Selamat Hari Natal 2018

 

HKBP Yogyakarta Online

Suatu Renungan Khusus Natal 2018

‘Menemukan Natal yang Hilang’

Saudara-saudari yang dikasihi oleh Yesus Kristus. S’lamat Natal! Horas Natal! Peristiwa Natal yaitu  Allah berkenan semakin dekat dengan manusia (Immanuel). Allah mengunjungi dan masuk kedalam perkara hidup manusia untuk menyatakan Hikmat-Nya yang memuncak melalui peristiwa Yesus Kristus dan menjadi berita kesukaan besar (Injil) bagi segenap bangsa (Luk. 2:11). Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) bersama Konferensi Wali-Gereja Indonesia (KWI) mengusung Tema Natal Nasional 2018: Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita (1Kor. 1:30a). Yesus menyatakan Hikmat-Nya melalui pemberitaan Injil dan tindakan belas-kasihNya untuk menguduskan dan menebus kita bersama ciptaan. Terkait hal ini, Rasul Paulus berkata: ‘Tetapi oleh DIA kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi HIKMAT bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita’ (1Kor. 1:30). Karena itu, kita diajak menjadi pribadi berhikmat dan kita sekarang butuh pemimpin dan wakil rakyat yang berhikmat dan solider, yang sejalan dengan sila ke-4 dan ke-2 Pancasila.
    Saudara-saudari, dengan semangat dan suka-cita Natal, marilah kita bersyukur kepada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus serta memohon agar kita dimampukan untuk menemukan dan memaknai-ulang pesan Natal - yang mungkin hilang – di era digital ini, a.l.: sbb:
(1)    Solidaritas (kesetia-kawanan) mendalam dari Allah yang semakin dekat dengan manusia melalui pengorbanan-Nya dengan menawarkan keselamatan (Flp. 2:5-11; Yoh. 1:1+14; 3:16). Karena itu, kita diajak agar semakin berbelas-kasih, berbela-rasa, dan peduli dalam lingkungan keluarga, Gereja, masyarakat, bangsa, dan dunia yang dilanda penderitaan dan kekerasan.
(2)    Sederhana (ugahari) dan bersahaja. Yesus datang dalam kesederhanaan, bukan dalam kemewahan; kedatangan-Nya tidak heboh, tapi dalam keheningan malam. Pemberitaan gerejawi terus menyerukan agar perayaan Natal diselenggarakan secara ugahari namun bermakna. Mari kita jaga agar perayaan Natal tidak tersandera oleh materialisme yang mengurangi makna spiritual Natal. Kiranya cahaya komersialisasi tidak mendominasi dan cahaya TUHAN menjadi ‘bayang-bayang’.
(3)    Introspeksi dengan berdiam diri sesaat dalam keheningan untuk meneladani Maria yang menempatkan diri dalam sikap ketersediaan menyambut kehadiran Yesus Kristus, Anak Allah,  dalam kehidupan nyata, dalam keseharian tubuh dan jiwa. Dan juga hendak meneladani Yusuf agar kita selalu bersedia mencari kehendak Allah dan kemudian mengikuti-Nya dengan percaya sepenuh hati di tengah dunia yang sarat goda, noda, dan hoax (kepalsuan).
(4)    Inklusif dan tidak eksklusif. Sebab keluarga Maria-Yesus-Yusuf menerima dan merayakan perbedaan dengan menyambut kehadiran orang-orang Majus dari Timur (non-Yahudi) yang mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur (Mat. 2:11). Ini mengisyaratkan agar kita juga sanggup menerima kemajemukan sosial, agama, dan budaya di Indonesia dan dunia, kendati tahun 2018 ini – terus terang – masih menampakkan rangkaian intoleransi beragama yang disertai kekerasan dalam relasi antar umat di dunia ini. Karena itu, dengan Natal Kristus, mari menampakkan sisi-sisi terang dan damai. Perlu kita ingat bahwa keluarga Maria-Yusuf dan Bayi Kudus adalah keluarga ‘pengungsi Timur Tengah’ pada zamannya.
(5)    Waspada terhadap ‘Herodes ganas’ gaya modern di era (peradaban) digital ini yang dengan mudah dan cepat untuk jualan Tuhan dan agama dengan menebar hoax dan kepalsuan, demi takhta dan harta. Di tengah kehidupan sosial masa kini yang kecanduan teknologi digital (smartphone), maka kiranya kita perlu ‘diet teknologi’ dan ‘detoksifikasi digital’ supaya kita punya waktu teduh memaknai keheningan dan kesederhanaan Natal. Marilah berhikmat dan cerdas menghadapi situasi dan kondisi sosial-politik-ekonomi-budaya Indonesia ke depan, karena Yesus telah menjadi Hikmat bagi kita. God bless and keep Indonesia.  Salam Natal.  *AAZS*

wajah web201903