Pesan Minggu Rogate dalam Konteks Wabah Covid-19

HKBP Yogyakarta,

Suatu Renungan Situasional, Minggu Rogate, 17 Mei 2020

Pesan Minggu Rogate dalam Konteks Wabah Covid-19

Saudara/i yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya hendak menyapa kembali para pemerhati dan pendengar yang saya hormati, di mana pun berada, kiranya kita tetap berpengharapan dan percaya akan penyertaan, pertolongan, dan belas-kasih TUHAN. Dan bagi mereka yang menderita sakit atau bergumul karena berbagai penyakit dan kesusahan yang lain, kiranya TUHAN berkenan memulihkan. Dan bagi mereka yang berduka, TUHAN kiranya menghibur serta meneguhkan iman keluarga. Kita bersyukur kepada TUHAN yang sedang memberi hikmah dan kesadaran yang baru dalam konteks wabah virus corona ini, supaya kita: semakin beriman, semakin rendah hati dan bermurah-hati, dan semakin peduli dengan lingkungan hidup di tengah dunia yang sedang menderita ini. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah mengawali dan merajai kita. Amen

Saudara/i, sesuai Kalender Liturgi Gerejawi yang masih berkait dengan penghayatan akan Minggu-minggu Paskah, kini kita secara khusus hendak menghayati Minggu ROGATE dalam konteks wabah virus corona (covid-19) yang mencoba memaksa kita ‘bertekuk lutut’, tetapi bagi orang beriman menjadi kesempatan berharga supaya hati dan jiwa kita ‘berlutut’ untuk berdoa. Kata Latin: ‘Rogate’ atau ‘Rogationis’ artinya ‘berdoaatau ‘memohon’. Minggu ROGATE hendak mengajak kita bersama orang beriman supaya: berdoa/memohon kepada TUHAN. Karena berdoa adalah bagian yang tak terpisahkan dalam ibadah dan keseharian orang beriman di hadirat Allah. Dalam rangkaian doa, terjadi suatu percakapan atau ‘wawancara budi’ antara kita sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa sorgawi karena Yesus dan Roh Kudus. Doa adalah nafas kehidupan orang beriman. Orang beriman berdoa hanya kepada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan tidak kepada berhala, tidak juga kepada para orang-orang yang dianggap kudus, atau kepada sesuatu yang diciptakan oleh Allah.

Saudara-saudari, mungkin ada yang bertanya – khususnya pada masa-masa sulit dan penuh keraguan ini – apakah Allah mendengar dan mengabulkan doa-doa kita? Jawabannya, Allah mendengar semua doa orang-orang beriman, karena “.... Dia yang menanamkan telinga, masakan tidak mendengar? Dia yang membentuk mata, masakan tidak memandang?” (Mzm 94:9). Allah mendengar doa serta mengabulkannya seturut cara dan kehendak-Nya sendiri dan seturut waktu yang Ia tentukan. Dalam kedaulatan-Nya, Allah merancang kebaikan dan damai-sejahtera bagi orang beriman dan bukan petaka. Karena itu, pada titik akhir, kita sebaiknya menghayati bahwa doa adalah suatu ketaatan total kepada TUHAN. Karena memang, doa turut mempersiapkan umat menerima dan menyukuri karya besar Allah yang Mahakuasa. Kapan dan bilamanakah kita berdoa? Kita boleh berdoa, bersyukur, dan memohon, kapan pun dan di mana pun, karena Allah Maha-hadir dan Maha-kuasa. Alkitab mengajak supaya kita bertekun dalam doa (Mrk 14:38; Rm 12:12c; Kol. 4:2; Flp 4:6). Martin Luther (1483-1546) melalui salah satu jargonnya mengajak orang beriman supaya berdoa dan bekerja (Ora et Labora), karena Allah dalam Yesus dan Roh Kudus juga berdoa dan bekerja dalam proses kehidupan dunia ini untuk mendatangkan kebaikan bagi umat yang dikasihi-Nya. Berkait dengan hal ini, perlu juga memohon supaya TUHAN memberi kita: ‘karunia ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kita ubah’, ‘keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kita ubah, dan kearifan untuk membedakan antara keduanya, seperti ‘doa keheningan’ dari teolog Reinhold Niebuhr (1892-1971). Dan marilah kita camkan bahwa Roh Kudus turut berdoa bagi kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26), sebab kita tidak cakap untuk berdoa. Itu makanya, Yesus mengajari murid-murid-Nya bagaimana berdoa (Mat. 6:9-13).

Saudara-saudari, pada masa-masa sulit ini, secara khusus kita bersyukur secara oikumenis kepada TUHAN karena terjadi gerakan doa yang mempersatukan kita secara lintas agama dan internasional, sebagaimana antara lain yang telah diserukan oleh Komisi Tinggi dari Deklarasi Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan (The Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together), juga seruan oleh Dewan Gereja Dunia (DGD/WCC), dll., – yang mengajak kita semua secara bersama - dari tempat masing-masing – dan telah terlaksana pada tanggal 14 Mei 2020, yaitu untuk berdoa memohon pertolongan dan belas-kasih dari TUHAN untuk menghadapi masa sulit ini. Dan marilah kita lanjutkan setiap hari untuk berdoa dengan kerendahan hati, untuk melambungkan doa permohonan khusus agar TUHAN Yang Mahakuasa berkenan dan bermurah-hati menolong umat manusia mengatasi pandemi virus corona, dan kiranya TUHAN juga berkenan memberi hikmat sorgawi kepada ilmuwan supaya menemukan vaksin atau obat mengatasi wabah covid-19.

Dan yang terakhir, marilah kita orang beriman supaya menyempurnakan doa-doa kita dengan Doa Paling Agung, yaitu doa yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya: “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga ...........dst. Amen.” (Mat. 6:9-13; Lukas 11:1-3). TUHAN memberkati, melindungi, dan memulihkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia serta bangsa-bangsa di dunia. Amen. *AAZS*   hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form