Renungan Minggu XVTrinitatis, 08September 2013

 

 

Anda  Mau  Masuk  Sorga?

Lakukan Kehendak Allah Bapa Sorgawi!

(Matius 7:15-23)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Matius pasal 5-6-7 sudah lazim disebut sebagai rangkaian Khotbah Yesus di Bukit. Eka Darmaputera menyebutnya sebagai ‘buku wajib’ bagi setiap warga Kerajaan Allah; dan Robinson Rajagukguk menamakannya sebagai ‘buku pintar’ bagi setiap warga jemaat. Kiranya kita masing-masing menyediakan saat teduh sejenak di rumah atau di mana saja untuk membaca Khotbah di Bukit ini secara berulang-ulang; merenunginya serta menghayatinya dalam keseharian kita. Khotbah di Bukit ini berisi ajaran yang sungguh mengejutkan dunia dan menjungkir-balikkan hal-hal yang sebelumnya sudah dianggap lazim dan sah, tetapi justru di situlah letak kekuatan pesan Khotbah di Bukit ini yang menawarkan suatu paradigma baru mengenai kehidupan yaitu paradigma Kerajaan Allah. Di kalangan umat Kristiani, khotbah Yesus di bukit merupakan ajaran  yang diakui memiliki nilai-nilai amat luhur, walau sering dipertanyakan sisi penerapan praktisnya; misalnya hal mengasihi musuh, mengampuni, dll. Tetapi justru di situlah ciri khas khotbah Yesus di Bukit yang sungguh mengagumkan dan membuat tahan lama, abadi, dan senantiasa memberi inspirasi bagi setiap generasi dan zaman.    

Saudara-saudari, secara khusus perikop khotbah kali ini (7:15-23) secara tegas dan lugas hendak menekankan sejumlah pesan utama, yakni: 

  1. Agar kita sadar konteks dan tetap waspada terhadap “nabi-nabi palsu masa kini” yang tampil menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya adalah serigala ganas. Mereka bermoral rangkap, bergaya hidup munafik,  ‘lain di bibir lain di hati’; tidak sepadan antara kata dan perbuatan. Gaya hidup mereka terlihat aktif berjemaat atau melayani;  mengaku percaya dan berseru-seru dalam nama Tuhan; bernubuat demi nama Tuhan; mengusir setan demi nama Tuhan; mengadakan banyak mujizat demi nama Tuhan (ayat 22). Tetapi sesungguhnya mereka pembuat kejahatan. Rasul Paulus mengingatkan bahwa: “... iblis pun menyamar sebagai malaikat terang. Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran” (2 Kor. 11:14-15; bnd. Mat 24:24). Dalam kaitan ini, mari camkan ucapan Yesus: ‘Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka...’ (ayat 16, dst).
  2. Agar kita menerapkan moral tunggal (integritas moral) di mana kata dan perbuatan menyatu dan menjadi satu; tidak memanipulasi kebenaran Sabda Tuhan.
  3. Agar kita melakukan kehendak Allah Bapa sorgawi sebagi suatu syarat masuk sorga sebagaimana Yesus tegaskan . Kendatipun hal ini tidak berarti bahwa kita dapat memperoleh keselamatan dengan usaha sendiri. Melainkan karena kita sudah menerima anugerah (pengampunan) dan keselamatan melalui iman kepada karya Yesus Kristus sebagaimana diberitakan melalui Injil. Oleh karena itulah kita mesti sungguh-sungguh menanggapinya dengan pertobatan yang berkelanjutan agar hidup kita tetap berpadanan dengan panggilan suci untuk melakukan kehendak-Nya, karena Kristus  (Ef 2:5,8-10). ‘Selagi hari masih siang’, mari kita lakukan yang terbaik  sebagai tanda bahwa kita sudah beroleh anugerah keselamatan. Salam.**** 

wajah web201903

Login Form