Mengasihi TUHAN Allah

HKBP Yogyakarta,

Renungan Minggu Okuli, 7 Maret 2021

Mengasihi TUHAN Allah

(2 Musa/Keluaran 20:1-11)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. ‘Tiga agama yang bersaudara’ yakni Yudaisme, Kristianisme, dan Islamisme - sama-sama menganut dan menjunjung tinggi paham monoteisme yang menegaskan kepercayaan kepada satu TUHAN. Kitab Suci Yudaisme dan Kristianisme memahami dan menghayati bahwa Sepuluh Hukum Taurat  (selanjutnya disingkat SHT) merupakan wahyu yang hidup serta menghidupkan dari TUHAN. SHT tertulis dalam Kitab Keluaran pasal 20:1-17 dan dicatat kembali dalam Kitab Ulangan pasal 5:6-22. Hukum yang paling awal dari SHT menuntut supaya kita hanya menyembah dan percaya kepada TUHAN yang Esa.

Alkitab memberitakan bahwa setelah TUHAN membebaskan dan menyelamatkan Israel, umat-Nya, dari perbudakan Mesir, maka kemudian TUHAN memberikan SHT sebagai suatu tanda perjanjian kepada umat-Nya di gunung Sinai. Tujuan pemberian SHT adalah supaya umat hidup dengan tertib dan teratur di hadapan TUHAN dan di antara sesama umat. Dan inilah suatu cara mengidentifikasi umat TUHAN yaitu dengan merawat SHT.

Saudara-saudari, istilah Taurat (Ibrani: Tôrâ ) - berarti petunjuk atau pengajaran dari TUHAN yang diberikan kepada umat-Nya, Israel, untuk dijadikan sebagai patokan praktis dan acuan etis/moral. Inti pengajaran itu dirangkum dalam Sepuluh Hukum Taurat atau Dekalog (Kel. 20:1-17; Ul. 5:6-22). SHT tersebut dapat dibagi kedalam dua bagian, yakni: (a) Mengasihi TUHAN Allah (hukum ke-1 s/d ke-4); dan (2) Mengasihi sesama (hukum ke-5 s/d ke-10). Dan kiranya boleh diungkapkan bahwa SHT adalah “sumber dari segala sumber hukum” yang kita butuhkan supaya umat dapat bertahan hidup lebih lama, lebih baik, lebih benar, lebih adil, dan lebih bermartabat.

Alkitab Perjanjian Baru menegaskan bahwa Yesus telah menggenapkan tuntutan Hukum Taurat. Yesus kemudian ‘meringkas’ SHT dalam bentuk perintah rangkap yakni supaya kita: ‘Mengasihi Tuhan, Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi’. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: ‘Mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri’. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh Hukum Taurat dan Kitab Nabi’ – begitu kata Yesus (Mat. 22:37-40; ). Nas  khotbah kali ini secara khusus diacu dari Hukum Taurat yang ke-1 sampai ke-4. Intinya mengajak umat tebusan-Nya dan kita orang beriman masa kini supaya: (a) Menyembah TUHAN Allah saja dan jangan pernah ada ilah lain di hadapan-Nya; (b) Mengingat dan menguduskan hari Sabat bagi TUHAN. Relevansinya adalah supaya kita orang beriman dalam kehidupan masa kini supaya menomor-satukan TUHAN yang senantiasa lebih besar. Melalui buku Katekismus-nya,  Luther (1483-1546) membantu kita memahami arti dan relevansi SHT.

Saudara-saudari, mengapa Sepuluh Hukum Taurat sering dibacakan/diperdengarkan dalam rangkaian Ibadah Minggu di Gereja HKBP dan yang serumpun? Kenapa SHT jarang dibacakan di lingkungan gereja yang - misalnya beraliran Neo-Pentakosta/Kharismatik, dll? Masihkah SHT berlaku dan relevan dalam konteks kehidupan gereja modern masa kini? Atau perlukah kita diskon beberapa bagian, misalnya hukum ke-6,7,8,9: jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri??? Atau perlukah SHT masuk museum karena tidak menyelamatkan?

    Saudara-saudari, sebagai orang beriman yang diselamatkan karena iman dan rahmat di dalam Yesus, marilah kita memahami dan memaknai SHT atau dekalog menjadi dialog yang hidup dengan melakukan hukum kasih  - yaitu mengasihi TUHAN Allah dan sesama agar dekalog tidak menjadi sebuah katalog yang tersimpan di ‘museum rohani’. Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk terus belajar mengasihi TUHAN Allah dan sesama - pun di masa-masa sulit - sebagai cara kita merawat SHT. ‘Sebab inilah kasih kepada Allah yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya (1 Yoh 5:3). Dan perintah-Nya itu tidak berat, asal kita mau aja. Salam. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form