Allah Berhati yang Peka Terhadap Derita Umat

 

HKBP Yogyakarta Online,

Suatu Renungan Situasional, Minggu Misericordias Domini, 26 April 2020

Allah Berhati yang Peka Terhadap Derita Umat

Saudara/Saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dari HKBP Resort Yogyakarta, saya hendak menyapa kembali para pemerhati dan pendengar, dan secara khusus warga dan majelis jemaat serta pecinta HKBP Resort Yogyakarta, di mana pun berada pada masa-masa sulit ini, kiranya kita semua tetap berpengharapan dan percaya akan penyertaan, pertolongan, dan belas-kasih dari TUHAN.

Dalam konteks bangsa Indonesia yang majemuk, khususnya kepada Saudara/i umat Muslim, kami dari HKBP Resort Yogyakarta, dengan ikhlas turut mengucapkan: Selamat Menunaikan Ibadah di Bulan Suci Ramadhan tahun ini. Semoga proses pengalaman berharga dalam perjalanan sesama anak bangsa sekarang ini, turut meningkatkan solidaritas kemanusiaan dan merawat tenunan kebangsaan kita di Indonesia tercinta ini. Pada kesempatan ini juga, HKBP Resort Yogyakarta turut mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah pusat dan daerah yang sedang bekerja untuk kebaikan, kesehatan, dan kesejahteraan bangsa kita, Indonesia yang sedang berperang melawan wabah yang meresahkan ini. TUHAN melindungi Indonesia.

Saudara/Saudari, bersama umat manusia di dunia yang kini berpenduduk 7 miliar lebih, kita sedang menghadapi suatu tantangan kemanusiaan’ dan secara khusus menjadi ujian iman bagi Gereja kita karena wabah (pandemi) virus corona (covid-19) yang sedang melanda dunia. Akibatnya, antara lain kita jadinya - untuk sementara waktu - menjalani masa darurat peribadatan di masing-masing keluarga sebagai eklesiola (‘gereja mini’) yaitu bagian dari Eklesia (Gereja). Dampak wabah ini turut menghantam ekonomi dunia yang membuat bangsa-bangsa semakin menderita sehingga kini kita semakin menyadari keterbatasan dan kerapuhan bahkan ketakutan kita di masa sulit dan pencobaan sekarang ini (1 Ptr. 1:6; Rm 12:12). Karena itulah, kita butuh pertolongan dan belas-kasih (kerahiman) secara baru dari TUHAN yang ber-panjang sabar dan berlimpah kasih setia (4 Musa 14:17-19; Mzm 103:8). Dan semoga kita beroleh ‘ampun’ dan ‘dimampukan’ oleh TUHAN untuk melewati tantangan dan ujian tersebut.

Saudara/Saudari, menurut Kalender Liturgi Gerejawi, kini kita memasuki dan menghayati Minggu Misericordias Domini, yang artinya: Allah memiliki hati yang peka terhadap penderitaan umat manusia yang lemah, ringkih, dan tak berdaya. Alkitab berulang-kali mengungkap bahwa belas-kasih dan kemurahan hati adalah sifat khas Allah yang tak tertahankan-Nya; Ia berpanjang sabar dan kasih setia-Nya berlimpah (Kel. 33:19; Bil. 4:18; Luk. 1:50+54; Mat. 9:36; 14:14; Mrk. 6:34; 15:32; Mrk. 8:2; Rm 9:15-16ff; 8:32; 11:32; 1 Ptr 1:3). Sebab itu, kita percaya bahwa di masa wabah ini pun Allah setia menyertai dan memberi anugerah-Nya dalam rangka memulihkan dan menyelamatkan kita bersama umat—Nya dengan mengandalkan iman kepada Yesus yang telah menderita sengsara, wafat, dan bangkit. Rasul Paulus - melalui Surat Roma - mengembangkan teologi anugerah (gratia) yang dilanjutkan oleh Bapa Gereja Agustinus dari Hippo (354-430) dan akhirnya dipopulerkan oleh Martin Luther (1483-1546) dengan tesis Sola Gratia (hanya anugerah saja) dan juga karena iman seturut Firman-Nya sebagai jalan beroleh pembenaran dan keselamatan dari Allah. Tuhan Yesus menghendaki supaya kita orang beriman memberi tanggapan bermakna dalam keseharian kita agar kita menjadi pelaku belas-kasih, menjadi parasi roha sebagai bagian dari sifat khas dari setiap kita - seturut pesan Sabda-Nya: “… Hendaklah kamu murah hati sama seperti Bapamu yang di sorga adalah murah hati!” (Luk. 6:36; Mat. 9:13a; Mzm. 112:5; Mika 6:8; Rm 1:1-31).

Saudara/Saudari, marilah belajar memahami masa pencobaan yang sulit ini sebagai suatu kairos dari TUHAN yaitu sebagai suatu ‘kesempatan khusus yang ditentukan dalam rencana indah dari TUHAN’ supaya kita tanggap dan kreatif dalam ibadah dan aksi diakonia sehingga kita semakin bergiat melakukan berbagai kebaikan dan aksi belas-kasih sebagai suatu cara menata masa depan bersama. Berkait dengan hal ini, mohon maklum bila saya memakai kembali istilah dari seorang sahabat yang mengajak kita untuk: (a) Membukalumbung-lumbung kemurahan hati kita; (b) Membukagudang-gudang kepedulian kita; dan (c) Membukatabungan cinta kasihkita untuk kita gunakan bersama dengan mereka yang mengalami kesulitan dan kesedihan. Dan marilah kita lawan dan cegah ‘virus ketidak-pedulian terhadap derita sesama yang mungkin menggoda kita di masa pencobaan yang sulit ini. Namun dalam situasi ini, kita turut beryukur dan gembira karena semakin bertambah aksi solidaritas kemanusiaan di antara kita, dan kita berharap dapat berlanjut dan terlaksana dengan ikhlas dan gembira dengan meneladani karya agung dari Tuhan Yesus Kristus yang lebih dulu menderita dan menyatakan belas-kasih, solidaritas, dan kesetiaan-Nya kepada umat yang menderita. TUHAN memberkati, melindungi, dan memulihkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia. Amen. *AAZS*

wajah web201903

Login Form