Renungan Minggu XIVTrinitatis, 01September 2013 

Kepada Siapa Anda Beribadah?

Hanya Kepada Allah Saja Kami Beribadah!

(Daniel 3:13-18)

Saudara-saudari  yang  dikasihi oleh Yesus Kristus. Ada tiga bahkan empat (sekawan) tokoh penting dari kalangan kaum muda pada masa-masa pembuangan umat Allah di Babel dalam Perjanjian Lama. Mereka adalah Daniel – yang namanya berarti “Allah adalah Hakim(ku)”; kemudian ada Sadrakh (Hananya), Mesakh (Misael), dan Abednego (Azarya). Daniel bersama rekannya berketetapan hati untuk tidak menajiskan dirinya dengan mengandalkan iman yang kokoh akan Allah (Dan 1:8) – suatu sikap yang luar biasa pada diri seorang anak muda dan perlu diteladani kawulamuda masa kini. Di tengah melimpahnya santapan kerajaan nan lezat, mereka lebih memilih makanan ‘non-kolesterol’ yakni sayur dan air putih dan kemudian menampakkan hasil bahwa ‘perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk’ (Dan 1:15) serta sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang muda lain yang tidak beriman (Dan 1:20). Mengapa demikian? Tentu saja karena kasih karunia dari Allah dan keyakinan mereka yang tak tergoyahkan untuk beribadah kepada Allah di tengah masyarakat Babel yang sarat penyembahan berhala.

Suatu ketika, raja Nebukadnezar memberi titah agar segenap umat di wilayah kerajaannya sujud menyembah patung emas yang didirikan. Bila tidak, maka akan dilemparkan ke perapian yang menyala-nyala. Namun Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memilih tetap setia beribadah kepada TUHAN Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, dengan berkata: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, tetapi seandainya tidak ….., kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu (Dan. 3:17-18). Pendek cerita, akhirnya . atas perintah raja – mereka dalam posisi terikat dilemparkan kedalam perapian yang menyala-nyala. Tetapi apa yang terjadi? Sungguh mengejutkan! Mereka terlihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api, laksana anak dewa, tak terluka, tak terbakar. Bahkan setelah keluar dari perapian, rambut di kepala mereka tak hangus. Mereka selamat. Di kemudian hari, zaman raja Darius, secara dramatis dan politis - dikeluarkanlah titah yang melarang umat berdoa (beribadah) kepada TUHAN. Namun Daniel – sang negarawan yang demikian dibenci itu - tetap memilih taat menyembah dan berdoa hanya kepada TUHAN. Bayarannya, Daniel dilemparkan ke gua singa-singa lapar. Tetapi Allah menyertai dengan mengutus malaikat-Nya mengatupkan mulut singa-singa itu, dan Daniel pun selamat. Akhirnya, raja pun mengeluarkan perintah agar orang harus takut dan gentar kepada Allah Daniel ……  (Dan. 6:1-29).

Saudara-saudari, mari memetik pesan melalui khotbah yang sekaligus renungan minggu ini. Agar kita: (a) Menomor-satukan TUHAN, khususnya pada saat-saat genting penuh keraguan dan ketidak-pastian dalam perjalanan kehidupan kita secara pribadi, gerejawi, dan negarawi; (b) Menghindari penyembahan berhala baik secara kuno yang menyembah patung/batu atau pohon besar maupun secara modern yang menyembah keserakahan yang tak pernah berkata cukup (Kol. 3:5; Amsal 30:15-16);  (c) Menyatakan sikap harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia(Kis. 5:29b)dengan mengadalkan penyertaan Allah sepenuhnya. Salam.****

wajah web201903

Login Form