Renungan Minggu X Trinitatis, 4 Agustus 2013

Camkanlah Secara Khusus,

Mata TUHAN Tertuju kepada Orang-orang Benar

(1 Petrus 3:8-12)

Renungan Minggu IX Trinitatis, 28 Juli 2013 Camkanlah Secara Khusus, Mata TUHAN Tertuju kepada Orang-orang Benar (1 Petrus 3:8-12) Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Alkitab menegaskan bahwa DIA - yaitu TUHAN - yang menciptakan mata, masakan tidak melihat, DIA yang menciptakan telinga, masakan tidak mendengar? (Mzm 94:9). Dari takhta-Nya, mata TUHAN tertuju kepada semua orang, tetapi mata itu – secara khusus – tertuju kepada orang-orang yang takut akan Dia dan kepada orang-orang benar (Mzm. 33:14-15); dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong (Mzm. 34:16; 1 Ptr. 3:12). Bila umat-Nya berteriak minta tolong karena ulah para penindas, maka takhta Tuhan akan ‘goyang’, dan kemudian Tuhan akan turun tangan untuk menolong dan menyelamatkan mereka yang tak ada penolongnya (bnd. Kel. 3:7-8). Dan wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat (1 Ptr 3:12b). Saudara-saudari, renungan Minggu kali ini digali dari surat 1 Petrus, suatu surat yang juga berisi pengharapan, yang tujuannya, antara lain, hendak membekali orang percaya yaitu kita di sini – di Indonesia ini - mengenai cara hidup praktis untuk menanggapi dan menghadapi realisme Kristen yaitu dunia yang tidak pernah lepas dari cercaan dan penderitaan, termasuk yang datangnya dari pihak yang tak menginginkan kehadiran gereja di dunia ini. Dalam menghadapinya, rasul mengajak gereja bersama orang percaya agar mengikuti cara Yesus dalam menghadapi cercaan, derita, dan aniaya. Yesus telah meninggalkan suatu teladan yang luhur dan benar, tanpa dosa, agar kita mengikuti jejak-Nya (1 Ptr. 2:21-22). Dan cara inilah yang menginspirasi dan menguatkan kita menghadapi rangkaian penderitaan, ketidak-adilan, kekerasan dan penganiayaan yang terjadi di sepanjang sejarah. Teladan dari Yesus itu hendak memastikan bahwa kebaikan, kebenaran, perdamaian lebih kuat dan sanggup mengalahkan kejahatan, kekerasan, dan kebencian. Cara hidup praktis yang dimaksud melalui perikop khotbah ini antara lain, agar kita memiliki sifat empati (solider), penyayang, rendah hati; berpengharapan; tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi mengalahkan kejahatan dengan kebaikan; tidak membalas caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya hendaklah kita memberkati, karena untuk itulah kita dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Selanjutnya menjaga lidah dan bibir terhadap yang jahat dan ucapan-ucapan yang menipu; pokoknya menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, serta mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya (Mzm. 34:13-17; 1 Ptr 3:10-12; Mat. 5:37; Yak 5:12). Dan bila demikian, maka kita akan mengalami: (a) hidup dengan berkat melimpah dan Allah berkenan; (b) kehadiran Allah yang dekat dengan pertolongan dan kasih karunia-Nya (1 Ptr 3:12); serta (c) jawaban Allah atas doa dan teriakan kita (bnd. Yak. 5:16c; 1 Yoh. 3:21-22). Oleh karena itu, sebagai orang-orang benar - atau tepatnya – sebagai orang-orang yang telah dibenarkan oleh kasih-karunia Allah melalui iman kepada Kristus Yesus, marilah kita sungguh-sungguh membarui cara berpikir, bertutur, berperilaku ke arah yang lebih baik, lebih benar, lebih adil, dalam kesucian. Karena mata TUHAN - yang tak pernah terlelap dan tertidur itu - tertuju kepada kita demi kebaikan dan keselamatan kita. Salam.****

wajah web201903

Login Form