Renungan Minggu XI Trinitatis, 18 Agustus 2013

 

Yesus Kristus - Sang Kebenaran –

Memerdekakan Kita dari Kuasa Dosa & Maut

(Yohanes 8:30-36)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Bahwa sesungguhnya, kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, hak setiap insan manusia; begitu katanya. Kemarin, 17-08-2013, bangsa kita Republik Indonesia memperingati dan menyukuri Hari Kemerdekaan yang ke-68. Dirgahayu Indonesia Raya. Dalam kaitannya dengan kemerdekaan, Konfesi HKBP 1996 Pasal 13 - Tentang Pemerintah -  antara lain, mencatat sbb:

“… Kita menekankan, Allahlah yang memberikan kemerdekaan itu kepada bangsa Indonesia yang berasaskan Pancasila dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara….. Kita menekankan, Yesus Kristus, Panglima Gereja, sebagai jalan kita untuk meminta. Kita menekankan cita-cita dan tanggung-jawab warga masyarakat dalam memperjuangkan keadilan, kasih, damai, dan kesejahteraan melalui Pembangunan Nasional sebagai pengamalan Pancasila. Kita menekankan bahwa kita turut serta menegakkan dan memelihara kebenaran, demikian juga turut menikmati hasil pembangunan nasional. Gereja terpanggil mendoakan pemerintah dan aparatnya”. (1 Tim. 2:1-2; Roma 13:1-7)

Saudara-saudari, melalui renungan minggu ini, Injil Yohanes menegaskan bahwa “kemerdekaan” itu berawal dari kebenaran. Dalam konteks ilmu pengetahuan dan budaya manusia, diketahui bahwa ada banyak hal yang dianggap benar. Namun, secara iman Kristiani, ke-benar-an tidak terutama dihubungkan dengan pertanyaan apa itu kebenaran, melainkan siapa itu kebenaran. Andai kata ada kitab keagamaan (kitab suci) yang lain berkata: ‘…. Tunjukkanlah kami jalan dan kebenaran …..’, maka Alkitab (Kitab Suci Kristiani) mengungkap, menjawab, dan menegaskan bahwa YESUS KRISTUS adalah jalan, kebenaran, dan hidup sejati” (Yoh. 14:6). Yesus Kristus, Anak Allah, hanya Dialah satu-satunya Sang Kebenaran Sejati yang berkuasa memerdekakan  manusia dari satu kekuatan terakhir yang tak bisa ditaklukkan oleh siapapun dan kapan pun yaitu kuasa dosa dan maut. Dengan iman kepada-Nya dan dengan mengandalkan rahmat-Nya, kita beroleh kemerdekaan sejati dari perbudakan dosa dan kuasa maut. Dan apabila Yesus Kristus - Anak Allah -  memerdekakan kita, maka kita pun benar-benar merdeka (Yoh. 8:36). Dan kemerdekaan itu dianugerahkan oleh Allah kepada orang percaya, Gereja, dan bangsa-bangsa.

Saudara-saudari, kita telah dipanggil untuk merdeka, tetapi janganlah kita mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (Gal. 5:13). Oleh karena itu, marilah hidup sebagai orang merdeka dan bukan seperti ‘mereka’ yang menyalah-gunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan ‘mereka’, tetapi hiduplah sebagai hamba Alah (1 Petrus 2:16). Marilah mendoakan dan memperjuangkan agar masyarakat dan bangsa kita juga merasakan nikmatnya Indonesia Raya  yang merdeka, yang dilahirkan oleh “kemajemukan” agar Indonesia menjunjung tinggi hak asasi. Di antaranya, hak untuk beribadah dan hak untuk mendirirkan rumah ibadah di negeri sendiri. Salam kemerdekaan.****

wajah web201903

Login Form