Melawan ‘Suap dan Korupsi’!

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu VIII Trinitatis, 2 Agustus 2020

Melawan ‘Suap dan Korupsi’!

(Keluaran 23:1-9)

            Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dalam konteks Indonesia masa kini, sejumlah hal yang menjadi masalah besar dan sekaligus keprihatinan kita bersama, yaitu antara lain: (1) Intoleransi yaitu semakin menipisnya tenggang-rasa dalam kehidupan di antara umat yang berbeda agama/aliran; (2) Korupsi yang masih menggurita – paling tidak dalam kurun waktu 14 tahun terakhir (2005-2019), ratusan Kepala Daerah (Gubernur, Walikota, dan Bupati) terlibat korupsi serta ribuan wakil rakyat (anggota DPRD) terjerat hukum pidana korupsi; (3) Krisis Ekologis yang membuat umat dan makhluk hidup menderita; dan (4) Hoax yaitu berita bohong– terutama yang disebar melalui media sosial yang berpotensi memecah-belah kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa, yang harus kita cegah dan waspadai dengan akal sehat. Kita berdoa dan berharap di era kepemimpinan Presiden Jokowi, Indonesia perkasa memerangi suap dan koruspsi.  

Secara khusus isu mengenai suap dan korupsi sebagai suatu penyakit sosial ternyata sudah ada setua Alkitab dan masih aktual hingga kini dalam kehidupan sosial-politik-ekonomi di tengah masyarakat global. Demikian juga dengan hoax sudah ada setua Alkitab; bahkan Hawa dan Adam termasuk korban hoax karena kelicikan iblis yang memutar-balikkan perintah Allah.

Alkitab memberitakan bahwa setelah membebaskan dan menyelamatkan umat-Nya (Israel) dari perbudakan/kekerasan Mesir, TUHAN kemudian memberi Hukum Taurat untuk diamalkan sebagai tanda bahwa mereka adalah umat TUHAN yang baru. TUHAN memiliki rencana melalui pembebasan dan penebusan terhadap umat-Nya sebagai bagian dari proses sejarah keselamatan bagi dunia seturut kuasa Firman-Nya. Kepada umat tebusan-Nya, TUHAN menetapkan rangkaian hukum-hukum ibadah dan hukum-hukum sosial sebagaimana dicatat terutama dalam Kitab Keluaran, Imamat, dan Ulangan. Tujuannya adalah untuk menandai agar cara hidup umat seturut kehendak TUHAN yang telah memilih, menguduskan, dan menyelamatkan mereka karena belas-kasih-Nya.

Nas acuan renungan ini mengangkat topik: Melawan Suap dan Korupsi (Manghagigihon Sisip dohot Korupsi) - sesuai catatan Almanak HKBP. Topik tersebut terutama menekankan arti dan relevansi dari Kitab Keluaran 23:8 “ ..... suap janganlah kauterima, sebab suap membuat buta mata orang-orang yang melihat dan memutar-balikkan perkara orang-orang yang benar”. Sebagai suatu penyakit sosial yang merusak tatanan kehidupan masyarakat dan bangsa, suap dan korupsi terkesan telah ‘membudaya’ akhir-akhir ini dalam konteks sosial-politik-ekonomi di tengah bangsa kita.

Karena itulah, nas ini menjadi semakin relevan supaya orang-orang beriman bersama umat-Nya mencamkan perintah-Nya yaitu jangan terlibat dalam proses suap/korupsi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan dalam rangka mencari dan menentukan pemimpin/gembala umat, ada empat (4) kriteria karakter yang hendak dimiliki, sebagaimana dicatat dalam Kitab Keluaran 18:21, yakni orang yang: (a) cakap (ahli); (b) takut akan Allah; (c) dapat dipercaya; dan (d) benci pada suap. Cara hidup warga Gereja Awal pada zaman rasul pun turut menekankan supaya umat hidup dalam kejujuran dan bukan tipuan/dusta. Kisah pasutri, Ananias dan Safira, yang bermaksud menipu/membohongi rasul Petrus, harus membayar mahal dengan meregang nyawa. Alkitab mengingatkan bahwa “... akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim. 6:10).

            Saudara-saudari, di masa sulit karena dampak pandemi covid-19, marilah kita mohon hikmat baru dan kuasa dari Roh Kudus untuk memampukan kita bersama Gereja sebagai pusat narasi dan edukasi untuk turut mencegah dan melawan penyakit sosial yang bernama suap dan koruspsi sebagai suatu cara mengamalkan titah ke-8, seturut perintah TUHAN. Salam. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form