Renungan Minggu IX Trinitatis, 28 Juli 2013

 

Suatu Kiat Beroleh Hidup Kekal:

 

Lakukan Tindakan Belas Kasih!

 

(Lukas 10:25-37)

 

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Dunia kita masa kini cenderung memikirkan mengenai apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup kini dan di sini, hidup sekarang dan di Indonesia. Konteks renungan minggu ini mengemukakan persoalan sebagaimana yang dikemukakan oleh ahli Taurat kepada Yesus: “Apa yang kuperbuat untuk memperoleh hidup kekal”? Dan Yesus pun menjawab: Apa yang tertulis; apa yang kau baca? Dan ahli Taurat pun menjawab: “Mengasihi TUHAN Allah …… dan mengasihi sesama manusia… “ (ayat 25-27). Yesus membenarkan dan menambahkan perintah: “Perbuatlah demikian! Artinya, jangan berhenti pada “tahu” saja, sebab dengan ‘tahu’ saja, belum pernah ada orang yang mencapai hidup kekal. Dan kelihatannya, si ahli Taurat ‘bingung’ mengenai “siapakah sesamaku manusia”? Apakah hanya orang sesuku, sebangsa, se-agama, dll? Maka Yesus pun mengajarkan suatu perumpamaan yang sangat hidup dan relevan mengenai tindakan orang Samaria yang murah hati kepada seorang (Yahudi) yang jatuh ke tangan para penyamun, yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan meninggalkannya setengah mati. Dan yang tergerak hatinya oleh belas kasih untuk menolongnya adalah orang Samaria yang di mata bangsa Yahudi dan ahli Taurat – tidak mengenal Kitab Suci, tak mengenal Allah. Sementara baik Imam maupun Lewi tak berbuat apa-apa. Imam dan Lewi hendak mewakili kebanyakan orang – juga mereka yang berkecimpung dalam kegiatan agama-agama dan/atau kegiatan gereja.

 

Tindakan orang Samaria inilah yang dikagumi dan menjadi inspirasi yang sangat kuat, agung, dan mulia dalam cerita yang sangat hidup dan relevan ini. Dan orang Samaria inilah yang menjadi sesama manusia bagi orang yang jatuh ke dalam tangan penyamun itu’. Lalu kata Yesus: ‘pergilah dan perbuatlah demikian’! (ayat 37). Artinya, berbuatlah, jangan berhenti pada soal tahu, melainkan pada soal berbuat. Berbuat tidak tergantung dari ras, suku, agama, kedudukan, dll; melainkan soal jenis hati dan jenis sikap. Dan perihal mengasihi TUHAN dan sesama manusia bukanlah teori dan rumusan. Melainkan hal praksis. Kiat mengasihi sesama mesti terlebih dulu menjadikan hati mampu untuk berbelas kasih melalui tindakan.

Saudara-saudari, marilah membuka mata dan hati terhadap orang-orang yang tak berdaya dan yang terkapar secara rohani dan jasmani. Mari belajar dan berlatih berbelas-kasih agar kita jadi tahu siapa sesama dengan cara berbuat. Allah melalui peristiwa Yesus Kristus adalah yang lebih dulu melakukan tindakan belas kasih (misericordia) bagi kita yang malang dan tak berdaya agar kita meneladaninya dan menjadi sifat kita (Kel. 33:19; Lk 1:50; Rm 9:15-16; 11:32; 1Ptr 1:3; Luk. 6:36; Mik 6:8; Mat 9:13). S’lamat berlatih dan berbuat belas kasih kepada orang tak berdaya di sekitar kita. Niscaya, upahmu besar di sorga. Salam.****

wajah web201903

Login Form