‘Ibadah dan Persembahan Sejati Kepada TUHAN’

HKBP Yogyakarta,

‘Ibadah dan Persembahan Sejati Kepada TUHAN’

(Ulangan 16:13-17; Mrk 12:41-44)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dengan mengucap syukur kepada TUHAN sembari memohon penyertaan dan pertolongan-Nya, HKBP Yogyakarta kembali melanjutkan Ibadah Umum secara berjemaah di gedung Gereja mulai tanggal 19 Juli 2020 di era ‘kenormalan baru’ atau yang kini disebut era ‘adaptasi kebiasaan baru’ (‘adapting to new habits’) di masa pandemi covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan dari pemerintah RI melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Sebelum terdampak covid-19, Ibadah Minggu Umum secara berjemaat digelar terakhir tanggal 15 Maret 2020 (pukul 06:30; 09:00; 17:30). Memasuki ‘era adaptasi kebiasaan baru’, kini Ibadah Minggu Umum dimekarkan menjadi 5 kali (pukul 06:30; 09:00; 11:00; 15:30; 17:30). Kita berdoa dan percaya kepada TUHAN yang sedang memberi kita ‘hikmat dan kesadaran baru’ supaya kita/umat secara bersama dimampukan menghadapi dan mengatasi pandemi (pageblug) yang berdampak luas mempengaruhi kehidupan warga/masyarakat secara sosial-ekonomi, keagamaan/kerohanian, dll. Di masa sulit ini, marilah kita terus belajar bersyukur dan menyatakan ‘kebaruan-kebaruan’ yang TUHAN kehendaki dari kita. Kiranya kita semakin beriman, rendah hati, berbelas-kasih/berbela-rasa (solider), dan tetap berpengharapan di dalam TUHAN.  

Saudara-saudari, nas khotbah/renungan kali ini perihal ‘ibadah dan persembahan’. Ajaran iman Kristen secara khusus menegaskan bahwa kita beribadah dan menyerahkan persembahan (pelean) kepada TUHAN karena DIA telah memberi keselamatan kepada kita melalui peristiwa Yesus Kristus serta pembaruan oleh kuasa Roh Kudus. Ibadah adalah suatu perjumpaan kita dengan TUHAN dalam rangka merayakan keselamatan dan kehidupan yang dianugerahkan-Nya kepada umat dan ciptaan-Nya. Yesus Kristus adalah Liturgos (Penyelenggara ibadah) sejati. Melalui pengorbanan-Nya di kayu salib serta kebangkitan-Nya dari maut, Yesus Kristus telah menjumpakan serta mendamaikan umat manusia yang terbatas/berdosa dengan Allah Bapa sorgawi yang penuh belas-kasih dengan pembaruan oleh Roh Kudus. Karena itulah ibadah Kristiani mesti berpusat di dalam nama Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus, bukan pada selera manusia fana. Dalam rangkaian ibadah, orang beriman menyatakan syukur dan menyerahkan suatu ‘persembahan’ (offering, pelean) ke altar hadirat TUHAN sebagai tanggapan kita atas keselamatan dan belas-kasihNya dan bukan untuk meraih prestasi keselamatan. Setiap persembahan yang kita serahkan ke altar kudus-Nya hendaknya digerakkan oleh rasa syukur dan suka-cita, semampu kita, jangan dengan paksa atau sedih hati (1Kor 9:7-14; Mrk. 12:41-44; Luk. 21:3-4; Ul. 16:13-17). Begitu kata Alkitab.

                Saudara-saudari, Alkitab berulang-kali bicara mengenai ibadah dan pesembahan umat kepada TUHAN. Tradisi umat dalam Perjanjian Lama bahkan sampai pada zaman Yesus dalam Perjanjian Baru mencatat sejumlah Hari Raya atau Liturgi yang diselenggarakan dalam rangka pengucapan syukur kepada TUHAN yang telah membebaskan dan menyelamatkan umat dari perbudakan/kekerasan Mesir serta memberi Tanah Terjanji (Kanaan) dan berkat kehidupan baru kepada umat-Nya yang kemudian sempurna di dalam nama Yesus Kristus. Hari Raya yang dimaksud, antara lain adalah: (1) Hari Raya Paskah; (2) Hari Raya Pendamaian; (3) Hari Raya Pondok Daun; (4) Hari Raya Roti Tidak Beragi; dll. Nas acuan renungan ini secara khusus memastikan agar umat/orang beriman sesuai kemampuannya wajib menyerahkan persembahan melalui ibadah/perayaan rohani karena TUHAN telah membebaskan/menyelamatkan.

Kitab Nabi Maleakhi menegaskan bahwa umat yang kena kutuk dan masih menipu TUHAN saja dianjurkan supaya membawa persembahan persepuluhan (‘pelean parsampuluan’; ‘the tithes offering’) ke altar TUHAN (Maleakhi 3:9-10), apalagi kita umat tebusan karena iman kepada Yesus Kristus. Persembahan yang diserahkan oleh umat didasarkan pada Hukum Alkitab (Bil. 18:25-32; Ul. 14:22-29) yang juga untuk mendukung kehidupan imam/pendeta, diakonia/pelayanan, serta gerakan penginjilan Gerejawi, dll (Mat. 10:10; Luk. 10:7; 1Kor. 9:7-14; 1Tim. 5:18). Aturan dan Peraturan HKBP menegaskan bahwa warga jemaat berkewajiban mempersembahkan diri dan talenta (waktu, tenaga, harta-benda, dll) dengan ikhlas dan suka-cita untuk pelayanan jemaat demi kemuliaan Tuhan. Dan ini seiring dengan pesan teologis dari Buku Ende 204:2 yang selalu dinyanyikan mengiringi doa persembahan dalam ibadah mingguan yang menegaskan bahwa pemberian TUHAN yaitu jiwa, raga, nyawa, kekuatan dan harta-benda yang kita miliki, kiranya kita persembahkan untuk TUHAN yang telah lebih dulu dengan sepenuh hati memberi hidup-Nya untuk menebus kita. Namun mari kita cegah dan jangan sampai gegara persembahan (pelean) jadinya orang terhalang beribadah, mendengar Firman TUHAN, dan menerima Sakramen. Salam. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form