Allah ‘Sumber Kekuatan Kita’

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu Sexagesima, 7 Februari 2021

Allah ‘Sumber Kekuatan Kita’

(Yesaya 40:27-31)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai kita di mana pun berada. Kita memohon semoga Allah berkenan memberi kita kekuatan, ketahanan, serta hikmat baru untuk menghadapi dan mengatasi penderitaan dan dampak wabah virus corona yang masih melanda dunia. Melalui nabi Yesaya, Tuhan bersabda supaya umatNya beroleh penghiburan dan berpengharapan serta beriman kendati dalam kesedihan dan penderitaan karena pengalaman “pembuangan Babel”. Dan ajakan ini berlaku bagi kita umat masa kini yang menghadapi aneka derita dan kesedihan – termasuk gegara dampak pandemi covid-19 ini. Sebab Tuhan hendak memberi penghiburan, pemulihan, dan keselamatan bagi umat-Nya yang dikisakan seperti rumput yang kering dan layu (ayat 1-8). Karena itu, umat diminta supaya membarui iman dan pengharapannya. Sebab Tuhan melalui kuasa Firman-Nya yang kekal hendak berkarya untuk keselamatan manusia. TUHAN Allah datang dengan kekuatan dan tangan yang berkuasa. Dan sebagai upah jerih-Nya, TUHAN akan menyertai umat-Nya dan berjalan di hadapan-Nya. Bahkan TUHAN akan menggembalakan umat-Nya secara langsung yang kemudian nyata dalam peristiwa Yesus Kristus (ayat 11; Yoh. 10:1-11).

Saudara-saudari, mungkin kita kini punya keluhan sebagaimana umat-Nya dulu dan mungkin kita menuduh Allah tidak peduli dengan berkata: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?” (ayat 27). Terkait hal ini, mari kita renungkan pesan sabda: ‘Siapa yang menakar air laut dengan lekuk tangannya dan mengukur langit dengan jengkal...., menimbang gunung-gunung dengan dacing, atau bukit-bukit dengan neraca?’ (Yes. 40:12). “ ... DIA yang bertakhta di atas bulatan bumi... DIA yang membentangkan langit seperti kain.... (Yes. 40:21-22). Artinya bahwa kemaha-kuasaan Allah dalam proses penciptaan dan pemeliharaan bumi dan langit terlalu agung dan tak sebanding bila diperhadapkan dengan tantangan, pergumulan dan keluhan kita sebagai umat manusia sepanjang sejarah. Dan kuasa kreatif Allah dan hikmat-Nya yang mencipta dunia ini jauh lebih agung dan dahsyat dari keluhan dan derita umat-Nya. Sesuai hikmat dan waktu-Nya, Allah sanggup menyelamatkan umat-Nya yang suntuk, tertekan, dan letih-lesu dalam pembuangan. Dan itulah pesan nabi Yesaya - yang arti namanya: ‘TUHAN menyelamatkan’.

            Saudara-saudari, suatu pesan khusus pada bagian akhir nas perikop ini hendak menegaskan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN dalam pergumulannya akan mendapat kekuatan baru. Artinya bahwa dengan berpengharapan kepada TUHAN dan memercayakan sepenuhnya proses kehidupan kita kendati mesti melewati “pembuangan Babel”, maka kita akan mendapat pertolongan dan kekuatan berlipat-ganda serta karunia yang kita butuhkan dari TUHAN. Dengan menanti-nantikan TUHAN dan berpengharapan di dalam kuasa-Nya, maka kepada kita umat beriman dan yang berpengharapan dijanjikan: (a) Kekuatan Allah yang menyegarkan kehidupan kita yang letih-lesu dan berbeban berat bahkan diberi kemampuan baru menghadapi dan mengatasi aneka persoalan kehidupan seumpama rajawali yang naik terbang tinggi ke langit biru kendati angin badai menerpa; (b) Kesanggupan baru untuk ‘berlari secara rohani’ tanpa lelah dan terus ‘berjalan maju tanpa letih’ karena kuasa penyertaan-Nya. Sebab pertandingan kehidupan kerohanian ini ibarat ‘lari maraton dan ‘bukan lari seratus meter’. Karena itu, marilah mengandalkan penyertaan dan kekuatan dari TUHAN dalam konteks gumul dan juang iman kita dalam kehidupan keluarga, gereja, bangsa Indonesia, dan dunia yang sedang menghadapi penderitaan di masa pandemi covid-19 ini. Nantikan dan percayailah TUHAN yang perkasa, yang memberi kekuatan baru padamu di masa sulit ini, supaya kemudian Anda “berlari tak lesu dan berjalan tak lelah”, karena Allah sumber kekuatan kita, sampai akhir (Yes. 40:31). Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form