Jiwa yang ‘Merindukan Perjumpaan dengan Allah’

 

HKBP Yogyakarta Online,

Suatu Renungan Situasional, Minggu Quasimodogeniti, 19 April 2020

Jiwa yang ‘Merindukan Perjumpaan dengan Allah’

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Pada era pandemi virus corona (covid-19) ini, agama-agama ternyata turut rentan, tidak kebal, dan bahkan agama-agama seolah-olah “mati gaya”. Tidak terpikirkan sebelumnya bahwa rumah-rumah ibadah menjadi sepi dari kegiatan dan perayaan agama secara masal/berjemaat. Karena untuk sementara waktu, kita ‘dirumahkan’ untuk beribadah secara keluarga/pribadi. Namun demikian, sebagai orang beriman kepada Yesus Kristus, marilah kita ‘belajar untuk mengalami perjumpaan yang baru dengan TUHAN’ pun dalam kesepian, kesendirian, dan keheningan yang bermakna; kali ini tidak dalam ritual berjemaah yang sedang kita rindukan pulih kembali. Sesungguhnya, TUHAN dapat hadir dalam hati orang beriman, seperti ada tertulis: “Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor. 3:16-17; 6:19). Dan supaya kita menyembah Allah dalam Roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24).

Saudara-saudari, dunia kita masa kini sedang ‘berperang’ menghadapi pandemi (pagebluk) virus corona (covid-19) yang telah melanda 210 negara di dunia  dengan jumlah kasus 2.250.119 orang, kematian 154.241, dan kesembuhan 571.577 orang, seturut data dari situs worldometers, per 18/4/2020 pagi. Presiden Jokowi telah menetapkan dampak pandemi covid-19 sebagai bencana nasional di Indonesia. Karenanya, marilah bersatu melawan pandemi virus corona ini dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah Indonesia dan WHO. Baik tim kesehatan maupun warga masyarakat adalah sama-sama garda terdepan dalam upaya melawan dan mencegah penyebaran virus corona.

Dampak pandemi (pagebluk) covid-19 ini telah turut  menambah penderitaan dan kesedihan dunia serta mengganggu keterlibatan sosial. Karena itu, biarlah TUHAN yang bicara pada nurani kita dan TUHAN kiranya berbelas-kasih untuk mengampuni kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia. Dan marilah mengambil ‘pelajaran rohani yang bermakna’ sampai kita menyadari-ulang makna perjumpaan berjemaat dan ruang publik sebagai ‘harta berharga’ yang ‘hilang’ selama pandemi covid-19.

Saudara-saudari, Alkitab mencatat tentang bagaimana kerinduan hebat dari seorang pemazmur yang diumpamakan ‘seperti rusa yang merindukan sungai yang berair’, demikianlah jiwaku merindukan perjumpaan dengan Allah, karena jiwaku haus kepada Allah yang hidup, yang menolong dan menyembuhkan jiwa yang tertekan (Mzm. 42:1-6). Melalui pandemi virus corona ini kiranya juga menjadi peringatan baru supaya dunia ini mau menyadari dosa-dosa ekologis yang menguras (mengeksploitasi) kekayaan alam; kemudian dunia mau bertobat dengan menjunjung keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan (justice, peace, and integrity of creation) sebagaimana pernah digencarkan melalui Sidang Raya Dewan Gereja Dunia (WCC) tahun 1983 di Vancouver, Canada.

Saudara-saudari, dampak pandemi covid-19 yang telah memukul keras ekonomi negara-negara di  dunia telah memberi dampak buruk, termasuk di Indonesia. Sekarang dunia membutuhkan air dan roti, bukan produksi senjata dan perang. Memakai istilah dari seorang sahabat, kini tiba saatnya supaya kita tergerak untuk: (a) Membukalumbung-lumbung kemurahan hati kita; (b) Membukagudang-gudang kepedulian kita; dan (c) Membukatabungan cinta kasihkita untuk kita gunakan bersama, khususnya dengan mereka yang amat mengalami kesulitan dan kesedihan. Ini adalah salah satu cara ‘mengatasi bayang-bayang kematian’ melalui sebentuk aksi diakonia yang ‘pro kehidupan’. Dan marilah kita dukung dalam doa dan aksi, semampu kita, dengan ikhlas dan gembira, tanpa paksaan

Saudara-saudari, berkait dengan rangkaian Minggu-minggu Paskah, khususnya Minggu ‘Quasimodogenitiyang artinya: ‘seperti bayi yang baru lahir’ - yang haus akan susu yang murni dan yang rohani demi pertumbuhan dan keselamatan. Pesan rohaninya, antara lain hendak menekankan bahwa iman kepada kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati - telah ‘melahirkan kita kembali’ (‘manubuhon hita paduahalihon’) kepada kehidupan yang baru dan penuh harapan untuk menerima bagian yang tidak dapat binasa, tidak dapat cemar, dan  tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi orang beriman kepada-Nya (1 Ptr. 1:3-4; 23; 2:2; Rm 6:3-4). Karena itu, marilah menjadikan Firman Allah sebagai santapan harian kesabaran yang memampukan kita bertumbuh ke arah kedewasaan iman di dalam Yesus Kristus yang telah menunjukkan keagungan kasih-Nya melalui peristiwa salib, dan yang telah meninggalkan teladan bagi kita supaya kita mengikuti jejak-Nya. Marilah kita saling meneguhkan di masa-masa sulit sekarang ini karena Yesus Kristus. Salam dari HKBP Resort Jogja. TUHAN memberkati, melindungi, dan memulihkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia. Amen. *AAZS*

wajah web201903

Login Form