Renungan Minggu VIII Trinitatis, 21 Juli 2013

 Paradigma Baru Kerajaan Allah:

Mari Saling Mengasihi

(Yohanes 15:9-17)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Suatu cerita klasik dalam sejarah gereja awal mencatat bahwa ketika rasul Yohanes sudah semakin tua, maka seorang muridnya bernama Polycarpus mendekat dan bertanya: ‘Ya rasul, mengapa rangkaian pengajaran dan nasihatmu senantiasa berkaitan dengan hal mengasihi’? Dan rasul Yohanes pun menjawab: ‘Aku telah melihat dan belajar langsung dari Yesus Kristus, tidak ada hal yang lebih besar dan mulia di dunia ini selain daripada hal mengasihi. Mengasihi walaupun seseorang (sekelompok) itu tidak layak dikasihi. Mengampuni kendati pun tak layak diampuni. Itulah hukum baru, paradigma baru yang ditawarkan dan dikerjakan oleh Allah bagi kita dan bagi dunia yang menganut hukum lama yaitu hukum pembalasan yang sarat dengan kekerasan yang sudah terang-terangan dianggap ‘lazim dan normal’.

Kedatangan Yesus menawarkan hukum kasih yang memuncak dalam peristiwa salib dan telah meninggalkan suatu teladan bagi kita. Dan hal itu sungguh tidak lazim bahkan menjungkir-balikkan hal-hal yang selama ini dianggap mapan dan lazim. Sudah sangat lama dunia kita memberi kesempatan kepada yang kita anggap normal, mapan, dan lazim – tetapi apakah hasilnya? Bertambah baikkah dunia kita? Bertambah sejahterakah bumi kita? Bertambah amankah kehidupan kita dalam masyarakat? Bertambah damaikah hubungan antar agama dan antar bangsa-bangsa? Jika kita mengatakan “tidak”, maka itu berarti telah tiba saatnya kita memberi kesempatan kepada paradigma yang lain: paradigma TUHAN; paradigma Kerajaan Allah. Yaitu: mari saling mengasihi dan mengampuni di tengah dunia yang suka membenci. Mari melakukan dan membuahkan yang terbaik seturut Sabda dan kebenaran TUHAN. Dan Yesus adalah pusat dan inspirasi.

Inilah pesan utama khotbah kali ini yakni menekankan agar kita saling mengasihi; mengasihi seorang akan yang lain (ayat 12,17) sebagai tanda bahwa kita murid dan sahabat Yesus. Modal dan kekuatan kita untuk melakukannya adalah mari tinggal di dalam Yesus dan Yesus tinggal di dalam kita ibarat ranting mesti tinggal dan melekat pada pohon agar dapat berbuah, bahkan berbuah lebat. Dengan demikian kita bersama gereja dan anggota-anggotanya laksana ranting pokok anggur membutuhkan relasi dan persahabatan sejati dengan Yesus yang menyatakan diri-Nya sebagai pokok anggur yang benar. Dalam budi-daya kehidupan, diharapkan Gereja (HKBP) menjadi kebanggaan bukan hanya bagi Pemiliknya (Tuhan), melainkan juga bagi semua yang melihatnya. Dalam tuntutan itulah Yesus dinyatakan sebagai sumber hidup Gereja, dan bahwa terpisah dari-Nya, kita (Gereja) tidak bermakna apa-apa. “… sebab di luar AKU – kata Yesus – kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5b). Oleh karena itu, mari tinggal di dalam Yesus agar kita dimampukan bergaya-hidup yang mengasihi ketika kebencian mencekam; mengampuni kendati tak layak diampuni. Dan untuk itulah kita dipilih dan ditetapkan oleh Yesus agar kita berbuah tetap dalam aneka musim kehidupan (ayat 16). Salam.****

wajah web201903

Login Form