Nantikan Dia dan Nyatakan Belas-kasihNya!

HKBP Yogyakarta Online,

Renungan Minggu Adven IV, 23 Desember 2018

Nantikan Dia dan Nyatakan Belas-kasihNya!

(Yudas 1:17-21)


Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. Agak jarang nas khotbah diacu dari Surat Yudas yang berisi hanya satu pasal ini. Sekadar info, Yudas yang disebut di sini “bukan Iskariot” – baik nama maupun karakternya. Yudas yang dimaksud sebagai penulis Surat ini adalah saudara dari Yakobus, Saudara TUHAN Yesus, yaitu Yudas Tadeus (bnd. Mat. 13:55-56; Mrk. 6:3; Yoh. 14:22). Alkitab mengingatkan bahwa kita bersama segenap umat dan alam semesta sedang dalam proses perjalanan, on the way (‘otw’), dan dalam pengharapan - in via et non in finalis - menuju titik akhir dari segala waktu. Kita meyakini bahwa kita masih ‘dalam proses’ dan ‘belum menyudahi peziarahan’ sebelum tiba kelak di akhirat. Yudas turut mengingatkan: "... menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka" (Yudas 1:17).
Tujuan Yudas menuliskan suratnya adalah: (a) Mengingatkan orang-orang beriman supaya waspada terhadap ancaman guru-guru palsu, penyebar ajaran sesat (hoax) yang menyangkal Yesus Kristus; (b) Mengajak orang beriman supaya berjuang mempertahankan iman yang didasarkan pada Injil Yesus Kristus sebagaimana telah diberitakan kepada ‘orang-orang kudus’ yaitu orang-orang beriman (Yudas 1:3). Ajaran-ajaran sesat yang disebar oleh guru-guru palsu juga berkait erat dengan gaya hidup yang menuruti hawa nafsu (hedonisme) dan kejahatan mereka (Yudas 1:14; 2 Petr 3:3). Yudas menyebut para guru-guru palsu sebagai penyalah-guna kasih karunia Allah untuk melampiaskan hawa-nafsu; bertindak amoral; kompromistis seperti Kain; serakah laksana Bileam; suka berontak seperti Korah; congkak; penipu; pemecah-belah dan dikuasai oleh keinginan duniawi dan hidup tanpa Roh Kudus, begitu kata Yudas (ayat 4-19).
Karena itulah, Yudas menasihatkan supaya orang-orang beriman membangun diri sendiri di atas dasar iman yang paling suci dan supaya tetap berdoa dalam Roh Kudus serta memelihara diri dalam belas-kasih Allah sembari menantikan rahmat dari Tuhan Yesus untuk hidup kekal (Yudas 1:21). Dan orang beriman juga didorong untuk berbelas-kasih kepada mereka yang ragu (goyah) dalam imannya dan perlu ‘menyelamatkan’ mereka ibarat merampasnya dari api (ayat 20-21). Bila Yudas Iskariot - yang kemudian mati bunuh diri – mengisyaratkan betapa harta kekayaan duniawi tak kunjung memuaskan, maka Yudas Tadeus, Saudara Tuhan, melalui suratnya menunjuk bahwa yang memberi kepuasan hati terdalam adalah pengalaman berdasarkan belas-kasih Allah.
Saudara-saudari, apa arti dan relevansi surat Yudas ini bagi kita terkait minggu-minggu Adven yang menandai awal musim Natal dalam konteks kehidupan kini? Dalam era digitalisme ini, marilah kita waspada dan cerdas menghadapi godaan-godaan hawa nafsu dan roh keserakahan serta ajaran-ajaran sesat dari pihak yang jualan Tuhan dan agama, yang menebar hoax dan kepalsuan. Marilah memelihara cara hidup yang baik dan benar melalui pikir dan tindak yang makin berpadanan dengan Firman Allah. Nyalakan ‘empat lilin Adven’ dalam hatimu yang turut melambangkan jerih-juang kita dalam perjalanan panjang penantian yang berisi: (1) pengharapan (hope); (2) cinta-kasih (love); (3) suka-cita (joy); dan (4) damai sejahtera (peace). Kiranya lilin-lilin kehidupan kita disempurnakan oleh Yesus sebagai Terang dunia (Yoh. 8:12) dan Surya kebenaran (Maleakhi 4:2). Bagi orang-orang beriman pada-Nya, kedatangan-Nya kelak bukan lagi menakutkan, tetapi menjadi masa kasih karunia (grace time). Martin Luther (1483-1546) pernah berkata, ‘andai-kata saya tahu bahwa besok dunia ini akan hancur-lebur, saya masih hendak menanam pohon apel’ (Even if I knew that tomorrow the world go to pieces, I would still plant my apple tree). Artinya, marilah terus bekerja melakukan yang terbaik kita ‘selagi hari masih siang’. Sembari menanti kedatangan-Nya, bertobatlah dan nyatakan belas-kasih-Nya. Salam Adven songsong Natal Raya 2018. *AAZS*

wajah web201903