Biarlah Segenap yang Bernafas Memuji TUHAN!

HKBP Yogyakarta,

Khotbah Minggu Kantate, 2 Mei 2021

Biarlah Segenap yang Bernafas Memuji TUHAN!

(Mazmur 150:1-6)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Saya kembali menyapa segenap pembaca dan sahabat di mana pun berada. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah kiranya menyertai kita di mana pun berada pada masa kerinduan akan pemulihan bagi kita di dunia yang menderita ini, termasuk pemulihan atas bangsa kita dalam menghadapi dan mengatasi dampak covid-19 yang menyulitkan kehidupan sosial-ekonomi dan budaya kita. Kiranya TUHAN memberkati, menyertai, dan berbelas-kasih untuk kita semua.

Saudara-saudari, perkenankan saya mengutip-ulang teks Mazmur penutup yaitu pasal 150:1-6 yang bersifat imperatif ini: (150:1) Haleluya! Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! (150:2) Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya, pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat! (150:3) Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala, pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! (150:4) Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian, pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling! (150:5) Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang! (150:6) Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!

Dalam Mazmur pasal 150 ini, kita membaca dan menemukan sebanyak 10 (sepuluh kali) kali - bahkan 12 (dua-belas) kali pemazmur mengajak umat supaya memuji TUHAN – dan kemudian mengajak segenap makhluk yang bernafas supaya memuji TUHAN. Rinciannya, mazmur penutup ini diawali dan diakhiri dengan ungkapan sekaligus ajakan: Haleluya! (dari kata: ‘Hallel’ dan ‘Yah’) – yang artinya ‘Pujilah Yahwe’, ‘Pujilah TUHAN’. Kemudian ajakan supaya memuji Allah: ‘Pujilah ...’ sebanyak 10 (sepuluh) kali. Umat memuji TUHAN di tempat kudus-Nya dan dalam cakrawala-Nya yang kuat karena keperkasaan dan kebesaran-Nya. Umat diajak memuji TUHAN dengan iringan aneka musik (sangkakala, gambus, kecapi, rebana, tarian, seruling, ceracap yang berdenting dan berdentang; piano, gitar, keroncong, biola, terompet, saksofon, organ, drum-band, dll).

Secara khusus, pemazmur mengajak supaya segenap yang bernafas memuji TUHAN. Artinya supaya pujian kepada TUHAN kiranya berwawasan lingkungan hidup dan alam ciptaan (eko-teologi). Sebab karya penebusan oleh Yesus Kristus berlaku tidak hanya kepada orang beriman, tetapi juga bagi segenap makhluk, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga oleh darah salib Yesus Kristus (Kol. 1:20; Mrk. 16:15).

     Saudara-saudari, secara liturgis, minggu ini kita sedang menghayati Minggu Kantate yaitu minggu yang bernyanyiatau ‘menyanyi’. Minggu Kantate hendak mengajak kita supaya: “Menyanyikan nyanyian baru’ yang memuliakan TUHAN (Mzm 98:1; Ibr. 13:15). Isi nyanyian baru berpusat pada TUHAN Allah yang telah melakukan karya penebusan yang ajaib dan dahsyat, adil dan benar, yang telah menyatakan kasih paling agung melalui nama dan peristiwa Yesus Kristus sebagai Jurus’lamat (Mzm. 98:1-9; Yoh. 3:16; Rm 1:16-17). ‘Nyanyian baru’ tersebut menggantikan ‘nyanyian lama’ yang berpusat pada selera manusia berdosa, tetapi ‘nyanyian baru berpusat pada kehendak Allah yang mengampuni dan berbelas-kasih’ bagi kita. Karena itu, marilah kita setia memuji TUHAN dengan segenap jiwa, batin, dan perbuatan kita selagi nafas dikandung badan. Dan marilah kita memuji TUHAN dengan wawasan lingkungan hidup (ekologis) karena berita Injil Kristus ditujukan kepada segenap makhluk (Mrk. 15:16) supaya kemudian segenap yang bernafas memuji TUHAN (Mzm. 150:6). Salam. *AAZS* hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form