Renungan Minggu XVITrinitatis, 22September 2013

 

 

Doa Jemaat agar para hamba-Nya: 

Makin Berani Memberitakan Injil Kristus

(Kisah Para Rasul 4:23-31)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Kita bersyukur karena memiliki ‘suatu bagian dari sejarah gereja awal’, yang kemudian diabadikan dalam kanon Alkitab. Yaitu Kitab Kisah Para Rasul yang bagi sebagian ahli menamainya sebagai ‘Kisah Perbuatan Roh Kudus’. Karena memang di sepanjang Kitab ini dicatat betapa Roh Kudus – yang dalam Kisah Rasul 1:8 disebut sebagai dinamit (‘kuasa’) ilahi – amat berperan untuk mengobarkan semangat membara di hati para murid perdana untuk memberitakan Injil kepada sebanyak mungkin orang  (Kisah Rasul 1:8; 2:14-41; 3:12-26; 8:25,25; 9:15; 10:44-48; 13:1-4).  Alkitab mencatat bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya. Di dalam Injil itu, nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman agar orang benar akan hidup oleh iman’ di dalam nama Yesus (Rom 1:16-18; Hab. 2:4).

Acuan perikop sekaligus renungan minggu ini mencatat bahwa setelah Mahkamah Agama (Yahudi) melarang keras agar Petrus dan Yohanes jangan lagi berbicara, berkhotbah, dan mengajar dalam nama Yesus Kristus, maka kedua rasul itu menyatakan: ‘..... tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata mengenai Injil Kristus (ayat 20). Bahkan kemudian dalam sidang lanjutan di hadapan Mahkamah Agama, Petrus dan rasul-rasul lain dengan berani dan tegas menjawab: ‘Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia’ (Kis. Rasul 4:19-20; 5:29). Usai melewati rangkaian sidang yang menegangkan, para rasul pulang menjumpai jemaat untuk merayakan kemenangan penginjilan – melalui khotbah rasul Petrus - yang menghasilkan lima ribu (5000) laki-laki menjadi percaya kepada Yesus, berikut mujizat penyembuhan. Kemudian mereka menaikkan doa dan pujian kepada Allah, Penguasa langit dan bumi dan mohon agar memberi keberanian untuk memberitakan Injil. Pada saat berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus.  Lalu mereka memberitakan Injil dengan lebih berani (Kis. 4:24-30; Mat. 10:16+32). Peristiwa ini semacam “Pentakosta kedua” yang mengingatkan kita pada Hari Pentakosta awal (Kis Rasul 2:1-11). Kisah berikutnya mencatat, kendati mendapat ancaman hebat, namun para rasul semakin berani memberitakan Injil dan – oleh kuasa Allah - aneka mujizat pun terjadi untuk meneguhkan pemberitaan Injil.

            Saudara-saudari, melalui renungan minggu ini, kiranya kita dapat menekankan beberapa hal, yaitu: (a) Agar warga gereja meyakini sepenuhnya kuasa Roh Kudus yang telah diutus dan dikaruniakan kepada kita orang percaya untuk mengobarkan semangat memberitakan Injil dalam konteks dunia yang mengancam bahkan menganiaya jemaat-Nya; (b) Supaya kita sungguh-sungguh berdoa kepada Allah sebagai suatu cara mengatasi ketakutan, penolakan, kecaman, dan penganiayaan serta menjadikan doa sebagai suatu keniscayaan untuk memajukan tugas Pekabaran Injil di HKBP dan Indonesia; (c) Meyakini dan menghayati bahwa ‘Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban’  (2 Tim 1:7). Salam. ****

wajah web201903

Login Form