S’lamat Berpulih Kembali

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu XIX Trinitatis, 18 Oktober 2020

S’lamat Berpulih Kembali

(Ayub 42:7-17)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. “Jika Allah adalah maha-kuasa, adil, dan penuh belas-kasih, mengapa diijinkan-Nya orang-orang benar – seperti Ayub – menderita hebat?” Demikian antara lain, suatu pertanyaan yang sering muncul terkait Kitab Ayub? Atau kita boleh membuat daftar panjang pertanyaan sejenis. Misalnya, mengapa diijinkan-Nya terjadi genosida (pembantaian) terhadap sekitar 6 jutaan orang Yahudi Eropa selama Perang Dunia II oleh Jerman Nazi pimpinan Adolf Hitler? Mengapa terjadi genosida (pembantaian) terhadap kira-kira 1 (satu) juta orang Armenia sekitar Perang Dunia I pada zaman Kesultanan Utsmaniyah/Turki? Mengapa terjadi pembantaian terhadap sekitar 500 ribuan orang di Indonesia pada pergolakan politik tahun 1965? Di mana Allah? Di mana Allah ketika dampak wabah dalam sejarah telah menelan jutaan korban?

Saudara-saudari, khotbah/renungan kali ini diacu dari Kitab Ayub, secara khusus mengenai penderitaan hebat yang dialami Ayub dan akhirnya berpulih kembali. Siapakah Ayub? Alkitab menginfokan, Ayub berlatar-belakang warga Arab bagian Utara (bukan orang Israel). Ayub seorang yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan (Ayb. 1:1). Ayub punya istri, 7 anak laki-laki, 3 anak perempuan; punya banyak ternak; ia yang terkaya di sebelah Timur pada zamannya. Namun keadaan hidupnya mendadak berubah atas seijin TUHAN melalui serangkaian peristiwa yang memusnahkan harta, putra-putri, dan kesehatannya (Ayb. 1:1,13-22; 2:7-10).

Pada saat Ayub menderita hebat, istrinya mengejek; tapi Ayub menjawab: “ ... TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Teman-teman dekat Ayub (Elifas, Bildad, dan Zofar) memberi tanggapan dan penilaian teologis yang salah karena cenderung menegaskan bahwa Ayub menderita karena dosanya sehingga harus bertobat. Ayub mendebat dan ingin datang ke tempat TUHAN bersemayam mohon perlindungan (Ayb. 3-31; 42:7). Sementara itu, Elihu berpandangan berbeda dengan berkata bahwa penderitaan Ayub berkait dengan maksud penebusan Allah demi pemurnian iman Ayub (Ayb 32-34). Kitab Ayub, antara lain menunjuk pada suatu prinsip bahwa orang beriman diubah oleh wahyu ilahi dan bukan informasi atau sensasi manusiawi (Ayb. 42:5-6). Pada akhir cerita - atas perintah TUHAN- setelah Ayub bersama Elifas, Bildad dan Zofar mempersembahkan korban bakaran, maka TUHAN Allah mendengar rangkaian permohonan Ayub dan mendapat belas-kasih serta berkat baru sehingga berpulih kembali dengan menerima dua kali lipat dari segala miliknya dahulu; termasuk mendapat kembali 7 anak lai-laki dan 3 orang anak perempuan yang cantik (Ayb. 42:7-17).

            Saudara-saudari, apa arti dan relevansi nas khotbah/renungan ini untuk kita pada masa pandemi Covid-19 yang sedang menimbulkan penderitaan bagi jemaat, masyarakat, dan bangsa kita kini? Bahwasanya: (a) TUHAN Allah memang tidak langsung menjawab semua pertanyaan orang beriman yang menderita dan yang menggugat kedaulatan Allah, tetapi Ia menjawab semua doa kita seturut hikmat, cara, dan waktu-Nya. Sebagai manusia ringkih dan fana, pengetahuan kita tidak akan pernah sanggup memahami pikiran dan tindakan misteri Allah (Ayb. 37:5; Rm. 11:33-36); (b) TUHAN Allah kadang mengijinkan ‘iblis’ atau ‘penderitaan’ menyengsarakan’ dan menguji orang beriman untuk memurnikan iman kita - seperti emas yang dimurnikan dalam perapian - agar kita semakin setia, rendah hati, dan terus memercayakan proses kehidupan ini kepada-Nya yang menghakimi dengan adil (Ayb. 23:10; 42:1-10; 1 Ptr. 1:6-7); (c) Kendati cara Allah ‘mendidik’ orang beriman terkesan ‘kejam dan ngeri’ – seperti kesan Ayub – namun akhirnya Allah menyatakan belas-kasih dan berkat pemulihan bagi kita dan umat yang dikasihi-Nya (Ayb 42:7-17; Yak. 5:11), karena Yesus Kristus pun telah menderita untuk kita dan telah meninggalkan teladan supaya kita mengikuti jejak-Nya (1Ptr. 2:23). S’lamat berpulih untuk HKBP dan Indonesia. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form