ARTI DAN RELEVANSI MINGGU TRINITATIS

HKBP Yogyakarta,

Suatu Renungan Khusus, Minggu Trinitatis,

21 Juni 2020

ARTI DAN RELEVANSI MINGGU TRINITATIS

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus.   Saya hendak menyapa kembali para pemerhati dan pendengar yang saya hormati, di mana pun berada. Dalam rangkaian Minggu-minggu Trinitatis ini, kita tetap berpengharapan dan percaya dengan mengandalkan anugerah dari Yesus Kristus, kasih setia dari Allah Bapa, dan persekutuan dengan Roh Kudus kiranya memberkati, melindungi, dan menghibur kita semua di masa sulit dan keraguan ini. Marilah kita terus belajar bersyukur kepada TUHAN yang sedang memberi hikmah dan kesadaran yang baru selama dan sesudah wabah covid-19 yang, antara lain mengajak kita supaya menata-ulang dan membarui-ulang hati, pikiran, dan cara kita dalam kehidupan berkeluarga, bergereja, bermasyarakat, termasuk dalam kehidupan ekonomi, dan ekologi - dengan Firman TUHAN sebagai dasar pembaruan. Dan marilah kita semakin beriman, semakin rendah hati dan bermurah-hati serta peduli kesehatan dan lingkungan hidup.

Saudara-saudari, seiring perayaan Liturgi/Kalender Gerejawi, kita memasuki rangkaian Minggu-minggu Trinitatis (Trinitas) sekitar 23 mingguan yang mengajak supaya kita semakin mempercayai dan menghayati karya ke-tritunggal-an Allah (Hasitolusadaon ni Debata) yaitu karya Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sekadar info bahwa istilah trinitatis’ (‘trinity’) tidak ditemukan dalam Alkitab. Istilah trinitatis awalnya diperkenalkan oleh Tertullianus (*160 - †220) - seorang Bapa Gereja, teolog dari Tunisia, Afrika Utara - untuk membantu pemahaman dan penghayatan pendengar dan penghayat pada zamannya serta kepada umat Kristiani masa kini yang mengajarkan bahwa Allah itu Esa yang berkarya melalui cara berada dinamis, melalui 3 (tiga) pribadi ilahi yang abadi. Sebagai manusia fana, tentu saja kita tidak mungkin memahami Allah yang mahakuasa dengan sempurna. Bapa Gereja bernama Agustinus (354 - 430) pernah berkata: “Kalau engkau memahami-Nya, maka Ia bukan lagi Allah”. Allah berkarya secara misteri dan cinta. Allah Tritunggal (Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus) diwahyukan melalui proses sejarah penyelamatan yang berawal dari masa Perjanjian Lama dan digenapi dalam masa Perjanjian Baru melalui penjelmaan (inkarnasi) Allah Bapa melalui Anak-nya, Yesus kristus yang menjadi ‘Manusia’ dan kemudian pengutusan Roh Kudus. Dalam Katekismusnya, Martin Luther (1483-1546) menjelaskan karya Allah Bapa yang mencipta, Allah Anak yang menebus ciptaan, dan Allah Roh Kudus yang membarui ciptaan sampai akhir. Orang beriman menerima sakramen baptisan kudus di dalam nama Allah Tritunggal yaitu Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus - bukan di dalam air. Ibadah gerejawi selalu dibuka di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus - bukan di dalam nama manusia yang fana.

            Saudara-saudari, sebagai pendeta di lingkungan Gereja HKBP, kiranya perlu saya sampaikan secara khusus apa kata Gereja HKBP mengenai ketritunggalan Allah atau Allah Tritunggal? Konfesi (Pengakuan Iman) Gereja HKBP 1996 pasal 1 mengajarkan dan menegaskan mengenai ketritunggalan Allah, sebagai berikut: Kita percaya dan bersaksi bahwa Allah itu Esa dan di dalam penyataan-Nya (pewahyuan-Nya) yang Tritunggal di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus – sifatnya tidak berawal dan tidak berakhir (Yoh. 5:19; 14:11; 1:1; 15:26; 2 Kor. 13:13; Mat. 28:19; Kej. 1:1-2). Dengan ajaran ini, maka Gereja HKBP menolak 5 (lima) hal ajaran yakni: (1) Triteisme yang mengajarkan Allah terdiri dari tiga secara terpisah dan berbeda-beda; (2) Ateisme yang meniadakan Allah dan keberadaan-Nya; (3) Pantheisme yang memperilah semua ciptaan; (4) Okultisme yang menyembah kuasa-kuasa iblis dan roh kegelapan; dan (5) Fatalisme yaitu takdir atau sibaran yang meyakini bahwa hidup seseorang telah dikuasai/ditentukan oleh nasib buruk/fatal.

       Karena itu, Saudara-saudari, marilah menghayati-ulang karya agung ke-tritunggalan Allah Bapa yang mencipta, Allah Anak yang menebus ciptaan, dan Allah Roh Kudus yang menguduskan ciptaan. Di era teknologi digital yang canggih ini dalam kaitannya dengan komunikasi di media sosial masa kini, marilah meniru cara berkomunikasi Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang membawa perdamaian, mengusung pembaruan, berisi belas-kasih, dan bukan kekerasan, perpecahan, atau ujaran kebencian. Salam Minggu Trinitatis. ** AAZS

wajah web201903

Login Form