3 Sola, 1 Solo, dan 1 Soli

HKBP Yogyakarta,

 

Memaknai Peringatan/Perayaan Hari Reformasi Gerejawi

(31 Oktober 1517 –  31 Oktober 2020)

3 Sola, 1 Solo, dan 1 Soli

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Aturan dan Peraturan HKBP 2002 mencatat bahwa ada 14 Pesta Gerejawi dan Perayaan Hari Khusus (Ari Pesta Parhuriaon dohot Ari na Marhadohoan). Salah satunya adalah Pesta Peringatan Hari Reformasi Gerejawi 31 Oktober. Dalam lingkungan Gereja Reformasi (Gereja Protestan), tanggal 31 Oktober dikaitkan sejarah munculnya Gereja Reformasi melalui peristiwa historis, 31 Oktober 1517 di Jerman yaitu tatkala Martin Luther (1483-1546), dkk., menggagas dan menancapkan semangat pembaruan (roh reformasi) dengan Firman TUHAN sebagai dasar untuk membarui dan memurnikan ajaran Gereja. Inti ajaran khas Lutheranisme/Protestantisme yang digagas oleh Martin Luther) – yang juga dianut oleh Gereja HKBP - adalah: (1) Sola Fide atau pembenaran oleh iman saja kepada Allah (tidak oleh pekerjaan baik); (2) Sola Gratia atau pembenaran oleh anugerah Allah saja; (3) Sola Scriptura atau hanya Alkitab (dan bukan tradisi manusia) yang merupakan norma iman yang berwibawa; (4) Solo Christo atau hanya di dalam peristiwa Yesus Kristus saja hal itu genap; dan (5) Soli Deo Gloria atau hanya untuk kemuliaan Allah saja. (Roma 1:17; Ef. 2:8-9; Hab. 2:4; Ibrani 4:12; 2 Tim 3:16-17; Yes. 55:8-11; Yoh. 14:6; Konfesi HKBP 1996 pasal 2). Inti ajaran tersebut di atas, sekiranya dapat kita sebut jargonnya dengan istilah: 3 Sola, 1 Solo, dan 1 Soli. Setelah 482 tahun kemudian, Gereja Lutheran dan Gereja Katolik Roma telah deklarasi bersama terkait ajaran dan relevansi pembenaran (justification) oleh iman dan rahmat melalui dokumen Joint Declaration on the Doctrine of Justification pada 31 Okt’ 1999 di Augsburg, Jerman.

Dalam rangka merawat semangat Reformasi Gerejawi, Martin Luther mengusung suatu motto yakni: Ecclesia Reformata Semper Reformanda Est (Gereja Reformasi adalah yang Senantiasa Mereformasi Diri) yang kemudian hendak menegaskan agar Gereja Reformasi - termasuk di dalamnya Gereja HKBP - mesti selalu membarui diri dan dibarui berdasarkan Firman TUHAN sebagai sumber keselamatan. Sejarah mencatat bahwa kemudian dalam tubuh Gereja Reformasi muncul semangat baru untuk menginjili sampai ke ujung bumi. Dan dengan berkembangnya roh Reformasi/Protestantisme, maka etika dan dinamika sosial makin geliat dan dinamis.  

Berkait dengan Peringatan dan Perayaan 500 Tahun (1517-2017) Reformasi Gereja yang digagas Martin Luther, maka The Lutheran World Federation (Dewan Gereja-gereja Lutheran Dunia) telah mengusung Tema besar, yaitu Liberated by God's Grace (Dibebaskan oleh Anugerah Allah) dengan Sub-Tema: Salvation - Not for Sale; Human Being - Not for Sale; and Creation - Not for Sale (Keselamatan Tidak untuk Diperjual-belikan; Manusia Tidak untuk Diperjual-belikan; dan Ciptaan Tidak untuk Diperjual-belikan). Gereja HKBP Yogyakarta secara khusus telah turut merayakannya, antara lain melalui ibadah dan juga menggelar sebentuk konser pada tanggal 6 Oktober 2017 dengan Linda Sitinjak sebagai conductor; dan aksi sosial dengan menyerahkan Rp20 juta untuk Yayasan Kanker Indonesia Cabang Jogja. Kehadiran Gereja di dunia ini hendaknya memberi manfaat yang relevan bagi lingkungan dengan menghadirkan syalom (damai dengan Allah, sesama, dan alam) dan sebentuk ‘kesembuhan’ bagi kehidupan sosial. Mari berdoa dan berkarya supaya kehadiran Gereja tidak basi (out of date), melainkan memberi manfaat dan pembaruan serta menjadi berkat baru bagi dunia agar lebih baik, benar, adil, manusiawi, dan bermartabat.

Karena itu, saudara-saudari, dengan peringatan dan perayaan 503 Tahun Reformasi Gerejawi tanggal 31 Oktober 2020, marilah kita: (a) Menghayati Sabda TUHAN yang intinya mengajak supaya kita hidup mengandalkan iman dan anugerah berdasarkan Firman Allah dalam Yesus Kristus; (b) Meningkatkan semangat pembaruan (tondi haimbaruon) yang berkelanjutan dalam kehidupan bergereja yang diinspirasi dan diakarkan pada kebenaran dan kuasa Firman TUHAN dan bukan pada tradisi manusia; (c) ‘Menerjemahkan dan merelevansikan’ pesan-pesan inti ajaran Gereja Reformasi dalam konteks kehidupan sehari-hari di tengah realitas dunia yang sedang mengalami pencobaan yang sulit gegara pandemi covid-19 serta tantangan sektarianisme/radikalisme/kekerasan atas nama agama, ketidak-adilan, krisis ekologis, dan kepalsuan (hoax). Salam pembaruan. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form