TUHAN Pengharapanku

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu Okuli, 15 Maret 2020

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dalam suatu artikel yang berjudul: ‘Ketahanan Jiwa Remaja Kita’, ditulis oleh Nova Riyanti Yusuf, seorang Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa di DKI Jakarta, meneliti dan mengatakan bahwa “... Remaja sebagai sumber daya manusia (SDM) Indonesia rentan untuk bunuh diri. Bahkan bunuh diri ini dapat menular(Kompas, 10 Oktober 2019, hlm. 6). Hasil penelitian sebelumnya bersama Kementerian Kesehatan tahun 2015 – dengan responden 941 pelajar SMU/SMK berusia 13-18 tahun di DKI Jakarta - mencatat bahwa:  problem emosional sejumlah 20,5 %; gejala depresi 30,39 %; ide bunuh diri 18,6 %. Berdasarkan hasil penelitian tersebut kiranya menjadi suatu peringatan serius supaya kita bersama Gereja turut memberi pendampingan dalam proses pertumbuhan iman, karakter, dan emosional para remaja (bajarbajar) dan kaum muda (naposobulung) ke arah keutamaan-keutamaan Kristen, yakni supaya: (a) beriman; (b) berpengharapan; dan (c) berbelas-kasih dalam menghadapi ‘penderitaan zaman now’ yang sarat ketidak-adilan, kekerasan, intoleransi, ujaran kebencian, keputus-asaan, dll.        

Nas renungan Minggu Okuli (‘Minggu Mata’) ini diacu dari Kitab Roma pasal 8 yang memiliki suatu pesan yang mendalam. Di antaranya hendak mengajarkan tentang bagaimana orang beriman (Kristen) perlu melihat dengan ‘mata rohani’ mengenai kehidupan yang dipimpin dan dicerahi oleh Roh yaitu Roh Allah (Roh Kudus) dalam rangka menghadapi derita dan sengsara kedagingan, tetapi terutama hendak menyukuri karya Roh Allah bagi orang beriman. Kitab Roma pasal 8 ini menjadi semakin penting untuk kita pahami karena menjadi salah satu bab terlengkap mengenai siapa dan bagaimana Roh Allah berkarya dalam kehidupan orang beriman. Istilah Roh (yang menunjuk pada Roh Allah yaitu Roh Kudus) muncul 19 kali, yang antara lain menegaskan bahwa Roh Allah telah bersaksi dengan roh kita untuk menjadikan kita sebagai anak-anak Allah supaya kelak kita mewarisi kemuliaan sorgawi. Disebutkan bahwa Roh itulah yang memampukan kita menyapa Allah sebagai Bapa: “Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’ Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris - yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Roma 8:14-17). Nas ini hendak mengajak kita supaya ‘mengalami’ karya Roh yang ‘mengadopsi’ kita menjadi anak-anak Allah. Gelar ‘anak-anak Allah’ adalah suatu anugerah sekaligus tanggung-jawab yang menuntut supaya kita memancarkan citra Allah melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan terbaik seturut pesan Sabda-Nya.

          Saudara-saudari, dalam nas acuan renungan ini, kita juga menemukan 6 kali istilah terkait  ‘pengharapan justru dalam menghadapi rangkaian penderitaan orang beriman dan segenap makhluk yang bersama-sama merindukan ‘pembebasan’ dari ‘penderitaan zaman ini’ dalam  menyongsong ‘kemuliaan yang akan dinyatakan’ kelak (Rm 8:18). Pengikut Yesus dan orang beriman ‘dipanggil bersekutu dengan sengsara Kristus’ dan dibutuhkan ‘pengharapan dan ‘ketekunan bahkan ‘kesetiaan sampai akhir’ di dalam Yesus yang telah meninggalkan teladan supaya kita mengikuti jejak-Nya (Rm 4:18; 8:20-21,38; 1 Ptr. 2:19-21). Pengharapan adalah suatu pemberian Allah oleh kekuatan Roh Kudus sebagai ‘buah sulung’ (first-born) dari kemuliaan (2 Tes 2:16; Rm 8:23; 15:13). TUHAN (Yahwe) sendiri adalah harapan bagi umat-Nya (Mzm 71:5; Yer. 14:22b; Yes 8:17; Mika 7:7) dan bagi Indonesia serta dunia yang sedang berusaha mengatasi pandemik virus corona (Covid-19). Karena itu, dalam menjalani proses penderitaan ini, marilah kita beriman, berpengharapan, dan berbelas-kasih  karena Kristus Yesus (1 Kor 13:13). Salam pengharapan. *AAZS* 

wajah web201903

Login Form