Ditebus Seharga Nyawa Yesus

HKBP Yogyakarta,

Suatu Khotbah/Renungan Khusus

Jumat Agung (Good Friday), 2 April 2021

Ditebus Seharga Nyawa Yesus

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya hendak menyapa segenap warga dan majelis, para pembaca serta sahabat di manapun berada. Kita percaya bahwa TUHAN berkenan memberkati dan melindungi kita bersama gereja dan bangsa kita di masa sulit yang memprihatinkan ini - terutama dalam konteks Indonesia yang sedang menghadapi tantangan intoleransi/radikalisme/terorisme, kemiskinan dan ketidak-adilan, krisis ekologis, dll., yang kemudian diperparah oleh dampak pandemi covid-19. TUHAN kiranya berbelas-kasih dan memulihkan desa/kota dan bangsa kita Indonesia bahkan dunia.  

Saudara-saudari, empat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) mencatat dan bersaksi mengenai peristiwa Yesus yang menderita sengsara, disalibkan di bukit Golgota, wafat, dikuburkan, kemudian pada hari yang ketiga bangkit dari maut dan menjadi Jurus’lamat bagi kita dan bagi segenap orang beriman kepada-Nya.

Secara khusus dalam rangkaian Ibadah Jumat Agung pada masa sulit yang memprihatinkan ini, termasuk karena dampak pandemi covid-19, marilah membaca, merenungi, menghayati, dan mendaraskan dalam hati kita tujuh ucapan Yesus dari kayu salib di Golgota. Kiranya Roh Kudus, Pengajar dan Penghibur sejati memampukan kita untuk memaknai dan menghayati-ulang karya agung Yesus yang telah meninggalkan teladan suci bagi kita supaya kita mengikuti jejak-Nya (1 Ptr 2:21). Marilah memohon kiranya Roh Kudus memampukan dan memberdayakan kita masing-masing dalam menghadapi dan mengatasi proses penderitaan dan pergulatan kehidupan kita sehari-hari dalam kehidupan keluarga, jemaat, masyarakat, dan bangsa.

Berikut ini, tujuh ucapan Yesus ketika Dia disalibkan di bukit Golgota: (1) Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Ale Amang! Marpamuati ma rohaM mida nasida, ai ndang diboto nasida na binahennasida i (Lukas 23:34); // (2) Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus. Situtu do Hatangkon tu ho: Sadari on do ho rap dohot Ahu di Paradeiso! (Lukas 23:43); // (3) Ibu, inilah anakmu! Inilah ibumu! Ndi ma Inang, anakmi; Ndi ma Inangmi !     (Yohanes 19:26,27). // (4) Aku haus! Mauas Ahu! (Yohanes 19:28); // (5) Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Eloi, Eloi, lemã sabachtâni! Ale Debatangku, Debatangku, boasa tung tadingkonon-Mu Ahu? (Markus 15:34; Matius 27:46). (6) Sudah selesai! Nunga marujung!          (Yohanes 19:30). // (7) Ya Bapa, kedalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku! Amang! Tu bagasan tangan-Mu ma Hupasahat tonding-Ku! (Lukas 23:46). Dengan ucapan-Nya yang terakhir dari kayu salib, maka Yesus menyerahkan nyawa-Nya, kemudian Ia menundukkan kepala-Nya dan wafat.

       Saudara-saudari, nas khusus yang ditetapkan dari Evangelium Lukas 23:44-48 pada Jumat Agung ini, antara lain mengungkap bahwa pada saat Yesus disalibkan, matahari tidak bersinar selama 3 (tiga) jam dan tabir bait suci terbelah dua (Lk. 23:44; bnd. Kel 26:31-33). Artinya adalah bahwa matahari pun tidak sanggup dan malu menampakkan wajah/sinarnya karena Yesuslah Sang Matahari Kebenaran dan Terang Dunia sejati yang menghidupkan dan menyelamatkan semesta. Peristiwa kegelapan yang terjadi waktu Yesus disalibkan, bukanlah karena gerhana matahari. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus kemudian menjadi Pengantara dan Pendamai antara Allah Yang Maha Kudus di sorga dan manusia di bumi yang penuh dosa dengan terkoyaknya tabir pembatas di altar kudus. Melalui kematian-Nya, Yesus menebus orang berdosa yang percaya kepada-Nya dengan lunas seharga nyawa Yesus, demi keselamatan kita kini dan akhirat. Karena itu, muliakanlah Allah dengan hati, pikiran, jiwa, dan tubuhmu kini dan esok sampai akhir. Salam. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form