‘Kamis Putih’ Dalam Konteks Tragedi Pandemi Covid-19

HKBP Yogyakarta Online,

Suatu Renungan Situasional,

Kamis Putih (Maundy Thursday), 9 April 2020

‘Kamis Putih’

Dalam Konteks Tragedi Pandemi Covid-19

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dalam keadaan darurat karena pandemi virus corona (covid-19) ini, saya hendak menyapa-ulang Saudara/i di lingkungan HKBP Resort Yogyakarta (Huria Jogja, Magelang dan Klaten): para Majelis dan warga Jemaat, Parompuan/Ama/Lansia (Ibu/Bapak), Naposobulung, Mahasiswa, Pelajar/Remaja, Anak-anak Sekolah Minggu bahkan para pendengar dan pemerhati serta pecinta HKBP Resort Yogyakarta di mana pun berada, kiranya dalam penyertaan, perlindungan, dan pertolongan TUHAN. Biasanya ‘partangiangan/ibadah malam passion’, kita selenggarakan berkali-kali secara berjemaat di Gereja. Namun dalam konteks tragedi pandemi covid-19 ini, ‘partangiangan passion’ jadinya kita laksanakan di rumah aja, di tengah keluarga, di tempat masing-masing, yang kita yakini TUHAN hadir dalam persekutuan yang kecil atau pribadi.

         Saudara-saudari, fokus “partangiangan passion” kali ini kita laksanakan pada ‘Kamis Putih’. Istilah Kamis Putih memang kurang populer di telinga warga dan jemaat HKBP, tetapi pesan intinya adalah sama yaitu hendak menghayati penderitaan dan sengsara Yesus untuk kebaikan umat. Dalam bahasa Inggris klasik, ‘Kamis Putih’ disebut Maundy Thursday’ (‘Kamis Amanat’) yang diserap dari kata Latin: mandatum yang artinya ‘perintah-amanat’. Acuan teksnya dari Injil Yohanes 13:34 – saat Yesus bersabda: Aku memberikan perintah (mandatum) baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Perintah ini sebagai penutup narasi Yesus yang rela merendahkan diri untuk membasuh kaki murid-murid-Nya. Yesus adalah TUHAN dan Guru Agung yang meninggalkan teladan sempurna untuk mengasihi tanpa pamrih. Terinspirasi dari pesan Yesus (Yoh. 13:12-15), maka dalam acara ibadah Sabtu Sunyi, 20 April 2019 menjelang Paskah, Pendeta HKBP Jogja melakukan sebentuk tindakan membasuh kaki untuk para pelajar sidi yang hendak diteguhkan dan juga kepada para penatua di depan altar gereja.

         Saudara-saudari, di malam terakhir sebelum Yesus disalibkan, Yesus menetapkan Amanat Perjamuan Malam bersama murid-murid-Nya (Mat. 26:26-29) yang ‘kiranya boleh kita sambut secara batin penuh kerinduan’ sebelum Sakramen Perjamuan Kudus kita terima nanti secara berjemaat bila keadaan sudah pulih. Kemudian di taman Getsemani, Yesus bergumul, merasa sedih, gentar, dan merasa seperti mau mati; dan peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Dalam perasaan berkecamuk sedemikian, Yesus sujud dan berdoa: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki" (Mat. 26:37-39; Lk. 22:39-46). Pesan dan relevansi dari doa dan pergumulan Yesus ini hendak mendesak kita supaya terus belajar meneladani dan taat total kepada kehendak Allah yang senantiasa jauh lebih baik dan agung. Dengan keterlibatan Yudas yang “menggadaikan” Yesus seharga 30 keping perak, akhirnya pada malam itu, Yesus ‘ditangkap dan diserahkan’ untuk diadili/disalibkan; kemudian Petrus menyangkal Yesus dan para murid tercerai berai; Yudas menyesal dan melemparkan uang perak yang diterimanya dan kemudian bunuh diri.

         Saudara-saudari, kiranya keheningan di ‘tiga hari suci pada pekan menjelang fajar paskah’ yaitu: Kamis Putih (Maundy Thursday), Jumat Agung (Good Friday), dan Sabtu Suci (Holy Saturday) – dapat menghantar kita untuk memaknai-ulang sengsara dan pengorbanan Yesus dalam kaitannya dengan konteks pergumulan sosial kita yang memprihatinkan di era pandemi virus corona. Yaitu, supaya kita: (a) mengingat kemurnian belas-kasih Allah melalui sengsara dan pengurbanan Yesus di masa lalu (dimensi anamnesis); (b) menghadirkan wajah Yesus yang rendah hati dan penuh belas-kasih yang mengajak kita untuk melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita kerjakan “sekarang”, antara lain dengan menolong sesama yang amat membutuhkan di sekitar kita di masa sulit ini. Aksi diakonia dan marturia gerejawi kita sedang diuji dan mari kita kerjakan dengan ikhlas dan gembira, sembari menghayati makna doa agung yang diajarkan oleh Yesus. Pada kesempatan ini, kita turut menghargai para pahlawan kemanusiaan yang turut berkarya di garda terdepan untuk menolong para pasien/korban yang menderita karena terpapar virus corona dan kita juga turut menghargai para pejuang keadilan dan hak asasi manusia (dimensi eksistensial); dan akhirnya supaya kita senantiasa: (c) berpengharapan sampai Kristus datang dengan cara-Nya untuk memulihkan keadaan dan mengakhiri sejarah dunia (dimensi eskatologis).

         Saudara-saudari, kita berharap dan berdoa kiranya TUHAN melanjutkan belas-kasihNya kepada kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia dan dunia agar kita dapat melewati tragedi pandemi virus corona ini sehingga keadaan menjadi pulih secara berjemaat, nasional, dan global, karena Yesus Kristus yang Maha-kasih dan pengampun. Salam. *AAZS* 

wajah web201903

Login Form