Bersoraklah Karena Kasih Setia TUHAN
 

Renungan Minggu Palma, 28 Maret 2021

Bersoraklah Karena Kasih Setia TUHAN

(Mazmur 31:8-16)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Seiring dengan penghayatan akan Liturgi Gerejawi, kini kita memasuki Minggu Palma (Batak: Minggu Maremare). Istilah ‘Palma’ dari kata Latin’ palmarios’ atau ‘palma’ artinya ‘daun palem’ atau ‘telapak tangan’. Minggu Palma – yang sekaligus memasuki Pekan Paskah - hendak menandai awal permenungan khusus mengenai narasi pengorbanan, sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus dari maut. Yesus memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai beban yang muda, kemudian umat menyambut Yesus dengan menghamparkan pakaian, melambaikan ranting pohon palma dengan berseru: Hosanna (Ibrani: Hosyia’na) yang berarti Tolonglah!, Selamatkanlah! atauHoras!. (Mrk. 11:1-10; Luk. 19:28-38; Mat. 21:1-10; Yoh. 12:12-15). Relevansinya, marilah kita juga bersorak, berseru, dan berdoa: Ya TUHAN, tolonglah, selamatkanlah supaya kami ‘Horas’ dan ‘Syalom’ - kendati kita masih harus menghadapi rangkaian tantangan, kesulitan, derita, dan sengsara – termasuk dalam menghadapi dan mengatasi dampak pandemi covid-19 yang masih melanda Indonesia bahkan dunia kini.

Saudara-saudari, mengagumkan bahwa dalam konteks kehidupan yang sarat kesusahan (ratapan) keluh-kesah, jiwa dan tubuh yang merana, serta ancaman yang dialaminya - sebagaimana diungkap melalui pasal 31:1-25 ini - pemazmur kemudian bertekad sekaligus bersaksi dengan berkata: “Aku akan bersorak-sorak dan bersukacita karena kasih setia-Mu, sebab Engkau telah menilik sengsaraku, telah memperhatikan kesesakan jiwaku ....” (Mzm. 31:8-9). Kemudian pemazmur juga mendaku dengan berkata: Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan! (Mzm. 31:22). Selain pemazmur, Alkitab juga menginfokan bahwa dalam pergumulannya yang hebat, nabi Yeremia pernah merasakan kesedihan mendalam dan rasa takut. Tetapi kemudian TUHAN menolong dan memulihkannya. Lebih dari itu semua, Yesus sendiri telah menghadapi rangkaian derita, sengsara, dan pengorbanan-Nya di kayu salib sampai wafat. Dalam proses penderitaan-Nya di kayu salib, Yesus pernah berteriak nyaring dengan berkata: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat. 27:46; Mrk. 15:34; kutipan dari Mazmur 22:2). Dan di akhir derita-Nya, Yesus berkata: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" (Luk. 23:46; kutipan dari Mazmur 31:6) dan setelah berkata demikian, Ia wafat. Tetapi kemudian Ia bangkit dari maut dan menjadi Jurus’lamat bagi segenap orang yang beriman kepada-Nya.

     Saudara-saudari, topik khotbah di Minggu Palma kali ini, secara khusus mengajak kita supaya bersorak-sorai dan bersuka-cita karena kasih setia dari TUHAN yang telah dan akan menilik sengsara kita dan memerhatikan kesesakan jiwa kita di masa sulit ini. Angkatlah jiwamu (dan tanganmu), semampumu, untuk menyambut Yesus Sang Penolong dan Pembebas kita. Mari terus berpengharapan, beriman, dan memohon pertolongan dari TUHAN Allah karena kasih setia-Nya. Sebab Dia adalah Allah ‘sumber rahmat yang tak habis-habisnya’, yang ditujukan-Nya kepada kita umat-Nya dan segenap makhluk, yang dinyatakan melalui peristiwa Yesus Kristus. Ia pernah menderita sengsara dan telah meninggalkan teladan mulia supaya kita setia mengikuti jejak-Nya dengan mengandalkan penyertaan dan pertolongan-Nya. TUHAN memberkati, melindungi, dan memulihkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia. Salam Minggu Palma. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form