HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu XIV Trinitatis, 13 September 2020

Tanpa Allah, Hidup Ini Sia-sia

(Pengkhotbah 2:4-11)

Saudara-saudari, warga dan majelis jemaat serta segenap pecinta dan pemerhati yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai dan merajai hati dan pikiran kita di mana pun berada pada masa pencobaan yang menyulitkan ini. Amen.

            Salah satu aliran filsafat yang memengaruhi manusia sedari dulu adalah Filsafat Materialisme yaitu suatu paham yang menyangkal hal-hal rohani (seperti Allah, jiwa manusia) dan kemudian hanya menerima dan menjunjung keberadaan hal-hal atau realitas yang dapat diamati atau dinikmati. Nabi Yesaya dan Rasul Paulus – masing-masing pada zamannya - kelihatannya turut menghadapi tantangan dari paham sejenis yang berkembang dalam masyarakat sehingga muncul motto: "Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati!" (Yes. 22:13; 1 Kor. 15:32; bnd. Mat ). Secara klasik, filsuf Epicurus (314-270 BC) dikenal sebagai perumus filsafat materialisme klasik; dan secara modern dirumuskan oleh filsuf Ludwig Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883).

            Saudara-saudari, penulis Kitab Pengkhotbah turut menanggapi dan menilai paham/aliran kehidupan yang hanya menjunjung “nikmat duniawi” – dengan motto: “Nikmatilah kesenangan ...!” yang berkait dengan pekerjaan, rumah, kebon, budak, ternak, perak, emas, harta benda, gundik, dll., dst; (Pkh 2:1-8). Namun, Kitab Pengkhotbah menegaskan bahwa semuanya itu adalah sia-sia bila kehidupan ini didasarkan pada nikmat duniawi, harta benda, atau ambisi pribadi. Kendati kaum muda misalnya harus menikmati masa mudanya (Pkh. 11:9-10), namun yang jauh lebih penting - bahkan yang paling penting - adalah mengabdi kepada Allah, Sang Pencipta (Pkh 12:1) serta memiliki tekad bulat untuk takut akan Allah dan melakukan titah-titah-Nya. Dan inilah pesan pokok Kitab Pengkhotbah bahwa ‘tanpa Allah, hidup ini sia-sia’!

Sekadar info bahwa Kitab Pengkhotbah memang berisi nada pesimis, sinis, dan negatif perihal menanggapi rangkaian kehidupan yang terjadi “di bawah mata hari ini” ( - istilah ‘di bawah mata hari’ muncul 29 kali), yang memang sarat dengan ketidak-adilan, kekecewaan, dan kesia-siaan. Bahkan Kitab Pengkhotbah diawali dengan ungkapan “Kesia-siaan belaka, kesia-siaan belaka; segala sesuatu adalah sias-sia” (Pkh 1:2). Istilah “sia-sia” digunakan sebanyak 37 kali dalam Kitab yang berisi 12 pasal tersebut. Namun kemudian kita menemukan pesan inti pada pasal dan ayat terakhir Kitab Pengkhotbah bahwa: “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang (Pengkhotbah 12:13). Hal ini juga hendak menyatakan bahwa hidup yang terpisah dari Allah adalah sia-sia. Karena itu berpeganglah dan hiduplah seturut perintah-Nya. Karena, ‘semuanya mengalir, dan tidak ada yang tinggal tetap’ (everything flows and nothing stands still); ta panta rhei, kai ouden menei, begitu kata filsuf Heraklitus dari Yunani. Alkitab menegaskan, tidak ada yang kekal, kecuali Firman Allah (Yes. 40:7-8). Sama seperti makhluk ciptaan lain, manusia pun bersifat sementara dan akan melewati jalan fana!

            Saudara-saudari, apa kata Alkitab mengenai cara bagaimana mengelola harta-milik atau kekayaan atau kenikmatan duniawi? Adakah hal-hal yang kita miliki menjadi berkat atau beban dalam kehidupanmu? Apakah kekayaan atau kemiskinan, suka-cita atau duka-cita mendekatkan atau menjauhkan kita dari TUHAN? (Amsal 30:7-8). Kita meyakini bahwa harta-benda atau harta-milik – entah sedikit atau banyak - adalah pemberian TUHAN sesuai takaran kita. Karena itu, bagi orang beriman, marilah kita pahami dan hayati bahwa harta benda – termasuk anggota tubuh kita - adalah alat atau sarana memuliakan TUHAN. Sebagai orang beriman, jangan pernah kita mempertuhankan sarana yang ada (uang, materi duniawi), melainkan menggunakan dan mengelolanya sebagai alat untuk memuji dan memuliakan TUHAN. Dengan begitu, maka hidup ini akan menjadi berkat dan bukan beban. Sebab, tanpa Allah, semuanya sia-sia! Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form