Rabu Abu (Dies Cinerum)

HKBP Yogyakarta,

Suatu Renungan Khusus - Rabu Abu, 17 Februari 2021 –

40 Hari Menjelang Paskah

Rabu Abu (Dies Cinerum)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus! Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai kita di mana pun berada. Kita memohon semoga Allah berkenan memberi kita kekuatan, ketahanan, kesabaran, dan hikmat baru untuk menghadapi dan mengatasi aneka penderitaan dan juga dampak wabah virus corona yang telah menginfeksi lebih dari 107 juta orang di dunia dengan jumlah meninggal melewati angka 2,3 juta orang. Dan kiranya program vaksinasi covid-19 tahun 2021 di Indonesia dapat terlaksana dengan baik. Dan mari mematuhi protokol kesehatan 5M di era pandemi covid-19 ini.

Kalender Liturgi Gerejawi mengenal suatu momen peringatan dan permenungan dalam rangka memasuki Pra-Paskah, sekitar 40 hari menjelang Paskah – hari minggu tidak dihitung sebagai hari kemenangan. Acara tersebut dinamai Rabu Abu (Dies Cinerum, Rebo Orbuk, Ash Wednesday) yang berawal dari tradisi Yahudi mengenai pertobatan terkait ‘Hari Penebusan’ dari dosa (Yom Kippur). Perihal abu yang sering disertakan oleh manusia sebagai tanda penyesalan/pertobatan di hadirat Allah, Alkitab menginfokan, antara lain: (a) Ketika umat Israel menyesali diri, mereka menaburkan abu di atas kepalanya (Yosua 7:6); (b) Pemazmur mengungkap pertobatannya: “... sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan” (Mzm. 102:10); (c) Raja Niniwe menanggapi nubuat nabi Yunus: ‘.... turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu ...; umat dan ternak pun turut berpuasa’ (Yun. 3:6-9). Nabi Yoel menyerukan agar umat bertobat dan ‘mengoyakkan hati dan bukan pakaian’ (Yoel 2:13a).

            Saudara-saudari, tradisi Rabu Abu diambil-alih oleh Paus Gregorius I (590-604) dan kemudian diperkenalkan dalam Gereja. Sejak abad ke-11 (melalui Konsili Benevento 1091), kebiasaan praktik Rabu Abu menjadi umum (di Gereja Katolik Roma). Dalam konteks liturgi pra-Paskah di lingkungan gereja HKBP, permenungan terkait telah dimulai sejak Minggu Septuagesima (70), Sexagesima (60) dan Quinquagesima/Estomihi (50) hari, dan seterusnya menuju Paskah. Kendati tradisi Rabu Abu kurang populer di kalangan gereja HKBP (Protestan), namun pesannya dapat ditemukan dalam rangkaian kegiatan ‘ibadah-ibadah passion’ untuk mengenang penderitaan Kristus sebagai persiapan olah batin dan pertobatan dalam menyambut penebusan melalui Paskah Kristus.

            Perihal acara Rabu Abu, sejumlah gereja menyelenggarakan ibadah yang di dalamnya dirangkai dengan suatu tindakan menempelkan atau mengoleskan abu (debu) berbentuk salib di kening atau jidat (pardompahan). Aksi penempelan abu tersebut merupakan suatu tindakan simbolik untuk mengingatkan kefanaan dunia, terutama mengingatkan kefanaan manusia yang berasal dari tanah (abu), hidup dari tanah, dan akan kembali menjadi tanah (abu). Alkitab berkata bahwa dari tanah kita diambil, sebab kita debu dan akan kembali menjadi abu (Kej. 3:19). Tindakan penempelan abu ini juga hendak mengingatkan bahwa sumber keselamatan manusia hanya dari TUHAN yang maha-kasih. Karena itulah manusia mesti mengandalkan kuasa dan belas-kasih-Nya.

            Karena itu, pesan pokoknya adalah supaya kita bertobat, mengoyakkan hati (Yoel 2:13a; Mrk 1:14). Pertobatan sejati adalah mengubah sikap hati, yakni: dari hati yang suka mencela menjadi berbela-rasa, dari yang membenci menjadi mencintai, dari congkak hati menjadi rendah hati, karena Yesus.

            Saudara-saudari, untuk memaknai Rabu Abu dalam rangka mengawali dan mengisi masa-masa Pra-paskah, maka tradisi gereja mengajak kita untuk berpuasa dan/atau berpantang. Perlu ditegaskan bahwa puasa sejati telah dikerjakan oleh Yesus dengan sempurna. Bentuk dan isi puasa bagi orang beriman ‘zaman now’ – terutama adalah: pantang melakukan dosa, kejahatan, dan kekerasan, ketidak-adilan; pantang merendahkan martabat orang lain; pantang korupsi; pantang mengambil yang bukan bagian kita; pantang menggunduli hutan dan membuang sampah/limbah sembarangan; dan pantang serakah. Sebab bila terjadi keserakahan, maka dunia tidak akan pernah cukup untuk kesejahteraan kita, the world has enough for everyone’s need, but not for everyone’s greed, begitu kata Mahatma Gandhi (1869-1948). Karena itu, mari bertobat dengan membarui sikap hati dan pikiran serta bertindak seturut perintah-Nya sebagai tanggapan kita terhadap karya agung Yesus Kristus yang mencintai kita yang rapuh dan ringkih ini. Salam Rabu Abu. *AAZS*

wajah web201903

Login Form