‘Pesan Minggu Jubilate di Balik Musibah Covid-19’

HKBP Yogyakarta Online,

Suatu Renungan Situasional, Minggu Jubilate, 3 Mei 2020

‘Pesan Minggu Jubilate di Balik Musibah Covid-19’

Saudara/i yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dari HKBP Resort Yogyakarta, saya hendak menyapa kembali para pemerhati dan pendengar yang saya hormati, juga majelis dan warga jemaat serta para pecinta HKBP Resort Yogyakarta, di mana pun berada pada masa-masa sulit ini, kiranya kita semua tetap berpengharapan dan percaya akan penyertaan, pertolongan, dan belas-kasih Tuhan.

Saudara-saudari, pandemi virus corona (covid-19) telah mengakibatkan terjadinya krisis yang buruk terhadap sisi kehidupan manusia di dunia ini. Fakta dan dampak penyebaran yang timbul karena musibah virus corona ini hendak menegaskan bahwa sebagai manusia, kita adalah satu dan saling terhubung secara global di dunia yang kita diami ini. Karena itu, marilah kita sadar konteks di era saling-terhubung ini serta mewaspadaivirus ketidak-pedulian’ dan ‘virus egoisme’ yang mungkin turut mengintai kita di era pagebluk (era pandemi covid-19) ini. Kita makin menyadari bahwa virus corona (covid-19) ini sebagai ‘musuh bersama’. Dan karena itu, sebagai warga negara dan masyarakat, marilah kita perangi secara bersama pula. Karena itu, kerja-sama adalah suatu pilihan yang tepat untuk mengatasi dampak covid-19, antara lain dengan turut mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia dan Badan Kesehatan resmi. Semoga TUHAN memberi kita hikmat sorga dan rahmat kehati-hatian serta semangat saling tolong-menolong menghadapi kesulitan dan kesedihan ini.

Saudara/Saudari, di masa darurat peribadatan ini, memungkinkan altar Gereja “berpindah” ke rumah warga jemaat dalam rangka ibadah di tengah keluarga sebagai eklesiola sebagai ‘gereja mini’. Sesuai Kalender Liturgi Gerejawi, dalam rangkaian Minggu-minggu Paskah yang berdurasi 40 hari, kini secara khusus kita hendak menghayati pesan Minggu JUBILATE – kali ini dalam konteks pandemi covid-19. Minggu Jubilate hendak mengajak kita ‘supaya seluruh bumi bersorak-sorai bagi Allah, ‘asa marolopolop tu Debata sandok tano on’ (Mzm 66:1). Secara ensiklopedis, kata ‘jubilate’ atau ‘yubilium atau iubilaios - dari akar kata Ibrani Yovel atau Yobel - yang arti harfiahnya: ‘domba jantan, mengacu pada ‘terompet’ – yang awalnya diolah dari tanduk domba jantan – dengan mana tahun itu dirayakan dan puncak Tahun Sabat dicapai pada setiap tahun ke-50 – yang dinamai sebagai TAHUN YOBEL. Konteks aslinya bahwa inti perayaan Tahun Yobel adalah memeringati dan menyukuri karya agung hebat dari TUHAN Allah yang telah membebaskan dan menyelamatkan umat-Nya (Israel) dari perbudakan Mesir, kekerasan, dosa, dan maut hingga menibakan mereka di tanah terjanji yaitu Tanah Kanaan yang penuh berkat. Sebagai tanda bagi umat yang diselamatkan, TUHAN memberi Hukum Taurat, Tata Tertib Sosial dan Hukum Tanah untuk ditaati. Dasar Teologi Jubileum ini adalah Sabda TUHAN yang dicatat dalam Kitab Imamat dan Injil (Im. 25; Yes. 61:1-3; Luk. 4:18-19, Mzm. 66).

Bagi umat TUHAN dalam Perjanjian Baru bersama Gereja bahwa Perayaan Minggu Jubilate mendapat isi baru yakni menyukuri karya agung Yesus Kristus melalui peristiwa salib dan kebangkitan-Nya yang membebaskan dan menyelamatkan segenap orang beriman bahkan alam ciptaan (Yoh 3:16; Kol. 1:20). Sehingga relevansi atau penerapan Minggu Jubilate dalam konteks musibah karena covid-19 ini adalah supaya kita turut menjadi rekan sekerja Allah melalui doa dan aksi untuk mencegah dan membebaskan umat dari rangkaian penindasan, kekerasan, pemerasan/eksploitasi, ketidak-adilan, ketidak-pedulian, serta turut merawat keseimbangan dan keutuhan alam ciptaan. Kendati dunia kita kini mengalami krisis secara ekonomi, tetapi secara ekologis kita turut gembira untuk sementara, sebab udara menjadi lebih bersih di banyak kota besar di belahan dunia seperti di Jakarta misalnya, karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau karena ‘lockdown’ sehingga, antara lain membuat puncak gunung Himalaya yang tersohor itu menjadi tampak dari kejauhan dari jarak 200 km, dari Punjab - India, suatu pemandangan yang telah hilang selama 30-an tahun; bahkan kita ikut senang karena dikabarkan bahwa lubang lapisan ozon - yang sempat membesar di Kutub Utara karena klorofluorokarbon (CFC) - pada awal bulan April lalu telah tertutup – begitu identifikasi para ilmuwan.

Saudara/i, karena itu marilah memetik ‘hikmah di balik musibah virus corona’ ini sebagai suatu kesempatan untuk melihat rencana indah dari TUHAN agar kita kemudian dimampukan untuk menata kembali dunia kita, khususnya menata-ulang hati dan batin kita serta persekutuan, kesaksian, pelayanan, dan ekonomi serta budaya kita supaya semakin benar, semakin baik, semakin manusiawi, semakin adil dan damai serta semakin berwawasan lingkungan hidup. Dan bagi warga jemaat yang ‘merasa sepi’ atau ‘merasa sendirian’ karena dampak tragedi covid-19 yang turut mempengaruhi model (paradigma) beribadah kita, marilah meyakini bahwa melalui kuasa misteri dari Roh Kudus, sesungguhnya TUHAN senantiasa hadir memberkati, menyertai, mengajar, dan menghibur kita. Dan kini DIA mengajak kita untuk bersorak-sorai di dalam TUHAN yang membebaskan dan memberi jaminan hidup kita, pun di masa sulit yang penuh keraguan dan ketidak-pastian ini. (Mat. 28:20b; Yoh. 14:16-17,26; Mzm. 66:1; 1 Taw 16:31-36). Salam Jubilate. TUHAN memberkati dan melindungi. Amen. *AAZS*

wajah web201903

Login Form