Renungan Minggu XI Trinitatis, 25 Agustus 2013

 

Suatu Sisi Ibadah …

Lepaskan Tali-tali Kuk

dan Buka Belenggu Kelaliman!

(Yesaya 58:9b-14)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Gereja mengajarkan bahwa ibadah (liturgi) bersifat relasional. Yaitu, ber-relasi dengan Allah (sisi vertikal)dan ber-relasi dengan sesama dan alam (sisi horisontal). Ibadah mestilah berakar dan dibangun melalui: (a) ibadah dalam persekutuan gerejawi (koinonial); (b) ibadah secara pribadi (personal); dan (c) ibadah dalam keterlibatan sosial sehari-hari. Itulah ibadah kehidupan yang kemudian memunculkan suatu spiritualitas (ngolu partondion) sebagaimana diilhamkan oleh Alkitab. Dalam kaitannya dengan ‘ibadah dalam keterlibatan sosial’ – terus terang – kurang mendapat perhatian dan tidak banyak peminatnya, bahkan sering absen dalam keseharian kita. Dan persoalan semacam ini sudah ada sedari dulu.

Zaman nabi Yesaya, umat secara lahiriah beribadah bahkan menunaikan puasa serta berminat mencari Allah dan ingin tahu akan kebenaran dan hukum-hukum-Nya (ayat 2). Namun pada saat yang sama mereka giat dalam dosa dan acuh terhadap perintah Allah. Mereka mengeluh dan merasa bahwa Allah tidak peduli dan tak mau menolong mereka. Tetapi Allah mengecam bahwa ibadah mereka palsu, munafik, dan kemudian menjadi kekejian bagi Allah. Sebab ibadah mereka disertai dengan tindakan kekerasan, ketidak-adilan sosial, perbantahan, dan ketidak-pedulian terhadap kaum lemah. Perikop Yesaya 58 ini, antara lain, mengatakan bahwa perbuatan religius tak bernilai jika tidak didasarkan pada kerendahan hati; dan mestilah mengandalkan rahmat-Nya dalam melakukan hukum-hukum TUHAN. Selanjutnya tidak memfitnah, mau berbelas-kasih dan berbela-rasa bagi kaum miskin, lemah, dan tertindas; mau berbagi roti dan pakaian bagi yang amat membutuhkan (bnd. ayat 6-7) sera menghormati hari Sabat yaitu hari Minggu sebagai cara untuk pembaruan rohani serta memperoleh istirahat jasmani (Kel. 20:8). Jika demikian halnya, maka Allah akan membuka saluran-saluran berkat di antara kita dan ‘terangmu akan terbit dalam gelap dan gelapmu ibarat rembang tengah hari’ (Yes. 58:8-11).

Oleh karena itu, marilah kita membuka belenggu-belenggu kelaliman serta melepaskan tali-tali kuk. Kita semua adalah rekan Allah untuk membebaskan dan memerdekakan orang dari ikatan-ikatan dan perbudakan-perbudakan oleh dosa, kekerasan,  kejahatan, bahkan dari kuasa kegelapan/penyembahan berhala (okultisme), termasuk yang namanya keserakahan. Di dalam kehidupan modern ini, kita dan warga gereja kiranya jangan kelihatannya saja secara lahiriah beribadah kepada TUHAN, memuji Dia, serta mendalami Sabda TUHAN. Tetapi kiranya cara dan gaya hidup kita semakin menampakkan cara hidup yang berpadanan dengan panggilan yang kita miliki sebagai pengikut Kristus. Mari jangan serupa dengan dunia, tetapi berubahlah (metamorfomai) oleh pembaruan budi agar kita tahu membedakan yang mana kehendak Allah (Roma 12:2). Dengan kuasa-Nya, mari lepaskan kuk dan buka belenggu kelaliman di antara kita. Salam.****

wajah web201903

Login Form