Renungan Minggu XVIIITrinitatis, 29September 2013

 

“Ketika AKU Telanjang .....”

 (Matius 25:34-40)

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Alkitab menegaskan bahwa di akhir segenap waktu dan sejarah dunia fana ini, Yesus Kristus - yang adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir - akan datang kedua kali dalam kemuliaan-Nya kelak (Why. 1:8,17; Mark. 13:32). Saat kedatangan-Nya kelak, Dia akan mengadakan pemisahan melalui penghakiman akhirat. Penghakiman akhirat akan memisahkan umat (bangsa) kedalam dua kelompok, yaitu: (a) Umat yang terberkati – yang disebut sebagai orang-orang benar yaitu yang melakukan yang baik terhadap salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini akan ditempatkan di sisi kanan-Nya; dan (b) umat yang terkutuk yang melakukan yang jahat terhadap salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini akan ditempatkan di sisi kiri-Nya (Mat. 25:31-46). Melakukan pekerjaan baik yang dimaksud, antara lain, memberi makan bagi yang lapar; tumpangan kepada yang tak punya rumah (tuna-wisma); pakaian kepada yang telanjang (tuna-busana); mengunjungi yang di-penjara-kan; pokoknya peduli dan berbelas-kasih terhadap mereka yang menderita, miskin, dan lemah, dan “yang tidak punya apa-apa”. Mereka yang melakukan pekerjaan baik ini terberkati pada pengadilan akhir karena ‘hubungan identitas’ Anak Manusia (gelar untuk Yesus) - dan “yang paling hina”.  

Alkitab sangat kaya dengan pesan atau perintah agar umat Allah yaitu warga gereja melakukan tugas dan tanggung-jawab sosial-nya terhadap kaum miskin dan sengsara yang membutuhkan pertolongan dalam realitas kehidupan dunia masa kini yang menderita. TUHAN memberi tugas dan tanggung-jawab sosial ini justru karena DIA sudah lebih dulu melakukannya terhadap umat-Nya. Tuhan memberi perintah sebagai bagian dari relasi dan perjanjian dengan umat-Nya karena Dia sudah lebih dulu membebaskan dan menyelamatkan. Perintah itu kita lakukan sebagai tanggapan terhadap anugerah Allah.   

Saudara-saudari, renungan minggu ini mengajak kita dan umat beragama agar melakukan segi tanggung-jawab sosial Injili serta mempertajam kepekaan dan mengasah kepedulian dalam situasi dunia masa kini. Selain wajah kemiskinan di berbagai belahan dunia, ada jutaan pengungsi karena perang saudara di Suriah; lebih dari seratus ribu terlantar akibat gempa di provinsi Baluchistan, Pakistan; lalu Indonesia yang berjuang merawat kemajemukan (pluralisme). Pokoknya semakin mendesak bagi gereja agar meningkatkan pelayanan yang berkelanjutan dan terarah terhadap kaum yang terlupakan/terpinggir (kelompok marginal). Agar makin nyata keadilan dan perdamaian dalam kehidupan sosial, termasuk peduli alam sekitar. Sehingga menghasilkan suatu spiritualitas yang “peduli terhadap salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina”. 

Dalam kaitannya dengan realitas dunia kita yang menderita dan sengsara ini, mari merenungkan suatu ucapan Basilius yang Agung (*329-†379) yang mengatakan: “... roti yang Anda simpan adalah juga milik orang-orang yang lapar; pakaian yang banyak tergantung (terlipat) di lemari Anda adalah juga milik kaum gelandangan; dan uang yang Anda timbun adalah juga milik orang-orang miskin”. Mari berbagi dan peduli sebagai tanggapan kita terhadap anugerah (keselamatan) dari Allah. Salam.****

wajah web201903

Login Form