“Usahakanlah Syalôm Untuk Kota/Desa”

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu  XXIII Trinitatis, 15 November 2020

“Usahakanlah Syalôm Untuk Kota/Desa”

 (Yeremia 29:1-7)

Saudara-saudari, para pembaca dan pemerhati yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai kita serta membarui semangat juang kita pada masa pencobaan yang menyulitkan di masa ‘pandemi’ (‘sindemi’) ini. TUHAN kiranya memberi kita kekuatan, ketahanan, dan sukacita baru menghadapi dan mengatasinya. 

            "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu AKU buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (Yer. 29:7), begitu Sabda TUHAN melalui nabi Yeremia yang dulu ditujukan kepada umat (Israel) dalam Perjanjian Lama dalam pembuangan di Babel, dan kini dialamatkan secara baru kepada kita orang Kristen dan HKBP dalam konteks Indonesia. Mengapa dulu mereka dibuang/dihukum? Hukuman TUHAN selama 70 tahun di Babel adalah sebagai risiko atas dosa dan pelanggaran mereka, tetapi rancangan berkat Allah tetap akan digenapi seturut cara dan waktu-Nya (Yer 27:10-14). Karena itu tidaklah mengherankan bila Allah “mengutus” mereka untuk mengusahakan syalôm di tempat pembuangan yang mungkin tidak mereka sukai (Yer. 29:7). Allah menghendaki supaya umat-Nya berinovasi dan berkarya-nyata di mana pun berada (Yer. 29:4-6) sebagai wujud kesaksian umat pilihan-Nya di tengah bangsa asing. Dalam perspektif ilahi, mari kita hayati bahwa tempat tinggal masing-masing – kendatipun itu kita rasakan sebagai ‘tempat pembuangan’ - sejatinya kiranya kita pahami bahwa Allah sedang “mengutus” kita supaya menjadi berkat. Sebagai keturunan Abraham, bangsa Israel – dan orang-orang beriman – telah dipilih, dikuduskan, dan diberkati oleh TUHAN supaya menjadi berkat (Kej 12:1-3).

            Saudara-saudari, dalam kamus teologi Alkitab Perjanjian Lama, pengertian yang terkandung dalam istilah syalôm (damai sejahtera) juga meliputi suatu keadaan di mana ‘tidak ada perang’; tidak ada perpecahan; ‘cukup/tersedia makanan dan minuman’; bahkan merujuk pada ‘hubungan yang damai antara manusia dan TUHAN’. Allah, melalui nabi Yeremia, meminta umat-Nya dalam pembuangan untuk bersikap proaktif. Sebagai keturunan Abraham, bangsa Israel telah dipilih, dikuduskan, dan diberkati oleh TUHAN supaya menjadi berkat bagi segala bangsa (bnd. Kej 12:1-3). Hukuman selama 70 tahun di Babel adalah sebagai risiko atas dosa dan pelanggaran mereka, tetapi rancangan berkat Allah tetap akan digenapi setrut cara dan waktu-Nya (ayat 10-14). Karena itu tidaklah mengherankan bila Allah ‘mengutus’ mereka untuk ‘mengusahakan syalôm di tempat yang tidak mereka suka itu (Yer. 29:7). Allah menghendaki umat-Nya hidup normal, namun supaya inovatif (Yer. 29:4-6) sebagai tanda umat pilihan-Nya di tengah bangsa asing. Dalam perspektif ilahi, umat Israel dalam ‘pembuangan’ adalah juga dalam proses ‘pengutusan’ dalam rangka damai sejahtera Allah. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, Yesus Kristus diberitakan sebagai pusat dan kegenapan  syalôm (damai sejahtera) yang sejati bagi orang beriman dan dunia ini.

            Saudara-saudari, apa arti dan relevansi mengusahakan syalôm bagi kita sekarang dalam konteks HKBP, Indonesia, dan dunia? Dengan mengandalkan iman dan belas-kasih dalam Yesus Kristus, marilah kita turut memperjuangkan syalôm dalam kehidupan berjemaat, bermasyarakat, dan bernegara di Indonesia. Sebab Indonesia adalah tempat kita “dibuang” (baca: “diutus”) menjadi saksi untuk mengusahakan perubahan ke arah yang lebih baik, benar, adil, damai, dan manusiawi seturut Sabda TUHAN. Marilah berdoa untuk kota ini kepada TUHAN supaya kita sejahtera. Sebab Allah turut merancang damai sejahtera, bukan petaka (Yer. 29:11). Karena itu, usahakanlah kesejahteraan kota di mana kamu berada dan berdoalah untuk kota ini kepada TUHAN; karna kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (Yer. 29:7). Sebab untuk itulah kita ‘diutus’ supaya menjadi berkat bagi dunia seturut visi HKBP. Salam. *AAZS*            hkbpjogja.org

 

Renungan Minggu  XXIII Trinitatis, 15 November 2020

“Usahakanlah Syalôm Untuk Kota/Desa”

(Yeremia 29:1-7)

Saudara-saudari, para pembaca dan pemerhati yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah menyertai kita serta membarui semangat juang kita pada masa pencobaan yang menyulitkan di masa ‘pandemi’ (‘sindemi’) ini. TUHAN kiranya memberi kita kekuatan, ketahanan, dan sukacita baru menghadapi dan mengatasinya. 

            "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu AKU buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (Yer. 29:7), begitu Sabda TUHAN melalui nabi Yeremia yang dulu ditujukan kepada umat (Israel) dalam Perjanjian Lama dalam pembuangan di Babel, dan kini dialamatkan secara baru kepada kita orang Kristen dan HKBP dalam konteks Indonesia. Mengapa dulu mereka dibuang/dihukum? Hukuman TUHAN selama 70 tahun di Babel adalah sebagai risiko atas dosa dan pelanggaran mereka, tetapi rancangan berkat Allah tetap akan digenapi seturut cara dan waktu-Nya (Yer 27:10-14). Karena itu tidaklah mengherankan bila Allah “mengutus” mereka untuk mengusahakan syalôm di tempat pembuangan yang mungkin tidak mereka sukai (Yer. 29:7). Allah menghendaki supaya umat-Nya berinovasi dan berkarya-nyata di mana pun berada (Yer. 29:4-6) sebagai wujud kesaksian umat pilihan-Nya di tengah bangsa asing. Dalam perspektif ilahi, mari kita hayati bahwa tempat tinggal masing-masing – kendatipun itu kita rasakan sebagai ‘tempat pembuangan’ - sejatinya kiranya kita pahami bahwa Allah sedang “mengutus” kita supaya menjadi berkat. Sebagai keturunan Abraham, bangsa Israel – dan orang-orang beriman – telah dipilih, dikuduskan, dan diberkati oleh TUHAN supaya menjadi berkat (Kej 12:1-3).

            Saudara-saudari, dalam kamus teologi Alkitab Perjanjian Lama, pengertian yang terkandung dalam istilah syalôm (damai sejahtera) juga meliputi suatu keadaan di mana ‘tidak ada perang’; tidak ada perpecahan; ‘cukup/tersedia makanan dan minuman’; bahkan merujuk pada ‘hubungan yang damai antara manusia dan TUHAN’. Allah, melalui nabi Yeremia, meminta umat-Nya dalam pembuangan untuk bersikap proaktif. Sebagai keturunan Abraham, bangsa Israel telah dipilih, dikuduskan, dan diberkati oleh TUHAN supaya menjadi berkat bagi segala bangsa (bnd. Kej 12:1-3). Hukuman selama 70 tahun di Babel adalah sebagai risiko atas dosa dan pelanggaran mereka, tetapi rancangan berkat Allah tetap akan digenapi setrut cara dan waktu-Nya (ayat 10-14). Karena itu tidaklah mengherankan bila Allah ‘mengutus’ mereka untuk ‘mengusahakan syalôm di tempat yang tidak mereka suka itu (Yer. 29:7). Allah menghendaki umat-Nya hidup normal, namun supaya inovatif (Yer. 29:4-6) sebagai tanda umat pilihan-Nya di tengah bangsa asing. Dalam perspektif ilahi, umat Israel dalam ‘pembuangan’ adalah juga dalam proses ‘pengutusan’ dalam rangka damai sejahtera Allah. Dalam Alkitab Perjanjian Baru, Yesus Kristus diberitakan sebagai pusat dan kegenapan syalôm (damai sejahtera) yang sejati bagi orang beriman dan dunia ini.

            Saudara-saudari, apa arti dan relevansi mengusahakan syalôm bagi kita sekarang dalam konteks HKBP, Indonesia, dan dunia? Dengan mengandalkan iman dan belas-kasih dalam Yesus Kristus, marilah kita turut memperjuangkan syalôm dalam kehidupan berjemaat, bermasyarakat, dan bernegara di Indonesia. Sebab Indonesia adalah tempat kita “dibuang” (baca: “diutus”) menjadi saksi untuk mengusahakan perubahan ke arah yang lebih baik, benar, adil, damai, dan manusiawi seturut Sabda TUHAN. Marilah berdoa untuk kota ini kepada TUHAN supaya kita sejahtera. Sebab Allah turut merancang damai sejahtera, bukan petaka (Yer. 29:11). Karena itu, usahakanlah kesejahteraan kota di mana kamu berada dan berdoalah untuk kota ini kepada TUHAN; karna kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (Yer. 29:7). Sebab untuk itulah kita ‘diutus’ supaya menjadi berkat bagi dunia seturut visi HKBP. Salam. *AAZS*            hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form