Renungan Minggu Palmarum 13 April 2014

Hosyana, ‘Tolonglah’, ‘Selamatkanlah’, ya TUHAN!

(Matius 21:1-11)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kini kita sedang memasuki Minggu Palma yang secara khusus dihubungkan dengan rangkaian pelayanan dan penderitaan Yesus menjelang peristiwa penyaliban dan kematian-Nya. Kitab Injil mencatat, Yesus memasuki kota Yerusalem dengan menaiki seekor keledai beban betina muda. Kenapa dengan ‘seekor keledai’ dan bukan ‘seekor kuda’? Dengan mengendarai ‘seekor keledai’, Yesus hendak menggenapkan nubuat nabi Zakharia dan menegaskan bahwa Yesus sebagai Mesias membawa damai bagi kota dan dunia, bagi HKBP dan Indonesia. Yesus membenci perang, kekerasan dan hukum rimba. Para pahlawan nasional, seperti Sisingamangaraja XII misalnya, tampil dengan menaiki seekor kuda yang siap tempur melawan penjajah tempo doeloe. Dan masih segar dalam ingatan, saatkampanye politik bulan Maret 2014, seorang calon presiden RI muncul dengan menunggang seekor kuda yang gagah, bukan dengan seekor keledai.

Pada saat Yesus memasuki kota Yerusalem dengan “mengendarai” seekor keledai, maka orang banyak menyambut-Nya dengan menghamparkan kain di jalan, memotong ranting-ranting pohon dan menyebarkannya di jalan dan kemudian orang banyak berseru-seru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama TUHAN, hosana di tempat yang Mahatinggi!" (Mat. 21:9b; Mrk. 11:9; Yoh. 12:12-15; Luk. 19:28-38; Zak. 9:9).Sebutan ‘hosyana’ dalam perikop renungan ini telah bergema dalam Mazmur 118:25 > “.... Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan, berilah kiranya kemujuran”, yang diikuti dengan ungkapan: “ … diberkatilah Dia yang datang dalam nama TUHAN”. Asal-usul kata ‘hosana’ dari kata Ibrani (Heber) yaitu: hosyia’na yang berarti ‘tolonglah!’, ‘selamatkanlah!’; atau dapat juga berarti ‘hore!’ atau ‘horas!’. Istilah ‘hosyiana’ merupakan suatu seruan populer (bnd. Mzm. 12:2; Mzm. 118:25) yang mirip dengan sorak-sorai berisi pengharapan akan suatu keselamatan. Seruan itu aslinya diterapkan kepada raja yang mendekati Yerusalem untuk beribadah di bait suci. Dan seruan itu sesungguhnya tepat sebab Yesus adalah Raja yang dinanti-nantikan umat yang sedang memasuki Yerusalem. Kitab Injil mencatat bahwa Yesus telah memberitahukan tiga kali bahkan empat kali bahwa Ia sebagai Mesias dari Allah akan melewati jalan penderitaan (via dolorosa) dan pengorbanan-Nya dengan penuh cinta melalui peristiwa salib, kematian, dan kebangkitan dari maut demi keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Kebangkitan-Nya menaklukkan kuasa dosa yaitu maut sebagai musuh terkuat dan terakhir. Siapa pun, kapan pun, dan di mana pun tidak ada yang bisa menaklukkan dosa dan maut kecuali oleh Kristus yang memberi keselamatan sejati.  

Saudara-saudari, renungan minggu palma ini, antara lain, hendak mengajak kita agar: (a) Menyambut Yesus sebagai Mesias dan Penyelamat yang turut menderita untuk membebaskan kita dari kuasa dosa dan maut serta memberi kita kemenangan dan pengharapan yang tidak mengecewakan asal kita setia pada-Nya; (b) Menanggapi karya penebusan-Nya melalui sebentuk pertobatan hati dan tindakan yang baik dan benar – sebagai ganti ‘ranting pohon dan hamparan kain’ - untuk membarui hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, khususnya dalam minggu passion ini; (c) Mempersembahkan talenta atau harta benda “yang belum pernah diduduki” untuk digunakan sebagai “kendaraan” bagi kehendak TUHAN dan untuk kepentingan pelayanan gerejawi sebagai tanda syukur atas penyertaan dan pertolonganTUHAN bagi kita masing-masing.

wajah web201903

Login Form