Janji dan Kuasa Allah: ‘Busur-Ku Kutaruh di Awan’

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu Invocavit, 21 Februari 2021

Janji dan Kuasa Allah: ‘Busur-Ku Kutaruh di Awan’

(Kejadian 9:8-17)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Alkitab Perjanjian Lama memberitakan bahwa ketika TUHAN melihat kejahatan manusia di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN dan hati-Nya pilu. Karena itu TUHAN memutuskan hendak menghapuskan manusia/makhluk dari bumi dengan air bah. Tetapi seorang yang bernama Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN dan selamat.

Nuh (Noak) adalah seorang yang benar, karena imannya; ia hidup bergaul dengan Allah (Kej. 6:9; Ibr. 11:7). Ia digambarkan sebagai seorang yang tidak bercela di antara orang-orang sezamannya yang telah terbenam dalam taraf hidup moral yang sangat rendah (Kej. 6:1-5, 9, 11-13; Mt. 24:37-38; Lk. 17:26-27) dan kepada mereka Nuh memberitakan kebenaran supaya bertobat (2Ptr 2:5). Nuh harus menderita sekitar 120 tahun diusik dan dikucilkan oleh orang-orang sezamannya karena cara hidupnya yang berbeda; namun Nuh tak tergoyahkan.

Alkitab mencatat bahwa Nuh (Noah) berhasil luput dari hukuman air bah (banjir dahsyat) dan kemudian selamat berkat ketaatannya pada perintah Allah dengan membuat sebuah bahtera besar dari kayu gofir. Atas perintah Allah, Nuh bersama keluarganya, 8 (delapan) orang, masuk ke dalam bahtera itu dan juga sejumlah besar binatang. Nuh melakukan semuanya itu seturut perintah Allah. Kemudian air bah (banjir dahsyat) datang selama 150 hari. Nuh bertarung dengan badai dan angin taufan sembari mengemban tanggung-jawab atas ‘kebun binatang terapung raksasa’. Nuh bersama keluarganya diselamatkan dari bencana air bah, sementara orang-orang pada zamannya musnah. Nuh menanti selama lebih dari 4 bulan sampai diijinkan keluar dari bahtera setelah air bah surut (Kej. 6:5 s/d 9:19). Nuh yang namanya berarti “ketenangan” atau “istirahat”, dipandang sebagai orang yang tulus dan berjaga-jaga, berhasil luput dari hukuman air bah. Nuh yang berusia 950 tahun itu adalah semacam ‘mujizat yang hidup’ dengan memiliki ‘damai sejahtera yang melampaui segala akal’ dalam menghadapi kesulitan dan tantangannya.

Setelah ‘peristiwa air bah’, Allah berfirman dan mengadakan perjanjian dengan Nuh: ‘... busur-Ku Kutaruh di awan ...’. ‘Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan, maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup sehingga segenap air (air bah) tidak lagi memusnahkan segala yang hidup’. Dan "inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi".Busur-Ku Kutaruh di awan ...” (Kej. 9:13,17). Istilah ‘busur’ dalam nas ini adalah pelangi atau bianglala (‘haqqeset’; ‘rainbow’; ‘halibutongan’). Ciri khas perjanjian ini bersifat universal, berlaku tidak hanya kepada Nuh dan keturunannya, tetapi juga kepada setiap makhluk hidup, tanpa syarat, sekarang sampai akhirat. Oleh kemurahan Allah dan dalam kebebasan-Nya yang penuh belas-kasih, Dia berjanji tidak akan memusnahkan lagi makhluk hidup dengan air bah.  

Saudara-saudari, relevansi ‘air bah’ dan ‘busur di awan’ kiranya dapat dipahami sebagai suatu lambang yang menunjuk pada penghakiman kelak yang akan menimpa orang-orang berdosa yang tidak percaya kepada Yesus, tetapi keselamatan bagi orang yang percaya dan dibaptis. ‘Air bah’ zaman Nuh membinasakan, tetapi ‘air baptisan kudus’ dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus menyelamatkan orang beriman (Yes. 54:9; 1Ptr. 3:18-22; Mat. 24:38-39; Mrk 16:16; Mat 28:19; Lk. 17:27; 1 Ptr 3:12-22; 2 Ptr 2:5; 3:6). Karena itu, marilah setia beriman kepada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus supaya kita dibenarkan di hadirat-Nya dan menaati perintah-Nya yang tidak selalu bersesuaian dengan selera manusia dan zaman. ‘Salam pelangi kasih-Nya’. *AAZS*

wajah web201903

Login Form