Renungan Minggu XI Trinitatis, 11 Agustus 2013

 

 

 

TUHAN Menentang Ketidak-adilan Sosial

(Amos 8:4-7)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Bila nabi Hosea merasa hancur hati karena ketidak-setiaan umat-Nya kepada TUHAN, maka nabi Amos sangat marah atas pelanggaran-pelanggaran umat-Nya terhadap standar-standar keadilan  sosial, ekonomi, dan kebenaran di antara umat TUHAN. Dengan membaca kitabnya yang terdiri dari sembilan pasal, nabi Amos hendak menggaris-bawahi, betapa menjijikkan agama bagi Allah jika dipisahkan dari kehidupan dan tanggung-jawab sosial sehari-hari (Amos 5:7-13, 21-25;  8:4-7; dll). Nabi Amos protes keras bila ketidak-adilan sosial meraja-lela dan agama dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Nabi Amos mengecam keadaan dan struktur yang tidak adil bila kaum miskin dan sengsara terinjak-injak; bila orang lemah dapat dibeli dengan uang dan orang miskin karena sepasang kasut (trafficking); bila transaksi bisnis bertindak curang dengan neraca palsu (ayat 4-6). Sebaliknya, nabi Amos merindukan agarkeadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir di dalam kehidupan umat beragama dan masyarakat sehari-hari (Amos 5:24)

Saudara-saudari, Asia - termasuk Indonesia - memiliki dua realitas yang erat kaitannya, yaitu berwajah majemuk dan miskin. Karena itu, Gereja Asia – termasuk HKBP di dalamnya, bila menghendaki agar pelayanannya tetap relevan dan tidak basi, maka mestilah memperhitungkan dua realitas (kenyataan) tersebut sebagai konteks pelayanan yang tidak bisa ditawar-tawar. Di satu sisi, penduduk bumi Asia dan Indonesia terdiri dari masyarakat majemuk secara budaya dan agama. Dan kini kita makin sadar bahwa masyarakat kita berhadapan dengan suatu kelompok intoleran yang tidak menghendaki adanya kemajemukan agama dan budaya sebagai “ibu kandung” Indonesia. Di lain sisi, masyarakat dan bangsa kita mesti berhadapan dengan realitas kemiskinan dan orang miskin. Tantangan kita kemudian yakni menghadapi suatu penyakit sosial yang bernama keserakahan (‘korupsi’; ‘hamongkuson’) dan kekerasan, bahkan kekerasan atas nama agama.   

Oleh karena itulah, marilah kita aktif ikut ambil bagian secara berkelanjutan untuk menyelenggarakan agenda pendampingan pelayanan di tengah gereja dan masyarakat sebagai tanggapan dan karya kita sebagai orang beriman di hadapan Tuhan. Yaitu: 

(a) Menghayati cara hidup yang dialogal, inklusif, dan tidak eksklusif sempit dalam kehidupan masyarakat dengan mengembangkan paham pluralisme agama (menghargai kemajemukan) sebagaimana dimuat dalam visi dan misi HKBP; (b) Peduli terhadap kaum miskin dan sengsara dengan mengadakan pelayanan diakonia yang transformatif untuk mengubah keadaan agar lebih baik, adil, dan sejahtera. Antara lain dengan cara pemberdayaan ekonomi kerakyatan dan keberpihakan kepada kaum tertindas dan lemah serta menentang sistem yang tidak adil dan menindas. Sehingga pada gilirannya diharapkan menghasilkan kehidupan yang lebih damai, adil, dan sejahtera sebagaimana yang dimaksudkan melalui ungkapan ‘SYALOM”. Salam keadilan.****

wajah web201903

Login Form