Renungan Minggu Trinitatis VII, 14 Juli 2013

Milikilah Hati yang Berhikmat

Untuk Membedakan yang Baik dari yang Jahat

(1Rajaraja 3:4-14)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Tidak ada kata terlambat untuk belajar dan berguru; bila perlu, belajarlah sampai ke negeri Cina, begitu bunyi suatu pepatah. Dari dulu sampai sekarang, manusia senantiasa mengasah dan mengembangkan cara berpikir dan bertindak, cara berinovasi dan berkreasi sebagai hal yang membedakannya dengan makhluk ciptaan yang bukan manusia. Sasarannya, antara lain, untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, benar, dan tepat dalam kehidupan masa kini dan esok .

Alkitab menegaskan agar umat TUHAN yaitu kita orang percaya kepada-Nya mesti memiliki hikmat dan pengertian supaya dapat membedakan yang manakah kehendak TUHAN: apa yang baik, yang benar, yang adil, yang kudus, yang damai; pokoknya yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Amsal 9:10; 1:7; Rom 12:2). Kemudian memohon kekuatan untuk melakukannya dan menghindari hal-hal yang berlawanan dengan kehendak-Nya sebagai tanggapan kita kepada kebaikan dan kemurahan Allah melalui peristiwa Yesus Kristus yang telah menjadi hikmat bagi kita (1 Kor. 1:30) dan yang di dalam DIA tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol. 2:3).

Renungan minggu ini menginformasikan bahwa dalam suatu mimpi (penglihatan) malam, Allah berfirman kepada raja Salomo: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” (ayat 5). Dengan menyadari tugas dan tanggungjawabnya yang berat untuk memimpin umat yang besar, maka raja Salomo pun memohon kepada Allah: ‘berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi dengan sanggup membedakan antara yang baik dan yang jahat(ayat 9). Adalah baik di mata Tuhan bahwa Salomo meminta hal tersebut untuk kebaikan dan keadilan umat. Dan Tuhan pun mengabulkan dengan memberi hati yang penuh hikmat dan pengertian (ayat 12) dan kemudian Allah menambahkan kekayaan, kemuliaan, dan umur- panjang. Alkitab mencatat, hikmat Salomo pun segera teruji dan terbukti sanggup memberi keputusan yang adil terhadap dua orang perempuan sundal yang berperkara (1 Raja 3:16-28).

Saudara-saudari, renungan minggu ini, antara lain, hendak menekankan agar kita sungguh-sungguh:

  1. Menyadari tugas dan tanggungjawab kita di tengah keluarga dan gereja; dan juga dalam masyarakat Indonesia yang sedang dilanda perkara dan penyakit sosial yaitu kekerasan, keserakahan (korupsi), ketidak-adilan, dll. Kemudian mari mohon hikmat kepada Allah agar kehadiran kita berfungsi ibarat obat yang menyembuhkan dan mendatangkan kebaikan bersama di tengah keluarga, gereja. Artinya, kehadiran kita dan HKBP di Indonesia ini mestilah bermanfaat dan menjadi berkat bagi orang lain, bagi msyarakat dan dunia;
  2. Belajar berdoa memohon yang paling utama sesuai kehendak-Nya. Dengan demikian, niscaya, Allah akan menambahkan hal-hal lain yang kita perlukan (Mat. 6:33). Pokoknya, mari mendahulukan yang sentral dan bukan yang periferial; mari mendahulukan yang paling utama yaitu Kerajaan Allah dalam kehidupan berkeluarga, berjemaat, dan bermasyarakat. Mari jangan pernah ragukan, tetapi kita pastikan bahwa Firman TUHAN yaitu Yesus Kristus, Sang Hikmat, adalah dasar hidup sejati dan sumber yang memberi kita hikmat dan kekuatan untuk kebaikan dan kesejahteraan kita. Salam hikmat.****

wajah web201903

Login Form