‘Pesan Minggu Kantate’ di Balik Wabah Covid-19

HKBP Yogyakarta Online,

Suatu Renungan Situasional, Minggu Kantate, 10 Mei 2020

‘Pesan Minggu Kantate’ di Balik Wabah Covid-19

Saudara/i yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya, Pdt Amir Zaitun Sihite, dari HKBP Resort Yogyakarta, hendak menyapa kembali para pemerhati dan pendengar yang saya hormati, di mana pun berada, kiranya kita semua tetap berpengharapan dan percaya akan penyertaan, pertolongan, dan belas-kasih TUHAN. Dan bagi mereka yang menderita sakit atau bergumul karena berbagai penyakit dan kesusahan yang lain, kiranya TUHAN berkenan memulihkan. Dan bagi mereka yang berduka, TUHAN kiranya menghibur serta meneguhkan iman keluarga. Kita bersyukur kepada TUHAN yang sedang memberi hikmah dan kesadaran yang baru supaya kita: semakin beriman, semakin bermurah-hati, dan semakin peduli dengan lingkungan hidup di dunia yang sedang menderita karena dampak dari wabah virus corona ini.

Saudara/i, sesuai Kalender Liturgi Gerejawi yang masih berkait dengan penghayatan akan Minggu-minggu Paskah, kini secara khusus kita hendak menghayati Minggu KANTATE – kali ini dalam konteks wabah covid-19. Secara ensiklopedis, kata Latin: ‘kantate’ artinya ‘bernyanyiatau ‘menyanyi’. Minggu KANTATE hendak mengajak kita bersama orang beriman supaya: “Menyanyikan nyanyian baru’ yang bertujuan untuk memuliakan TUHAN (Mzm 98:1; Ibr. 13:15). Dalam ibadah, hendaknya kita bernyanyi dengan hati, roh, dan indera di hadirat TUHAN sebagai ‘Pendengar Tunggal’. Isi nyanyian baru adalah memuliakan TUHAN Allah yang telah melakukan karya penebusan yang ajaib dan dahsyat, adil dan benar di antara bangsa-bangsa dengan menyatakan kasih paling agung melalui peristiwa Yesus Kristus yang menjadi Jurus’lamat bagi orang beriman dan dunia (Mzm. 98:1-9; Yoh. 3:16; Rm 1:16-17). Isi ‘nyanyian baru’ yang dimaksud mestilah berpusat pada nama dan karya TUHAN yang mencipta, yang menebus ciptaan, dan yang menguduskan ciptaan-Nya. ‘Nyanyian baru’ tersebut adalah sekaligus menggantikan ‘nyanyian lama’ yang berisi dosa dan pemberontakan, permusuhan dan kekerasan karena cara hidup manusia lama. Tetapi karena belas-kasih dari TUHAN, maka ‘nyanyian lama’ sudah berlalu dan kini ‘nyanyian baru’ telah datang. Orang yang beriman kepada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, mestilah hidup dalam ‘nyanyian baru’ yang dirangkai dengan ‘cara hidup baru’: yaitu apa yang kudus dan berkenan kepada Allah.

Saudara-saudari, mari kita pastikan bahwa TUHAN Allah dalam nama Yesus Kristus dan Roh Kudus adalah pusat ibadah dan nyanyian rohani orang beriman seturut pesan Firman-Nya. Karena itu, kita mesti waspada dan selektif agar nyanyian dan musik yang berpusatkan pada ‘selera manusia’ yang ‘dimasukkan’ dalam ibadah, supaya kita cegah dan seleksi. Mari kita bedakan antara lagu gerejawi yang berpusat pada TUHAN dan lagu sekuler yang berpusat pada manusia dan alam.

Saudara-saudari, pada Minggu Kantate ini, secara khusus kita bersyukur kepada TUHAN yang telah mengaruniakan ilham mulia dan talenta musik kepada hamba-Nya untuk mencipta lagu/hymne Gerejawi dalam perjalanan sejarah, sehingga turut membantu orang-orang beriman dalam ibadahnya supaya dapat merasakan dan menghayati kebaikan Allah. Berkait dengan lagu-lagu rohani/gerejawi, antara lain kita mengapresiasi gubahan Pemazmur dalam Alkitab; kemudian karya-karya terbaik dari para maestro kelas dunia, seperti G.F. Handel; J.S Bach; L. van Beethoven; Martin Luther; Charles Wesley, dst. Dari lingkungan warga Batak, antara lain kita turut mengapresiasi karya-karya terbaik bersama para maestro Alfred Simanjuntak, E.L.Pohan, Siddik Sitompul alias S.Dis, Pensilwally, JAU Doloksaribu, Bonar Gultom alias Gorga, A.K. Saragih, Pontas P. Purba, Mercy Tampubolon-Tobing, dll. Dalam konteks umum yang bernuansa budaya, sosial, atau -nasional, antara lain kita turut mengapresiasi karya-karya musik/lagu terbaik dari para maestro seperti Wage Rudolf Supratman, Cornel Simanjuntak, Nortier Simanungkalit, Liberty Manik Siketang. Sekadar info bahwa dua nama terakhir (Nortier Simanungkalit, Sang Komponis Otodidak, sementara Liberti Manik, lulusan doktoral dengan predikat Cum Laude dari Universitas di Jerman); mereka berdua, dulu pernah aktif cukup lama mendampingi musik gereja di HKBP Yogyakarta.

Saudara-saudari, akhirnya marilah memohon hikmat dan kekuatan dari TUHAN agar memampukan segenap hati, jiwa, roh, akal-budi, dan kekuatan kita untuk menyanyikan ‘nyanyian baru’ yang memuliakan TUHAN sebagai pusat ibadah dan kehidupan orang beriman. Martin Luther (1483-1546) pernah berkata: Firman Allah kekal untuk selama-lamanya; tetapi ada satu lagi yang kelak ada di sorga yakni: ‘nyanyian yang memuliakan TUHAN’ sebagaimana tersirat dalam Kitab Wahyu. Dan pada saat kita menyanyikan pujian yang memuliakan Tuhan Yesus, maka hal itu akan menyakiti iblis sehingga lari terbirit-birit, begitu kata Martin Luther. Karena itu, Saudara-Saudari, betapa pun cerita kehidupan ini, marilah ‘menggubahnya’ menjadi ‘sebentuk nyanyian pujian untuk memuliakan TUHAN yang telah menaklukkan kuasa dosa dan maut serta memberi jaminan keselamatan bagi setiap orang percaya, karena Yesus Kristus. Salam Minggu Kantate. TUHAN memberkati, melindungi, dan memulihkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia serta bangsa-bangsa di dunia. Amen. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form