Memento Mori! - Ingatlah Hari Kematianmu

HKBP Yogyakarta,

Suatu Renungan Khusus

Akhir Tahun Liturgi Gerejawi, 22 November 2020

Memento Mori!

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Sepertinya ‘waktu serasa terbang’ (time flies) dan kini kita telah tiba di penghujung Akhir Tahun Liturgi Gerejawi 2020 dan sekaligus persiapan memasuki perayaan Awal Tahun Liturgi Gerejawi yang dimulai itu Minggu-minggu Adven. ‘Semuanya mengalir, dan tidak ada yang tinggal tetap’ (everything flows and nothing stands still), begitu kata filsuf Heraklitus dari Yunani. Tahun 2020 ini menjadi tahun yang menyulitkan dan kesedihan bagi banyak umat gegara dampak pandemi covid-19 yang juga telah memukul ekonomi banyak negara-negara di dunia. Alkitab menegaskan, tidak ada yang kekal, kecuali Firman Allah (Yes. 40:7-8). Semua kerajaan dunia akan lenyap, tetapi Kerajaan Allah (Civitas Dei) kekal (Daniel 7:1-27; Why. 1:8). Manusia bersifat fana! Karena itu, Minggu akhir tahun liturgi ini menjadi momen yang pas untuk merenungi akhir hidup kita, untuk mengingat hari kematian kita, untuk ber-memento mori.

Ungkapan Latin: Memento Mori yang berarti ‘Ingatlah Hari Kematianmu! Ingot Ari Hamamatem! Remember that You Will Die! Motto ini mengemuka sudah sejak perkembangan filsafat Kristen yang menekankan adanya keselamatan jiwa dan kebangkitan dari maut melalui iman dan rahmat di dalam nama Yesus, Penakluk maut. Karena Yesus telah bersabda: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yoh. 11:25-26).

Gereja HKBP dan yang serumpun memiliki suatu tradisi menyelenggarakan ibadah minggu akhir tahun liturgi gerejawi yang dirangkai dengan acara Peringatan Terhadap Warga yang Meninggal’ (‘Parningotan di Angka na Monding’). Gereja Katolik Roma (GKR) mempunyai tradisi mengenang orang-orang kudus/suci (santo/santa) setelah sebelumnya ‘dinyatakan kudus’ (beatifikasi). Secara oikumenis, kita menganut Pengakuan Iman Rasuli yang mengajarkan bahwa ada “persekutuan orang-orang kudus” secara misteri iman yaitu orang-orang yang percaya dan dibaptis kedalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Lalu, apa arti dan relevansi tradisi Memento Mori bagi kita kini?  

Konfesi (Pengakuan Iman) HKBP 1996 pasal 15 mengenai Peringatan Terhadap Orang yang Meninggal merumuskan tujuan Gereja menyelenggarakan acara tersebut adalah untuk mengingat akhir hidup kita sendiri dan meneguhkan iman di dalam Yesus yang mengalahkan maut dan juga   memantapkan pengharapan akan sorga sebagai asal dan tujuan roh kita serta persekutuan abadi untuk orang-orang beriman di akhirat bersama Yesus hingga kedatangan-Nya kedua kali..

Dengan ajaran/konfesi tersebut, HKBP menekankan pengharapan akan keselamatan manusia dari antara orang-orang yang mati di dalam Yesus. Kemudian, HKBP melawan tiga pandangan yang mengatakan: (a) Bahwa orang yang hidup dapat menerima berkat dari orang yang mati; (b) Bahwa orang yang mati dapat berhubungan dengan orang yang hidup dengan cara mendoakan arwah; (c) Bahwa haruslah mendirikan tugu untuk menghormati orang yang mati sebagai cara menerima berkat bagi keturunannya. Kemudian, HKBP menolak semua bentuk ajaran kekafiran terutama ajaran mengenai roh yang mengatakan bahwa roh orang yang meninggal itu hidup, menjadi hantu, roh leluhur (sumangot). Pada waktu peringatan terhadap orang yang meninggal, baiklah kita ingat untuk bersyukur kepada Allah atas segala perbuatan yang baik semasa hidupnya, dan bukan memohon berkat dan tanda kesurupan dari orang yang telah meninggal. Begitu kata konfesi HKBP.

Karena itu, sembari merenungi motto: ‘ingatlah akan hari kematianmu’ (memento mori), lakukanlah terus yang terbaikmu semampu dan sekuatmu sebagai tanggapan atas iman dan rahmat di dalam Yesus Kristus sebagai jaminan menerima hidup kekal. Salam. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form