Menang Atas Kuasa Kegelapan (‘Okultisme)’

Renungan Minggu XII Trinitatis, 30 Agustus 2020

Menang Atas Kuasa Kegelapan (‘Okultisme)’

(5 Musa/Ulangan 18:9-14)

Saudara-saudari, warga dan majelis jemaat serta para pecinta dan pemerhati yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai dan merajai hati dan pikiran kita di mana pun berada pada masa pencobaan yang menyulitkan ini. Amen. ‘Okultisme’ adalah suatu kepercayaan kepada kekuatan gaib yang dapat dikuasai oleh manusia. Alkitab mengungkap bahwa kuasa kegelapan (iblis/setan) telah ada sejak malaikat memberontak pada Allah. Alkitab menginformasikan bahwa Iblis (setan) pada awalnya adalah malaikat ciptaan Allah. Mereka adalah makhluk rohani yang memiliki kemauan dan kehendak bebas. Tetapi kemudian memilih memberontak dan melawan Allah. Iblis/setan adalah awal mula dosa, sahabat dusta; iblis adalah dusta dan kebohongan itu sendiri (Yoh. 8:44; Kej.3:1-7; Why. 20:10). Target iblis adalah memengaruhi orang agar berontak pada Allah dan menjauhi rencana penebusan-Nya. Kitab Yesaya menggambarkan kejatuhan malaikat pemberontak - yaitu iblis (bahasa Latin: ‘Lucifer’) kedalam kegelapan (Yes. 14:12-15). Alkitab mengungkap banyak hal mengenai perlawanan iblis terhadap pemerintahan Kristus. Tetapi dengan salib dan kuasa kebangkitan-Nya, Yesus menang, iblis keok.

Saudara-saudari, nas renungan kali ini diacu dari Kitab Ulangan yang antara lain berisi wejangan Musa kepada umat TUHAN (Israel) dalam Perjanjian Lama. Tujuannya terutama adalah untuk membarui perjanjian antara Allah dan umat-Nya demi generasi baru nantinya di Tanah Terjanji. Secara khusus nas Kitab Ulangan 18:9-14, antara lain hendak menegaskan bahwa TUHAN melarang umat tebusan-Nya (orang beriman) untuk melakukan hal-hal yang menjadi kekejian bagi-Nya yaitu yang berkaitan dengan penyembahan berhala dan kuasa-kuasa kegelapan – sebagaimana yang dilakukan bangsa-bangsa kafir: yakni: mengorbankan anggota keluarga atau manusia sebagai tumbal untuk dipersembahkan kepada kuasa iblis dan kegelapan. Kemudian TUHAN melarang umat-Nya menjadi petenung, peramal, penyihir, pemantera, bertanya kepada arwah atau roh peramal atau minta petunjuk kepada orang-orang mati dan sejenis (Ulangan 18:10-14). Alkitab menegaskan bahwa mereka yang melakukan kekejian tersebut akan dihukum oleh TUHAN (Im. 20:27) dan tidak akan masuk kedalam Kerajaan Allah (Gal. 5:20-21; Why. 22:15).

Saudara-saudari, Gereja kita turut melarang kerja-sama dengan kuasa-kuasa kegelapan (okultisme). Konfesi (Pengakuan Iman) HKBP 1996 pasal 1 mengenai Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, antara lain menegaskan bahwa HKBP menolak okultisme yaitu suatu kepercayaan dan praktik penyembahan berhala/kuasa iblis dan kegelapan. Seiring hal tersebut, kita menolak aneka ramalan yang melibatkan peran iblis/roh jahat; bertenung, meramal nasib; menggunakan jimat; praktik magi, sihir, tindakan gaib demi mendapat kuasa supra-natural, kesehatan, kesejahteraan, dll. Sebab semuanya itu melanggar keutamaan penyembahan kepada TUHAN yang bersabda: Akulah TUHAN Allahmu, jangan ada allah lain di hadapan-Ku! (Kel. 20:1-3).

Saudara-saudari, apakah kekuatan kita untuk menghadapi dan mengalahkan kuasa iblis/setan? Kekuatan sorgawi untuk kita adalah iman kepada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus serta kesungguhan kita menerima dan menghayati Sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus yang memungkinkan kita bersatu secara misteri dengan Yesus Kristus. Iblis pasti keok.

Dalam konteks masa kini di era teknologi digital yang canggih ini, mari kita waspadai bahwa iblis/setan/kuasa kegelapan sedang menawarkan bentuk godaan baru kepada orang beriman supaya menyembah “berhala/setan modern” yang bernama keserakahan akan harta benda (mammon) dan ‘nikmat duniawi’ yang semu. Karena itu, marilah kita menghadapi dan menaklukkannya dengan mengandalkan iman dan berpegang pada Firman TUHAN di dalam nama Yesus Kristus, Sang Penakluk dosa dan maut. Amen. Salam. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form