Kebangkitan Kristus dari Maut

Menjadikan Kita ‘Lahir Kembali’

 (1 Petrus 1:3-9)

 Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Seiring penghayatan akan tahun liturgi (kalender gerejawi), bahwa selama 40 hari sejak Paskah raya – sebelum peringatan akan Kenaikan Tuhan Yesus ke sorga - rangkaian ibadah kita masih berkaitan dengan penghayatan mengenai Paskah yang berpusat pada Kristus Yesus yang bangkit mengalahkan kuasa maut. Oleh karena itu, masih relevan bila disampaikan ucapan: Salam Paskah bagi kita semua! 

 Minggu kita kali ini diberi nama Latin Quasimodogeniti yang artinya: ‘seperti bayi yang baru lahir’, yang haus dan lapar akan susu murni demi suatu pertumbuhan yang sehat dan prima. Istilah tersebut diberi isi dan makna baru secara rohani yang menekankan bahwa  iman kepada kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati telah melahirkan kita kembali (‘manubuhon hita paduahalihon’) kepada suatu hidup yang penuh harapan untuk menerima suatu bagian yang tidak binasa, yang tidak dapat cemar, dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kita orang beriman kepada-Nya dengan mengandalkan rahmat-Nya (1 Ptr 1:3-4). Firman TUHAN sebagai benih yang tidak fana, yang hidup dan yang kekal telah melahirkan kita kembali karena peristiwa Kristus Yesus (1 Ptr. 1:23).

 Salah satu ajaran pokok iman Kristiani adalah mengenai ‘lahir kembali’ (‘tubu paduahalihon’, ‘born again’). Yesus pernah mengajarkan hal ini secara khusus kepada Nikodemus (Yoh. 3:1-8). Tanpa ‘kelahiran kembali’ atau ‘lahir baru’, seseorang tidak mungkin dapat melihat Kerajaan Allah yaitu menerima hidup kekal dan keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus. Lahir kembali atau dibarui adalah suatu proses ‘penciptaan kembali’ dan suatu proses perubahan sifat/karakter seseorang (Rm 12:2; Ef. 4:23-24). Anugerah Allah melalui pemberitaan Firman danpelayanan Sakramen baptisan kudus adalah hal untuk menandai kelahiran kembali bagi orang beriman yang dikerjakan oleh kuasa Roh Kudus (Yoh. 3:6; Tit. 3:5). Dengan proses ini, maka Allah menyalurkan hidup  kekal kepada orang beriman (Yoh. 3:16; 2 Ptr 1:4; 1 Yoh. 5:11) sehingga orang beriman menjadi anak Allah (Yoh. 1;12; Rm 8:16-17; Gal. 3:26) atau disebut juga menjadi ‘ciptaan baru’ (2 Kor. 5:17; Kol. 3:9-10). Yaitu ‘diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan’ (Ef. 4:24; Kol. 3:10).  Bila terpisah dari Kristus, maka semua orang dengan kodratnya adalah berdosa dan tidak mungkin taat dan berkenan kepada Allah (Rm 3:23; 8:6-8). Anugerah kelahiran kembali (pembaruan) kemudian menuntut suatu tanggapan yaitu bertobat dari cara hidup lama yang sarat dosa ke  hidup baru dalam ketaatan kepada Allah melalui iman di dalam peristiwa Yesus Kristus yang menjadi TUHAN dan Jurus’lamat bagi kita yang percaya. Sabda Tuhan berkata bahwa di dalam nama Yesus Kristus yang telah bangkit dari maut, maka kita telah dihantar kepada tujuan iman yaitu keselamatan jiwa kita (1 Ptr. 1:9). Kendati kita masih harus menderita oleh berbagai-bagai pencobaan di dunia ini (realisme), namun kita harus berpengharapan karena Kristus. Dan marilah kita memahami penderitaan itu sebagai proses untuk mendewasakan dan memurnikan iman kita yang jauh lebih tinggi nilainya dari emas yang fana (bnd. 1 Ptr. 1:7; 5:10; 2 Kor. 4:17). 

Oleh karena itu, saudara-saudari, terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima medali sorgawi yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat layu  (1 Ptr. 1:3-5). Sebagai manusia yang kita yakini telah “dilahirkan kembali” oleh rahmat dan kuasa kebangkitan-Nya, marilah kita senantiasa berpengharapan dan bertumbuh menuju kedewasaan rohani dengan menjadikan Firman TUHAN sebagai santapan harian kesabaran.

S’lamat bertumbuh dan salam Paskah.****

wajah web201903

Login Form