Peduli Terhadap ‘Mefiboset’, Kaum Difabel!

 

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu XVI Trinitatis, 27 September 2020

Peduli Terhadap ‘Mefiboset’, Kaum Difabel!

(2 Samuel 9:1-8)

Saudara-saudari para pembaca, pendengar, dan pemerhati yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dulu disebut ‘penyandang cacat’ (‘na martihas’), sekarang dinamai ‘difabel’ (different ability – kemampuan berbeda) atau ‘disabilitas’ (disability). Wikipedia online mendefinisikan ‘difabel’ sebagai seseorang yang memiliki kemampuan dalam menjalanan aktivitas secara berbeda bila dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan pada umumnya; ‘disabilitas’ didefinisikan sebagai seseorang yang belum mampu berakomodasi dengan lingkungan sekitar hingga menyebabkan disabilitas. Difabel atau disabilitas dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional atau beberapa kombinasi. Zaman sekarang, hak-hak sosial kaum difabel semakin mendapat perhatian dan tempat.

            Saudara-saudari, nas khotbah kali ini diacu dari 2 Samuel 9:1-13, berkait dengan hak seorang kaum difabel/disabilitas bernama Mefiboset, seorang laki-laki lemah, kedua kakinya timpang/cacat. Ia adalah satu-satunya keturunan yang masih hidup dari satu keluarga yang tadinya terkenal, tetapi kini merosot, terlupakan, dan tidak lagi terhormat. Ia adalah cucu Raja Saul.

Alkitab mencatat bahwa raja Daud memerintah dengan menegakkan keadilan dan kebenaran atas seluruh bangsa Israel (2 Sam. 8:15). Suatu hari, raja Daud menyuruh mencari Mefiboset dan berkata: "Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah." Seorang hamba keluarga Saul bernama Ziba berkata kepada raja: "Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya" (2 Sam. 9:1,3). Setelah Mefiboset dibawa ke istana raja, ia sujud dan menyembah; tetapi raja Daud berkata kepadanya: "Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku." Kemudian Mefiboset berkata: "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?" Rasa takut dan gentar Mefiboset kini berubah jadi suka-cita; ia akan duduk semeja dengan raja Daud; sementara duduk makan bersama, ia (akan) setara dengan pangeran-pangeran lain kendati kedua kakinya yang cacat tersembunyi di bawah meja. Mefiboset yang tadinya tidak dikenal orang, kini diberi tempat terhormat, mendapat keadilan dan haknya karena kebaikan Yonatan, ayahnya, yang dulu sahabat sejati raja Daud. Ganjaran atas kebaikan ayahnya, dipetik kemudian oleh anaknya. Karena itu, marilah merawat persahabatan dan bukan iri hati/dendam.

Sekadar info Alkitabiah bahwa raja Saul - yang adalah kakek (ompungdoli) dari Mefiboset - pernah berulang-kali hendak membunuh raja Daud karena iri hati, tetapi tidak berhasil. Sementara itu raja Daud dua kali mendapat kesempatan untuk membunuh Saul, tetapi Daud tidak mau melakukannya karena ia punya prinsip dan berkata: ‘Siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN dan bebas dari hukuman? Kiranya TUHAN menjauhkan aku menjamah orang yang diurapi TUHAN’ (1 Sam. 16:14-23; 18:5-16; 19:9-12; 23:19-29; 24:1-15; 26:1-25). Alkitab menegaskan supaya kita: ‘Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, karena pembalasan adalah hak TUHAN; tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12:17-19,21).

            Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas ini bagi kita sekarang? Seperti Mefiboset diundang satu meja hidangan dengan raja Daud dan menerima hak waris, demikianlah TUHAN mengundang dan menempatkan kita pada ‘posisi yang telah disembuhkan dan diselamatkan’ di hadirat Allah yang penuh belas-kasih. Oleh kemurahan Allah, kita menerima Sakramen Baptisan Kudus dan kemudian ‘diundang’ satu meja Sakramen Perjamuan Kudus untuk menerima pengampunan dosa dan hidup kekal sebagai warisan sorgawi – karena iman dan rahmat di dalam nama Yesus Kristus. Dan marilah turut peduli menjunjung hak-hak asasi kaum lemah dan terlupakan serta kaum difabel/disabilitas - dengan belajar dari karya Yesus Kristus yang telah meninggalkan teladan supaya kita mengikuti jejak-Nya. Salam. *AAZS*  hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form