Allah yang Memerdekakan!

HKBP Yogyakarta,

Khotbah Minggu XI Trinitatis, 15 Agustus 2021

Allah yang Memerdekakan!

(Yohanes 8:30-36)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Peringatan Syukur dan Perayaan HUT ke-76 (17 Agustus 2021) Kemerdekaan Republik Indonesia mengusung Tema: INDONESIA TANGGUH, INDONESIA TUMBUH. Kiranya TUHAN memberi kita ketangguhana dan pertumbuhan baru di masa dan setelah pandemi covid-19 ini. Sebagai warga Indonesia, mari turut bangga dengan Pancasila sebagai dasar negara dan juga semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menghargai dan merayakan keanekaan sebagai kekuatan berbangsa. Selain menyanyikan lagu kebangsaan, bolehlah kita juga menghayati lirik/teks lagu yang bernas dari Kidung Jemaat (KJ) 336:Dirgahayu Indonesia, bangsa serta alamnya; kini dan sepanjang masa, s’lalu TUHAN sertanya. Bangsa, rakyat Indonesia, Tuhanlah Pelindungnya; dalam duka serta suka, TUHAN yang dipandangnya’.

Saudara-saudari, dalam kaitannya dengan kemerdekaan, marilah sejenak memahami dan menghayati ajaran Gereja kita melalui Konfesi (Pengakuan Iman) HKBP 1996 Pasal 13yang menegaskan bahwa: “… Kita menekankan, Allahlah yang memberikan kemerdekaan itu kepada bangsa Indonesia yang berasaskan Pancasila dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kita menekankan, Yesus Kristus, Panglima Gereja, sebagai jalan kita untuk meminta. Kita menekankan cita-cita dan tanggung-jawab warga masyarakat dalam memperjuangkan keadilan, kasih, damai, dan kesejahteraan melalui pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila. Kita menekankan bahwa kita turut serta menegakkan dan memelihara kebenaran, demikian juga turut menikmati hasil pembangunan nasional. Gereja terpanggil mendoakan pemerintah dan aparatnya”..... (1 Tim. 2:1-2; Roma 13:1-7). Demikian antara lain penegasan dan penghayatan HKBP terkait kemerdekaan dalam konteks bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia.

Alkitab Perjanjian Lama menginfokan bahwa dulu di kalangan Yahudi, para budak harus diberi kemerdekaan dan hutang dihapuskan pada Tahun Ketujuh – yaitu Tahun Sabat - bahkan kemudian memuncak di Tahun Yobel (Kel. 21:2; Ul. 15:12; Im. 25). Alasan dan pertimbangan pelaksanaan pembebasan terhadap budak di tahun ketujuh adalah karena dulu pun orang Israel adalah budak dan tidak mempunyai tanah di Mesir. Tetapi kemudian TUHAN Allah membebaskan mereka dan menganugerahkan Tanah Kanaan, seturut janji-Nya. Relevansi nas teologi sosial ini, antara lain hendak mencegah agar tidak terjadi pemiskinan dan perbudakan yang berkelanjutan. 

Alkitab Perjanjian Baru mengungkap bahwa setiap orang beriman (orang Kristen) adalah orang  yang telah dimerdekakan/dibebaskan oleh TUHAN karena rahmat dari Yesus Kristus. Pertama-tama dan terutama bahwa Yesus Kristus memerdekakan orang beriman dari perhambaan/perbudakan karena dosa-dosa  bahkan dari kuasa maut (Yoh. 8:36; 1 Kor. 7:22; Rm 6:18,22; 8:2,21). Alkitab menegaskan bahwa Yesus Kristus sebagai Sang Kebenaran telah dan akan memerdekakan setiap orang beriman yang tinggal dalam Firman-Nya (Yoh. 8:30-36). Rasul Petrus mengajak orang Kristen supaya: “... hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalah-gunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah” (1 Ptr 2:16). Martin Luther (1483-1546) mengajarkan relevansi kemerdekaan (kebebasan) orang-orang Kristen yaitu merdeka/bebas berbuat baik, benar, adil dan damai, tetapi tidak bebas berbuat dosa.

Sebagai orang beriman yang dimerdekakan karena iman dan rahmat di dalam nama Yesus Kristus, marilah melanjutkan kemerdekaan ini dengan turut-serta memperjuangkan keadilan, perdamaian, kesejahteran, dan keutuhan ciptaan di tempat kita masing-masing, di Indonesia, semampu dan sekuat kita, dengan doa dan perbuatan terbaik, sebagai tanggapan kita atas kemerdekaan sejati yang dikaruniakan oleh Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus. TUHAN memberkati, melindungi, dan menyembuhkan kita bersama Gereja dan bangsa Indonesia. Salam. *AAZS*  hkbpjogja.org

wajah web201903

Login Form