Renungan Minggu Reminiscere, 16 Maret 2014

Kiat Melihat Kerajaan Allah:  (Yohanes 3:1-17)

‘Dilahirkan Kembali’! ‘Tubu Paduahalihon’!

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Ada sejumlah kata-kata sulit dalam pengajaran Yesus baik bagi pendengar awal maupun bagi pendengar masa kini. Salah satu di antaranya yaitu  apa yang disebut sebagai pengajaran  mengenai  “dilahirkan kembali” atau “tubu paduahalihon” atau “re-born” (Yun.: ‘gennèthè anothèn’). Ungkapan ‘dilahirkan kembali’ awalnya muncul dalam dialog antara Nikodemus dan Yesus di suatu malam. Nikodemus adalah salah satu tokoh papan atas di kalangan agama Yahudi di Yerusalem pada zamannya. Dia seorang Farisi yang pada awalnya ragu dan oleh karena itu hendak memastikan apakah Yesus yang telah melakukan banyak tanda (mujizat) itu merupakan utusan Allah. Oleh karena itu Nikodemus datang menjumpai Yesus pada malam hari. Kenapa harus malam? Mungkin ia menjaga citranya supaya masyarakat tidak melihatnya. Keputusan itu dia ambil karena ingin berjumpa secara pribadi dengan Yesus. Di kemudian hari kita tahu bahwa ketika Yesus wafat dan hendak dikuburkan, Nikodemus datang dengan membawa  campuran minyak mur dengan minyak gaharu seberat 50 kati untuk penguburan mayat Yesus (Yoh. 19:39-40).

Maksud Nikodemus menjumpai Yesus adalah untuk bercakap-cakap  melalui suatu dialog agar kiranya ia menemukan suatu ‘terang kehidupan’ di dalam ‘kegelapan malam’. Dalam dialog itu, Nikodemus mengajukan semacam pertanyaan kepada Yesus: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai Guru yang diutus Allah; sebab tidak seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."Lalu Yesus berkata: Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Yesus menjawabnya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. (Yoh. 3:3-5).

Dalam kaitan ini, Alkitab Perjanjian Baru menegaskan bahwa orang beriman “lahir dari” Roh dan air atau ‘lahir dari atas’ (Yoh. 3:5-6,8; 3:3,7). Artinya bahwa orang beriman dilahirkan kembali melalui iman karena kuasa kebangkitan Yesus Kristus (1 Petrus 1:3). Orang beriman  juga ‘dilahirkan atau diciptakan secara baru’ melalui sakramen Baptisan Kudus (Titus 3:5). Orang beriman dilahirkan kembali melalui kuasa Firman Allah yang kekal, yang tidak fana, yang tidak dapat binasa (1 Ptr. 1:23; 1 Yoh. 3:9). Oleh karena itu, arti dan makna dilahirkan kembali adalah dirubah sedemikian rupa sehingga percaya dan mengasihi Allah Bapa dalam nama Yesus Kristus serta membuka hati pada-Nya agar Roh Kudus-Nya memasuki dan mendiami kita. Dengan demikian kita benar-benar dibarui dan menerima kehendak Allah. Alkitab menyebut bahwa orang-orang yang berada di dalam Kristus sesungguhnya adalah ciptaan baru. Manusia baru itu diciptakan menurut kehendak Allah (2 Kor. 5:17; Gal. 6:15; Ef. 4:22-24). Dalam Perjanjian Lama, Allah bertindak membuat umat Israel menjadi anak-Nya yang  sulung melalui peristiwa Keluaran dari Mesir dan kemudian membarui mereka dan orang percaya melalui Hukum Allah yang ‘ditulis dalam hati manusia’ (Kel. 4:22; Ul. 32:6,18-19; Yeh. 36:26-27). Dalam Perjanjian Baru, Allah - melalui iman kepada Yesus - telah membuat kita menjadi anak-anak Allah, menjadi warga Kerajaan Sorga, agar kita dapat mewarisi hidup kekal.

Saudara-saudari, marilah kita hayati dan nyatakan bahwa kita sudah ‘dilahirkan kembali’ melalui iman kepada-Nya dan mengandalkan rahmat--Nya yang kita terima melalui Firman dan Sakramen. Marilah kita menanggapinya dengan selalu membarui diri (tobat yang berkelanjutan) dan bersikap rendah hati. Mari membuahkan kebaikan dan menyatakan buah Roh sebagai tanda bahwa kita telah dilahirkan dari air dan Roh (Gal. 5:22-23; Yoh. 3:5). Salam kelahiran kembali.****

wajah web201903

Login Form