Hamba TUHAN yang Setia

 

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu Estomihi, 14 Februari 2021

Hamba TUHAN yang Setia

(2 Korintus 4:1-6)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai kita di mana pun berada. Kita memohon semoga Allah berkenan memberi kita kekuatan, ketahanan, kesabaran, dan hikmat baru untuk menghadapi dan mengatasi aneka penderitaan dan dampak wabah virus corona yang telah menginfeksi lebih dari 107 juta orang di dunia dengan jumlah meninggal melewati angka 2,3 juta orang. Dan kiranya program vaksinasi covid-19 tahun 2021 di Indonesia dapat terlaksana dengan baik.

Saudara-saudari, nas khotbah/renungan kali ini mengusung tema: ‘hamba Tuhan yang setia’. Sejak pertobatannya, rasul Paulus dalam proses pelayanannya memberitakan Injil Kristus, ia kerap mengalami banyak tantangan dari pihak Yudaisme dan dari dalam/luar gereja; ia sering menghadapi bahaya bahkan maut senantiasa mengintipnya. Deretan penderitaannya, antara lain: didera, dilempari, ditindas, dianiaya, diadili, dipenjarakan, dan dilepas. Kemudian, menghadapi peristiwa alam yang menakutkan seperti karam kapal yang terbawa arus ke tengah laut; digigit ular berbisa, dll. Pokoknya, ‘... dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa’, begitu kata rasul Paulus. Ia mengakui bahwa kemampaun fisiknya (lahiriah) akan semakin merosot. Keberadaan manusia lahiriah yang dihidupinya digambarkan laksana bejana tanah liat yang gampang remuk dan hancur. Tetapi di dalam diri rasul dan pemberita Injil itu, terdapatlah harta sorga yaitu Injil Kristus yang memberi kekuatan untuk menyelamatkan siapa saja yang percaya (2 Kor. 4:7). Injil Kristus itulah yang membarui manusia batiniah di tengah proses kemerosotan manusia lahiriah yaitu tubuh fana ini (2 Kor. 4:16; 5:1). Karena itulah, rasul Paulus mengaku: ‘Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan Firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah’, demikian penegasan rasul Paulus (2 Kor. 4:1-2, 7-12,16; Rm. 1:16-17).

     Saudara-saudari, renungan/khotbah ‘Minggu Estomihi’ ini, bersama rasul Paulus hendak mengajar dan mengajak kita, antara lain supaya:

(a) Setia menekuni panggilan Allah dalam segala situasi kehidupan kita masing-masing untuk melakukan yang terbaik kita dalam hal bersekutu, bersaksi, melayani, dan berkarya nyata semampu kita, hanya karena kemurahan Allah sebagai ‘gunung batu’ (esto-mihi);

(b) Tidak tawar hati dan pantang menyerah menghadapi rangkaian penderitaan yang kita alami di tengah kemerosotan fisik dan moral baik dalam pelayanan maupun dalam kehidupan sosial sehari-hari – termasuk di masa pandemi covid-19, sebab kita meyakini kuasa Firman Tuhan dan Roh Kudus-Nya sanggup membarui manusia batiniah kita dan dunia ini, hari demi hari;

(c) Sadar konteks bahwa Gereja berada dan berkarya di dunia yang menderita, namun Gereja bukan berasal dari dunia, tetapi dari kuasa dan karya Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus;

(d) Meyakini Injil Kristus sebagai kekuatan Allah yang membarui batiniah dalam proses kemerosotan lahiriah yaitu tubuh fana ini yang kelak akan dibongkar sampai akhirnya kita mendiami sorga abadi yang tidak dibuat oleh tangan manusia, tetapi oleh jari tangan Allah (2 Kor. 4:16; 5:1).

TUHAN memberkati, melindungi, memampukan kita bersama Gereja-Nya untuk setia sampai akhir dalam proses kehidupan kita. TUHAN kiranya memulihkan kota dan bangsa kita, Indonesia bahkan dunia ini. Salam. *AAZS*

wajah web201903

Login Form