lupa-kan dosa-dosa dan pelanggaran-pelanggaran kita (Mzm. 25:7).

Nas acuan dari Kitab Keluaran 17:1-7 antara lain hendak menekankan agar umat dan orang beriman mengingat TUHAN yang berkuasa memelihara proses kehidupan umat-Nya kendati dalam kondisi dan situasi apapun. Dengan demikian, nas ini sekaligus melarang orang beriman bersungut-sungut, apalagi ‘mencobai’ atau ‘bertengkar dengan’ TUHAN sebagaimana umat Israel yang bersungut-sungut, mencobai, dan bertengkar dengan TUHAN dalam proses perjalanan di padang gurun yaitu di Masa dan Meriba, di seputaran perkemahan di Rafidim. Secara ensiklopedis Alkitab, ‘Masa’ artinya ‘mencobai’ atau ‘pencobaan’; ‘Meriba’ artinya ‘bertengkar’ atau ‘berselisih’. Dua nama tersebut terdapat secara bersamaan dan berkait dengan peristiwa dan tempat tersebut (Kel. 17:7; Mzm. 95:8). Dalam proses perjalanan umat Israel di padang gurun menuju Tanah Terjanji (Kanaan), saat umat kekurangan dan tidak memperoleh air, mereka ‘bertengkar’ dengan Musa dan ‘mengugat’ kepemimpinan Musa yang diutus Allah. Umat bersungut kepada Musa: "Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum; dan mengapa engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?" (Kel. 17: 2-3). Lalu Musa berkata: "Mengapakah kamu bertengkar dengan aku dan mencobai TUHAN?" Lalu TUHAN bersabda kepada Musa: ‘Bawalah juga di tanganmu tongkatmu. Haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum." Demikianlah diperbuat oleh Musa, lalu keluarlah air dari gunung batu itu sehingga bangsa itu dapat minum (Kel. 17:5-6). Dan “dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, karena orang Israel telah bertengkar dan telah mencobai TUHAN dengan berkata: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?", begitu kata Alkitab (Kel. 17:7). Sekadar info bahwa Alkitab mencatat umat Israel kerap ‘bertengkar’ dengan Allah; karena itulah istilah ‘Mara dan Meriba’ kembali disebut-sebut (Bil. 20:7-13; 27:14; Ul. 32:51; Mzm. 106:32).

Saudara-saudari, Alkitab Perjanjian Baru mengungkap bahwa ‘gunung batu’ menunjuk kepada ‘batu karang rohani’ yang disamakan dengan Yesus Kristus sebagai sumber air kehidupan (1Kor. 10:4). Seperti batu karang ‘dipukul’, demikian juga Yesus Kristus ‘dipukul’ oleh kematian di kayu salib (Yes. 53:5). Dan sebagaimana Yesus sebagai Mesias (Kristus) menjadi sumber berkat bagi umat Israel, maka Dia juga menjadi sumber berkat yang turut mengaruniakan Roh Kudus kepada Gereja dan orang-orang beriman serta generasi yang akan beriman kemudian.

Saudara-saudari, dalam menghadapi tantangan kehidupan kita masa kini, seperti ketidak-adilan dan kekerasan, intoleransi, korupsi, krisis ekologis, dan aneka “virus ganas” – termasuk virus corona (covid-19) yang turut mengganggu relasi umat dan pertumbuhan ekonomi dunia, mungkin saja kita dalam ‘penderitaan’ ini tergoda mengulang kisah ‘Mara dan Meriba’ dengan ‘bersungut’ dan berkata: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" Sebagai orang beriman kepada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, marilah percaya dan mengingat TUHAN yang berkuasa mengubah keadaan ke arah kebaikan - pun dalam situasi yang penuh keraguan dan ketidak-pastian. Dan marilah ‘mengolah’ realitas kehidupan ini menjadi sebentuk ‘mazmur gumul dan pujian’ bagi TUHAN yang bekerja terus mendatangkan keselamatan dan kebaikan untuk kita. Jangan pernah lupa mengingat rahmat dan kasih-setia TUHAN untuk Anda. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form