Renungan Minggu Jubilate,

11 Mei 2014

Aku Takkan Kekurangan, Sebab:

TUHAN adalah Gembalaku!

(Mazmur 23:1-6)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Tidak diragukan lagi bahwa Mazmur 23:1-6 ini amat populer di kalangan jemaat, bahkan tidak sedikit yang sudah menghafalnya paling tidak ayat 1: Tuhan adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku. Alkitab menggunakan metafora dengan menyebut TUHAN sebagai Gembala  untuk melukiskan hubungan cinta dan pemeliharaan-Nya yang agung terhadap umat-Nya (Mzm. 23:1; 28:9; 79:13; 80:2; 95:7; Yes. 40:11; Yer. 31:10; Yeh. 34:6-19). Istilah ‘Gembala’ (Batak: Parmahan; Latin: Pastores; Ing: Shepherd)memang amat hidup dan dikenal dalam dunia pertanian/peternakan, namun dalam konteks kehidupan kota agaknya kurang populer.Menjadi pertanyaan, apakah arti dan relevansi Mazmur 23 ini dalam proses perjalanan hidup kita kini? Apakah benar kita masih meyakini bahwa Tuhan adalah Gembala di mana kita tidak lagi merasa kekurangan sebab IA memelihara dan mencukupkan kebutuhan kita dulu, kini, sampai akhir?

Saudara-saudari, Mazmur 23 ini, antara lain, hendak mengungkapkan suatu pengalaman Pemazmur, dalam hal ini Raja Daud. Betapa TUHAN memperhatikan, memelihara, dan memimpin umat-Nya. Termasuk dalam rangkaian peristiwa keluaran dari rumah perbudakan (Mesir), kemudian melewati padang pasir dan gunung-gunung yang berbahaya dengan bayang-bayang maut. Namun Tuhan menibakan mereka di Tanah Terjanji (Kanaan) yang melimpah makanan dan minuman. Kendati “musuh” mencoba menghalangi perjalanan hidup mereka, namun Tuhan menganugerahkan bait suci (kenisah) agar mereka boleh berdiam memuji Tuhan sepanjang masa.

Sama seperti pengalaman umat dalam Perjanjian Lama, keyakinan umat Kristiani juga hendak mengungkap bahwa TUHAN adalah Gembala kita, makanya kita tidak kekurangan untuk melakukan kehendak-Nya (bnd. Roma 8:32). Sebab Allah melalui kuasa dan kehadiran Roh-Nya yang membaringkan kita, membimbing kita, menyegarkan jiwa kita, dan menuntun perjalanan hidup kitadi jalan yang benar walaupun kita harus melintasi maut. Namun kebajikan dan belas-kasih dari Allah akan ada dalam pergumulan hidup kita. Dan TUHAN sudah berjanji menyertai kita sampai akhir segala zaman hingga kita kelak memasuki rumah sorgawi(Mat. 28:20; Mzm. 23:6).

Dalam Injil Yohanes, Yesus menggunakan metafora yang sama – dengan menyebut diri-Nya sebagai Gembala Baik untuk menyatakan hubungan-Nya yang penuh cinta, peduli, bahkan ikhlas berkorban dengan memberi nyawa-Nya demi keselamatan umat yang percaya kepada-Nya (Yoh. 10:11-16; bnd. Ibr. 13:20; 1 Ptr. 5:4; Why. 7:17). Yesus telah menggenapi harapan dan kerinduan umat akan Seorang Gembala Sejati untuk mengambil-alih tugas penggembalaan serta menggantikan para pemimpin yang tak setia, korup, dan jahat (Yeh. 34:2-10; Yes. 40:10-11; Yer. 23:1-4; Mika 4:6-7).Sabda Tuhan mengajar dan mengajak para gembala agar mencari kawanan domba yang tersesat, melindungi dari bahaya serigala buas; merawat kawanan dan menggembalakannya (Kis. 20:28-31; Ef 4:11; Mat. 18:12-14; Yoh. 10:11-15).

Kini tugas penggembalaan (kepemimpinan yang melayani) itu sedang dipercayakan kepada Gereja, kepada Parhalado, kepada para pemimpin, kepada Anda dan saya, agar kita semua menirudan meneladani Yesus Kristus sebagai Gembala Baik yang telah meninggalkan teladan bagi kita supaya kita mengikuti jejak-Nya (1 Ptr. 21-25). Kristus Yesus adalah sumber inspirasi dan cinta serta kekuatan bagi kita untuk melaksanakan tugas penggembalaan dalam persekutuan gerejawi bahkan masyarakat.

Marilah kita dengan sungguh meyakini TUHAN sebagai Gembala Baik bagi kita, gereja, dan bangsa Indonesia. Kita percaya bahwa TUHAN turut bekerja mendatangkan sejahtera bagi bangsa kita yang sedang mempersiapkan diri dalam Pemilihan Presiden Republik Indonesia yang digelar 9 Juli 2014. Pemimpin teladan ada di depan mata. Kita memang tak akan kekurangan karena kita yakin bahwa TUHAN adalah Gembala untuk kita. Salam Yovel. Salam Jubilate!****

 

 

wajah web201903

Login Form