‘Songsong Kedatangan-Nya dengan Cara Hidup Tak Bercacat’

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu Adven III, 13 Desember 2020

‘Songsong Kedatangan-Nya

dengan Cara Hidup Tak Bercacat’

(1 Tesalonika 5:16-24)

Saudara-saudari, para pembaca, pemerhati, dan segenap warga jemaat yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai kita di mana pun berada. Sembari menanti kedatangan Yesus yang kedua kali, kita memohon kiranya Allah memberi kita kekuatan, ketahanan, serta hikmat baru untuk menghadapi dan mengatasi wabah virus corona dan juga melawan “virus dosa, kekerasan, ketidak-adilan, dan ketidak-pedulian”. Dan ayo terus menerapkan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah dengan cara 3M: memakai masker; sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir; dan menjaga jarak fisik.

Saudara-saudari, dalam ibadah dan perayaan minggu-minggu Adven dalam rangka menyongsong kedatangan Yesus yang kedua kali, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) melalui Konfesi HKBP 1996 pasal 16 merumuskan: Kita percaya dan bersaksi bahwa Tuhan Yesus akan datang kedua-kali untuk menyatakan Yerusalem baru sebagai penampakan keagungan dan kemuliaan Allah. Saat itulah dunia ini berakhir. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan persis waktu kedatangan-Nya. Karena itu, kepada setiap orang beriman diminta siaga, berjaga-jaga, setia, dan berpengharapan akan kedatangan-Nya, karena saat itulah berlaku hukuman dan kasih karunia-Nya (Yoh. 5:28; 1 Tes. 4:16; Mat. 24:3,42; Luk. 21:28; Mat. 25; Why. 20:11-15; 21; 1 Kor. 15:52; 2 Kor. 5:10; Yes. 60:10-16). Dengan ajaran ini hendaknya kita menggunakan waktu dalam kehidupan kita sebagai masa kasih karunia dalam menyongsong kedatangan-Nya. Kita menolak kebiasaan yang mencoba menghitung dan menentukan hari kedatangan Tuhan kedua-kalinya. Demikian juga pandangan yang mengatakan bahwa tidak ada akhir dari dunia ini. Begitu kata Konfesi Gereja HKBP.

Saudara-saudari, nas khotbah Minggu Adven ke-3 ini diacu secara khusus dari salah satu tulisan tertua dalam Alkitab Perjanjian Baru yakni dari Surat Paulus yang pertama ke jemaat Tesalonika. Tujuan Surat 1 Tesalonika ini, antara lain untuk: (a) Mengungkap suka-cita rasul mengenai keteguhan iman dan ketekukan warga jemaat Tesalonika di tengah-tengah derita dan aniaya; (b) Mengajar orang beriman secara khusus perihal kekudusan dan cara hidup saleh supaya tubuh, roh, dan jiwa terpelihara dengan sempurna dan tak bercacat pada saat kedatangan Kristus yang kedua-kali; (c) Menjelaskan ajaran iman mengenai status orang beriman yang telah meninggal saat kedatangan Kristus kedua-kali yaitu ketika tanda diberi dan nafiri dibunyikan, maka Tuhan akan membangkitkan mereka lebih dulu dari maut dan kemudian orang beriman yang masih hidup akan diubahkan seketika dengan tubuh yang rohani dan kemudian akan diangkat bersama-sama dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa (1 Tes. 4:13-17; 1 Kor. 15:35-58). Begitu petunjuk Alkitab terkait kedatangan Kristus kelak dan arti serta relevansinya bagi orang beriman.

       Karena itu, dalam rangka menyongsong kedatangan Yesus yang kedua kali, rasul Paulus memberi serangkaian pesan praktis supaya kita bersama orang beriman: ‘.... bersuka-cita senantiasa; tetap berdoa; mengucap syukur dalam segala hal seturut kehendak Allah di dalam Kristus Yesus; jangan padamkan Roh, dan jangan anggap rendah nubuat-nubuat; ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik; jauhkan diri dari segala jenis kejahatan; dan kiranya Allah damai sejahtera menguduskan kita seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuh kita terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Sebab Ia yang memanggil kita adalah setia, maka Ia juga akan menggenapinya ...’ (1 Tesalonika 5:16-24). Salam Minggu Adven. TUHAN memberkati, melindungi, dan memulihkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia. *AAZS*

wajah web201903

Login Form