Laki-laki dan Perempuan Setara di Hadapan Allah

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu XVII Trinitatis, 4 Oktober 2020

Laki-laki dan Perempuan Setara di Hadapan Allah

(Kejadian 2:18-25)

   Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Masing-masing dari kita adalah bagian yang tidak terpisahkan dari suatu perkawinan, entah sebagai suami atau istri atau anak/cucu. Lalu apa kata Sabda TUHAN mengenai perkawinan? Alkitab menegaskan bahwa perkawinan (pernikahan) di antara laki-laki dan perempuan merupakan inisiasi atau kreasi kudus dari TUHAN Allah. Pada mulanya, Allah-lah yang merancang (menyediakan) sehingga perkawinan ada di antara manusia, di antara laki-laki dan perempuan. TUHAN yang menyediakan anugerah perkawinan itu bahkan sudah didirikan sebelum manusia jatuh kedalam dosa. TUHAN adalah pemegang hak cipta perkawinan itu sendiri. Karena itulah perkawinan mesti dirawat dalam kekudusan hukum Allah. Kendati manusia jatuh kedalam dosa, perkawinan tetap berlangsung. Gagasan Allah mengenai perkawinan pertama di dunia menjadi acuan terbaik dan dikuatkan oleh Yesus (Mrk 10:1-12; Mat. 19:1-9).

    Alkitab mencatat dua bentuk cerita yang saling melengkapi mengenai penciptaan manusia. Allah mencipta manusia - laki-laki dan perempuan – setara; manusia dicipta ‘segambar dengan Allah’ (imago Dei, Kej. 1:27). Proses penciptaan perempuan dinyatakan untuk menunjuk kesetaraan itu. Sejak awal penciptaan ditegaskan bahwa manusia itu ditakdirkan menjadi makhluk sosial agar keadaannya baik, sebagaimana Firman TUHAN: “... tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. AKU akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia” (Kej. 2:18). Ungkapan ‘penolong’ dalam konteks ini menunjuk pada ‘perempuan’, bukan dalam artian sebagai yang berstatus lebih rendah, tapi pada fungsi yang melengkapi sebagai mitra atau partner sederajat. Perlu dicamkan, Allah dan Roh Kudus disebut juga sebagai Penolong umat (Ul. 33:26; Yes. 44:2; Yoh. 14:16).

Alkitab mencatat bahwa ketika Adam tidur nyenyak, maka Allah membangun seorang perempuan dari rusuk Adam, kemudian dibawa atau diberikan kepada Adam (Kej. 2:21-23; 1 Kor 11:8-12). Sebab itu – kata Alkitab – seorang laki-laki dewasa “... akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging ...” (Kej. 2:24). Tindakan ‘meninggalkan’ dalam konteks ayat ini bukan berarti memutus hubungan, tetapi demi membina hubungan perkawinan suami-istri sebagai yang paling dekat dan mendalam. Dalam Hukum Taurat, anak diperintahkan untuk menghormati ayah-ibu/orangtua (Kel. 20:15). Kata “menghormati” dalam Alkitab berbahasa Ibrani adalah “ka-beed” yang artinya: ‘hargailah’ dan ‘nilailah dengan tinggi’; bahkan juga berarti: ‘lindungilah’ dan ‘cukupilah kebutuhan’-nya.

    Saudara-saudari, Alkitab mengajarkan bahwa perkawinan manusia didasarkan pada tiga prinsip pokok yang disebut juga sebagai trilogi perkawinan Kristiani, yakni: (1) Monogami yaitu perkawinan di antara sepasang suami-istri; (2) Insolubilitas yaitu kesetiaan sampai mati di antara pasangan suami-istri yang telah dipersatukan oleh Allah menurut iman Kristen; (3) Tak terceraikan, kecuali oleh maut. Gereja HKBP mestilah terus melaksanakan dan merelevansikan Hukum Penggembalaan dan Siasat Gereja terkait aneka tantangan perkawinan masa-kini seperti perceraian, dll., termasuk kepada kaum LGBT (Lesbian; Gay; Biseksual; dan Transgender). Orang Kristen meyakini Alkitab sebagai sumber pokok untuk menentukan ukuran yang benar mengenai perkawinan.

    Aurelius Agustinus (354 – 430), seorang Bapa Gereja, teolog besar, dan filsuf Pendidikan Agama Kristen, kelahiran Tagaste (Afrika Utara), pernah menulis sajak mengenai perempuan yang kemudian digubah oleh Dale S. Hadley, yang bunyinya sbb: “Woman was created from the rib of man, not from his head to be above him, nor from his feet to be walked upon; but from his side to be equal, near his arm to be protected and close to his heart to be loved” (Wanita diciptakan dari rusuk pria, bukan dari kepalanya untuk menjadi atasan, bukan pula dari kaki untuk dijadikan alas; melainkan dari sisinya untuk menjadi mitra sederajat, dekat pada lengannya untuk dilindungi, dan dekat di hatinya untuk dicintai). Salam. *AAZS* - hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form