Perlengkapi Iman Menyambut Kerajaan Allah

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu XV Trinitatis, 20 September 2020

Perlengkapi Iman Menyambut Kerajaan Allah

(Lukas 17:26-37)

Saudara-saudari, warga dan majelis jemaat serta segenap pecinta dan pemerhati yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai dan merajai hati dan pikiran kita di mana pun berada pada masa pencobaan yang menyulitkan ini. Amen. Seorang ahli Perjanjian Baru, C. H. Dodd mengatakan bahwa kerajaan Allah  (Ibrani: malkuth) merupakan kata benda abstrak yang dapat berarti kedudukan atau martabat raja (kingship), kuasa pemerintahan (kingly rule), pemerintahan (reign), atau kedaulatan (sovereignty). Secara sederhana, ia mengartikan Kerajaan Allah sebagai: “God reigns as King” atau bertakhtanya Allah sebagai raja. Kerajaan Allah sama sekali tidak menunjuk kepada sebuah lokasi atau tempat yang istimewa dan penuh dengan kebahagiaan, tetapi menunjuk kepada pemerintahan Allah atas umat-Nya dan atas semesta ciptaan-Nya. Walau tidak pernah mendefinisikan “Kerajaan Allah" namun ketika di hadapan Pontius Pilatus, Tuhan Yesus menjawab tujuan kedatangan-Nya bukan untuk memiliki daerah kekuasaan yang bersifat fana di dunia ini; Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ... (Lih. Yoh. 18:36).

Saudara-saudari, Kerajaan Allah sudah datang dalam pelayanan Tuhan Yesus di bumi ini. Manifestasi Kerajaan Allah sudah dinyatakan dan hukum Kerajaan pun telah dinyatakan dalam firman-Nya (Lih. Matius 5-7-10). Ketika Yohanes Pembaptis menyampaikan berita akan kedatangan Kerajaan Allah itu, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 3:2) Frasa sudah dekat menyatakan bahwa Kerajaan ini belum datang. Kerajaan tersebut nyata dalam kedatangan Tuhan Yesus di dunia ini. Ketika murid-murid Yohanes Pembaptis bertanya kepada Tuhan Yesus, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3), Tuhan Yesus menjawab, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: ....” (Mat. 11:4-6). Tuhan Yesus tidak menjawab pertanyaan murid-murid Yohanes secara langsung. Jawaban Tuhan Yesus menyatakan bahwa mereka tidak perlu menunggu lagi. Mesias, Raja itu, sudah datang. Ini menyatakan bahwa pemerintahan Allah sudah datang.

Saudara-saudari, firman Tuhan juga menyatakan akan datangnya Kerajaan Allah secara riel di dunia ini, melalui kedatangan Kristus yang kedua kalinya. KedatanganNya tersebut sebagai perwujudnyataan kuasaNya dan kasihNya terhadap dunia dan ciptaanNya. Tuhan akan menjadi Raja Shalom di atas bumi sebagai kegenapan akan doa dan kerinduan orang percaya, “Datanglah kerajaan-Mu”. Ketika Yesus datang ke bumi untuk kedua kalinya, maka waktu kerajaan itu akan tampak dalam kuasa kemuliaan sepenuhnya (ayat Luk 17:24; bd. Mat 14:30). Dalam hal kedatangan kerajaan Allah secara nyata, Yesus memberi gambaran tentang orang-orang dalam kisah Perjanjian Lama. Dimulai dari peringatan nabi Nuh yang tidak dihiraukan oleh umat. Sementara nabi Nuh dan keluarganya mempersiapkan apa yang perlu, orang-orang pada umumnya justru menertawakan mereka. Orang lain pada makan minum sampai mabuk. Mereka berbuat sekehendak hati tanpa peduli akan tanda dan peringatan. Mereka lengah dan terbuai akan kemabukan sehingga menjadi binasa. Sementara Nuh dan keluarganya selamat karena mengerti tanda dan peringatan Allah. Kemudian Yesus mengambil contoh yang kedua yang juga masih dalam Perjanjian Lama, yaitu kisah Sodom dan Gomora. Peringatan Allah melalui Lot tidak mereka hiraukan. Mereka tetap pada pola hidup berdosa yang tidak membawa keselamatan. Mereka hanya peduli pada diri sendiri, tidak memberi ruang dalam diri akan kehadiran Allah yang menyapa. Karena ketidaksadaran dan ketidakwaspaan mereka sendirilah akhirnya mereka binasa. Kesalahan yang mendatangkan malapetaka bagi istri Lot adalah seperti filosofi dalam Batak yang menyatakan "didia adong artam, disi do roham" (dimana hartamu, disitulah hatimu). Istri Lot lebih menyayangi hartanya yang duniawi daripada yang sorgawi (bd. Ibr 11:10). Ia berpaling karena hatinya masih ada di Sodom (Kej 19:17,26;).

Saudara-saudari, Yesus mengajak para murid dan kita semuanya untuk senantiasa mempunyai hati yang terjaga. Selalu waspada dan siap sedia menjadi satu-satunya jalan dalam menantikan kedatangan Anak Manusia yang tidak seorangpun tahu kapan saat dan waktunya. Waspada berarti tidak terlena dengan hal yang memabukkan di dunia ini, seperti: hedonisme (uang, harta dan jabatan) yang menimbulkan sifat keserakahan, ketamakan, dan kedegilan hati. Seperti burung nasar mengerumuni mayat, seperti itulah konsewensi hukuman menimpa orang fasik ketika Kristus datang kembali (bd. Mat 24:28Wahy 19:17-18). Oleh karena itu saudara-saudari, marilah kita siap sedia memperlengkapi iman dalam menyambut kerajaan Allah. Salam. DJTS**

wajah web201903

Login Form