‘Air Hidup yang Memuaskan Jiwa’

 

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu XX Trinitatis, 25 Oktober 2020

‘Air Hidup yang Memuaskan Jiwa’

(Yohanes 4:5-14)

    Saudara-saudari, para pembaca, pendengar, pecinta, dan pemerhati yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai, merajai, dan menguatkan kita di mana pun berada pada masa pencobaan yang menyulitkan karena dampak wabah covid-19 ini.

    Air adalah suatu unsur (elemen) yang amat dibutuhkan oleh manusia dan makhluk hidup. Ilmu pengetahuan menginformasikan bahwa 97% air di bumi adalah air asin; 3% air tawar. Dari jumlah keseluruhan air tawar, lebih dari dua-per-tiga adalah berbentuk es di kutub. Air tawar yang tidak membeku dapat ditemukan secara menakjubkan di dalam tanah, dan hanya sebagian kecil di atas permukaan tanah dan di udara. Bagaimana dengan air di dalam tubuh manusia? Kira-kira 80% tubuh manusia terdiri dari air. Otak manusia terdiri dari 90 % air. Darah manusia terdiri dari 95 % air. Mata manusia berair supaya dapat melihat dengan baik. Dengan begitu, air merupakan kebutuhan mendasar serta tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap tanggal 22 Maret kita memeringati Hari Air se-Dunia. Secara iman Kristen, Yesus bergelar ‘Air Hidup kekal’.

     Saudara-saudari, berkait dengan “air”, Injil Yohanes mencatat suatu dialog antara Yesus dengan perempuan Samaria, bertempat di bilangan sumur Yakub di Sikhar, Samaria, pada pukul 12:00 siang (Yoh. 4:1-42). Dialog ini terjadi dalam proses perjalanan Yesus dari Yudea menuju Galilea via Samaria dan mampir sesaat di pinggir sumur Yakub tersebut karena Yesus merasa letih. Sekadar info bahwa pada waktu itu, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria ratusan tahun karena alasan ajaran iman dan etika sosial; Yesus adalah seorang dari suku Yahudi. Terobosan melalui ‘teologi dialogal’ yang dilakukan oleh Yesus hendak menunjuk pengabdian-Nya untuk menjalankan misi dan kehendak Allah Bapa sorgawi untuk menuntun perempuan Samaria yang sudah 5 kali gagal dalam perkawinannya (poliandri) - atau mereka yang hidup dengan banyak istri (poligami) - supaya kemudian mengalami perjumpaan (encounter) dengan Yesus sebagai ‘Air kehidupan’ yang kekal. Dalam dialog tersebut, antara lain, Yesus menegaskan: "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh. 4:13-14; 7:37-38). Kemudian perempuan Samaria menanggapinya: "TUHAN, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus...” (Yoh. 4:15).

     Saudara-saudari, melalui perjumpaannya dengan Yesus, perempuan Samaria ini akhirnya tiba pada sebentuk pertobatan dan kemudian menyatakan pengakuan kepada Yesus: “..... TUHAN, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang Nabi” (Yoh. 4:19). Selanjutnya, Injil Yohanes menggambarkan Yesus sebagai ‘Sumber Air Hidup’ yang memberi anugerah yang menghidupkan, yang memancar hingga hidup kekal. Anugerah itu dilukiskan berkait dengan ibadah yang benar yaitu menyembah Allah di dalam Roh dan kebenaran dan tidak lagi ditentukan oleh tempat (Gunung Sion atau Yerusalem) dan waktu (Yoh. 4:23-24). Yesus menegaskan: “... saatnya sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam Roh dan kebenaran”. Karena “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (Yoh. 4:23-24). Melalui perjumpaannya dengan Yesus, perempuan Samaria dimampukan menjadi misionaris bagi suku-bangsanya yang kemudian menghasilkan pertobatan bagi jiwa baru (Yoh. 4:42).

       Saudara-saudari, arti dan relevansi nas ini hendak mengajak kita di masa pandemi covid-19 supaya berjumpa dan bergaul secara baru dengan Yesus melalui Sabda-Nya yang memberi kekuatan, penghiburan, dan anugerah yang memuaskan jiwa yang haus dan lapar. ‘Jiwa yang mengembara, berlelah-lelah, haus, dan lapar akan menemukan perhentiannya ketika kita berjumpa dan percaya kepada Yesus, Sang ‘Air Hidup’ yang kekal. Demikian pengalaman Agustinus (354 – 430). Karena itu bersegeralah berjumpa dan bersahabat dengan Yesus melalui Firman-Nya supaya jiwamu yang haus, letih, dan lesu mendapat kepuasan, kelegaan, dan ketenangan. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form